Lembride : Cerpen Panji Pratama

7

Lembide*): Cerpen Panji Pratama

 

Ambar memberi tahu bahwa hari sudah hampir subuh. Kedua mata Risma bengkak setelah menangis semalaman. Setelah kejadian kemarin, mereka kembali masuk hutan dan membangun kemah alam dari reranting pohon untuk beristirahat.

Laki-laki itu duduk dengan tangan memeluk perempuan sendu itu; berusaha membuatnya sedikit hangat. Ambar pun tidak bisa tidur nyenyak. Dia waspada berketerusan, memandang kegelapan tak bernama dengan lantunan burung hantu yang memilukan.

Seusai sore kemarin menyaksikan penemuan jasad Mak Isah, sang ibu, tubuh Risma bergegar tak karuan. Apalagi, hujan turun terus-menerus setelahnya. Bayangan banjir bandang kembali menghantui dirinya dan suami. Bahkan, mereka tidak bisa menyalakan api karena semua kayu bakar terlalu basah. Pun baju basah mereka yang tidak ada gantinya.

“Kau tayamumlah dulu, lalu salat subuh. Setelah agak terang, kita cari buah-buahan untuk menambah tenaga. Aku mendengar suara air sungai dari arah barat laut. Kita bisa menyusurinya. Jika beruntung, esok pagi kita sudah lewat perbatasan Bener Meriah,” ujar Ambar takzim.

Risma mengangguk dan segera mencari tempat yang agak bersih untuk sembahyang. Kini, tak ada lagi alasan bagi perempuan rapuh itu untuk bangkit dari kepedihan. Dengan begitu, Ambarlah satu-satunya harapan dirinya. Mungkin, lewat laki-laki tersebut, Tuhan menjawab doa-doanya. Meski, dia tahu, tidak ada pilihan yang lebih melegakan juga. Pilihannya hanya pergi bersama Ambar dengan cara yang sangat berbahaya atau menyerahkan diri kepada rombongan kayu gelondongan terbawa banjir yang bisa datang kembali.

Siangnya, ketika atap rimba sudah cerah, mereka turun ke sisi sungai, lalu berjalan melewati bebatuan kali yang licin. Anak-anak sungai Blang Tampu di hulu sepertinya berupaya kembali bening secara alami setelah bencana bandang seminggu lalu. Selokan-selokan kecil dari mata air di balik bebatuan menyatu menuju aliran yang besar. Arus sungai kembali damai, tidak terlalu kencang dan bergemuruh, tetapi masih membawa pertanda bahwa bagian tengah sungai tetaplah dalam dan mematikan. Mereka berhenti sejenak, saat menemukan buah durian yang hanyut tersangkut di sisi sungai.

“Makanlah. Biar aku cuci muka dulu,” Ambar berseru, kemudian meloncat ke sebongkah batu yang agak besar untuk mencuci badan.

“Kau dengar sesuatu?” kata dia lagi.

Risma menggeleng pelan. Kunyahan duriannya dihentikan sejenak, lalu berdiri. Dia mencoba memperhatikan bunyi-bunyian yang Ambar katakan barusan.

“Terdengar seperti suara mengalun. Bagai suara harpa.” Ambar meregangkan badan. Didengarkannya suara itu dengan lebih jelas. Terlebih banyak bunyi-bunyi lain seperti derik serangga dan umpatan simpanse yang muncul-tenggelam sehingga menutupi sumber suara yang mereka maksud.

Suara itu seolah datang dari jauh; lembut dan merdu. Perlahan mendekat dan lebih dekat lagi, hingga terdengar jelas dan jernih. Semacam alunan musik dari bus malam yang melewati wilayah sepi.

“Subanallah,” Risma bergumam. Ambar kembali ke samping Risma dan ikut terpana.

“Suaranya berasal dari sana. Ayo kita cek!” Ambar mengajak.

Sungai itu terbelah menjadi tiga jalur. Aliran yang besar mengalir lurus ke barat. Satu jalur yang berarus agak kencang membelok ke kanan, pastinya berpuluh kilometer lagi bermuara ke Selat Asia. Adapun aliran yang lebih kecil mengarah ke kiri. Suara mengalun tadi berasal dari belokan aliran air ke sebuah telaga kecil air tawar. Gejala alam ini sering disebut sebagai napas arus sungai. Lebih dari itu, air yang bersuara itu menyatu menjadi sebuah danau kecil yang indah.

Sepasang insan itu kian terpukau. Mereka berjalan ke tepian danau itu. Terdapat sebuah pohon rindang dengan padang ilalang di sekitarnya. Tanpa sadar mereka telah duduk berdampingan di bawah pohon itu sambil memandang danau.

“Kurasa, kita bisa sebentar melupakan kepedihanmu di tempat ini.” Ambar menghela napas panjang. Parang yang dibawanya untuk menembus hutan diletakkan begitu saja di samping batang pohon.

“Allah memang adil. Pulau ini memang penuh tragedi, tetapi tanah ini punya segala-galanya,” tutur Risma.
Perkataan itu membuat Ambar heran sekaligus tersenyum. Baru kali ini, dia mendengar Risma berbicara kembali dengan lepas. Kelegaan menyertai mereka.

Di tempat itu, langit bisa terlihat jelas. Tidak tertutup daun-daun lebat seperti di dalam rimba. Lebih banyak kupu-kupu dan suara angin semilir alih-alih lengkingan burung hantu mencari mangsa. Dan, di tempat itu Ambar bisa merebahkan diri hingga terlelap di samping Risma. Hingga gadis itu menatap dalam-dalam wajah Ambar. Sosok lelaki yang telah membawa banyak kisah baru, hingga bisa sedikit melupakan riwayat pilunya.

Lama sekali Ambar terlelap. Risma pun sudah cukup lama memadang wajah Ambar dengan lekat. Sesudah itu, beberapa detik Risma berpaling dan kembali memandang wajah laki-laki itu. Wajah Risma merona saat sadar Ambar sudah bangun, tetapi sengaja berpura-pura menutup matanya. Perempuan itu buru-buru mengajukan pertanyaan untuk menutupi salah tingkahnya.

“Boleh aku tanya sesuatu?” kata Risma mengalihkan pandangan.

“Ya. Tentu saja,” Ambar menjawab dengan bibir tersungging, tetapi masih dengan mata tertutup. Adapun lengannya dijadikan bantalan kepala.

“Apa kita akan mati?”

“Suatu saat. Bukan sekarang. Setelah aku bisa membuatmu tertawa dan kau bisa tersenyum lega.”

“Dan, kita masih akan terus ke utara?”

“Ya.”

“Oh. Baiklah!”

“Kenapa?”

“Tidak. Hanya …,” Risma menghela napas panjang sejenak, “boleh tanya lagi?”

“Tanyakan saja. Buat dirimu tenang dengan pertanyaanmu.” Kali ini Ambar membuka mata.

Tulisan Terkait

“Apa yang akan kau lakukan jika aku mati?”

Ambar bangkit, lalu membetulkan posisi duduknya. Kali ini, giliran Ambar menatap wajah Risma dengan penuh kedalaman.

“Jika kau mati, aku ingin mati juga!”

Risma menoleh ke arah sebaliknya. Kemudian menerawang jauh. Lahir secercah asa dalam lamunannya.

Tiba-tiba, dari arah ladang ilalang muncul sebongkah kepala reptil dengan gigi menganga. Kontan keduanya terperanjat kaget.

“Awas!” Ambar menarik badan, diikuti suara jeritan takut Risma. Seekor ular besar sebesar batang pohon berusia ratusan tahun mengatupkan rahangnya sepersekian detik setelah mereka berhasil loncat mundur.

Mereka menghindar ke belakang. Sayang, parang miliknya berada di balik pohon. Ambar memungut batang pohon seukuran lengan dengan cepat dan menyuruh Risma menjauh. Ambar memasang kuda-kuda untuk berhadapan langsung dengan reptil liar itu.

***

Tepat saat buaya lapar itu akan menerkam, puluhan peluru memberondong tubuh buaya dari jarak dekat. Darah merah kental memuncrat dari sekujur punggung sang buaya. Anehnya, Isah tidak beroleh lega. Kali ini, dia malah lebih khawatir. Lepas dari mulut buaya, masuk ke kandang macan.

Isah pernah menceritakan cerita dua dekade lalu ini kepada anaknya, Risma. Saat itu, Isah masih dikenal sebagai prajurit di kesatuan Inongbalee Wilayah Langkahan.

“Hahaha … ternyata selama ini kalian bersembunyi di sini. Benar dugaanku, para janda ini tak akan pergi jauh dari kampung halamannya. Bersyukurlah nyawa kalian kuselamatkan tepat waktu.” Seorang serdadu tergelak dengan moncong senapan mengarah ke salah satu askar inongbalee yang tersungkur.

Lima orang dari peleton penyerang pasukan gabungan telah berada di pinggir danau. Ternyata selama ini mereka sudah tahu keberadaan para askar inongbalee wilayah itu, hanya mereka mencari waktu yang tepat untuk menggelandang para perempuan pejuang itu dari persembunyian. Satu di antara tentara itu dikenal baik oleh Isah. Dialah Letkol Naigolan, mantan suami pertama Isah, yang kini menodongkan assault riffle ke mukanya.

“Aku sudah muak dengan kalian. Jika tidak karena perintah dari jenderal-jenderal keparat yang tidak pernah turun lapangan di seberang pulau sana, aku ingin habisi saja kalian saat ini juga. Agar tugas kami lebih ringan. Cih!” lelaki berkumis tebal itu menunjukkan roman teramat benci terhadap Isah dan kesatuannya. Apalagi, banyak anak buahnya tewas. Kebanyakan berkaitan dengan sepak terjang Isah di wilayah Langkahan.

“Kalianlah yang seharusnya mati,” Isah berteriak. Kemudian dia berontak dari dua serdadu pasukan gabungan yang menangkapnya dan lari untuk meraih badan letnannya yang masih terbaring karena terluka.

“Apa? Dasar kalian tidak tahu diuntung.” Seketika itu emosi Naigolan terlepas. Telunjuknya menarik pelatuk dengan penuh amarah.

Badan wanita yang tertembak di kaki itu berbalik memunggung, berusaha untuk melindungi Isah dari berondongan peluru. Mendadak senapan itu terlempar jauh ke semak ilalang.

Seekor ular raksasa sebesar pinggang orang dewasa dengan panjang hampir 40 kaki menyerang Naigolan beserta keempat anak buahnya dengan ganas. Seekor boa konstriktor, ular piton berukuran raksasa, menggeliat dengan trengginas. Ekornya mengibas salah seorang serdadu pasukan gabungan hingga terlempar ke danau. Binatang raksasa itu bergerak cepat menghindar kepungan peluru. Erangan demi erangan malah didapatkan para serdadu pasukan gabungan ketika ular itu melilit dan meremukkan tulang iga mereka.

Hingga tersisa Naigolan seorang. Ular itu mengangkat kepalanya dan mendesis tepat di depan kepala sang letkol. Laksana seekor naga yang mengeluarkan bara api dari mulutnya, cipratan lendir diludahkan ular raksasa itu. Namun, itu tidak cukup beracun untuk membunuh sang letkol.

Naigolan melotot dan terpana. Dia mundur dengan gaya kayang, lalu pergi menebas semak ilalang. Ular itu tidak mengejarnya, malah berbalik menghampiri dua sisa pasukan inongbalee itu.

Kedua perempuan itu berpelukan untuk saling menguatkan. Anehnya binatang melata itu tidak melakukan hal yang sama seperti kepada para serdadu pasukan gabungan anak buah Letkol Naigolan. Ular besar itu hanya mendesis, memandang kedua manusia itu dengan tatapan mengherankan, lalu menenggelamkan diri ke dalam danau dengan tenang.

“Lembide ….,” kata Naigolan sambil berlari.

“Hah?” Masih dengan keadaan yang syok, Isah menatap bingung.

***

Ular aneh sebesar tong solar itu merangkak maju. Taring-taringnya berkilatan seolah hendak melahap. Ambar meloncat-loncat seperti menjangan yang akan menjadi korban. Dalam satu entakan kaki, Ambar menaiki punggung ular itu sambil hendak menghujamkan batang kayu berujung runcing yang tadi dipungut. Risma berteriak khawatir dari kejauhan.

Ular itu seolah menggeram dan melempar Ambar hingga terjerembap. Ambar sulit bangun karena pergelangan kakinya terkilir saat jatuh. Ular itu mendekat dengan sigap.

“Berhenti …” teriak Risma.

Mendadak ular itu mematung, menatap Risma, dan mengatupkan rahangnya. Tidak seberapa lama kemudian, dia melata meninggalkan mereka masuk ke dalam sungai yang mulai kembali keruh warnanya.

“Dia makhluk yang sering dikisahkan Mak Isah dalam dongengnya. Dan, Teungku Bantaqiah, selalu dikaitkan dengan sosok makhluk itu. Lembide, sang penjaga sungai.”(*)

***
Kota Kinabalu, 18 Desember 2025

*) Cerita ini terinspirasi dari salah satu bab novel “Perempuan Sehabis Gelombang” karya Panji Pratama.

Panji Pratama menulis prosa, esai, dan sajak. Karyanya diterbitkan di beberapa media cetak dan daring di Indonesia dan Malaysia, seperti Republika, Pikiran Rakyat, Utusan Borneo, Maarifnujateng.or.id, Nongkrong.co, Ngewiyak.com, Janang.id, Harakatuna.com, Suarakrajan.com, Ghibahin.id, Salik.id, Rembukan.com, Tirastimes.com, dan lainnya. Buku Kumpulan Puisinya berjudul “Syafaat Rerumputan” berhasil memenangkan penghargaan pada Hadiah Puisi K. Bali, Sabah, Malaysia tahun 2024. Kini, penulis tinggal di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan