Pertobatan Mami: Cerpen Rusmin Sopian

23

Wajah perempuan setengah baya itu yang dipanggil Mami oleh para perempuan-perempuan muda itu tampak sumringah bak baru mendapatkan warisan yang besar.

Suara musik yang menggetarkan ruangan menambah kebahagiaan di wajah tuanya. Cahaya rembulan makin meninggi.

Dalam ruangan yang penuh hiasan lampu warna-warni dengan balutan alunan suara musik keras, para pengunjung tampak asyik dengan aksinya. Ada yang menari. Ada yang berjoget. Ada yang mengandeng perempuan muda. Semuanya berbaur dalam satu kenikmatan semu.

Mami tampak sibuk mengatur para perempuan muda yang berdandan ala bidadari. Di wajah para perempuan muda itu tersimpan sejuta asa. Ada yang bahagia.
Ada yang bermimik sendu. Bahkan ada yang berwajah seolah-olah tak berdosa.

“Kalian harus bisa memberikan pelayanan prima kepada pelanggan. Buat para pelanggan kita bahagia dan betah di tempat ini. Kalau para pelanggan bahagia, uang akan mengalir deras ke kantong kalian. Mengerti?” Demikian wejangan Mami kepada anak asuhnya.

Para perempuan muda yang diberi wejangan terdiam. Seolah-olah mengerti dengan wejangan perempuan setengah baya itu. Seakan-akan memahami makna dari wejangan itu. Mereka lalu membubarkan diri usai mulut Mami berhenti berbicara.

Sudah tiga tahun, Mami mengelola tempat hiburan malam yang terletak di sudut Kota yang baru mulai menggeliat.

Pengalamannya sebagai perempuan malam di Kota besar membuat otaknya berekpresi dengan mengelola tempat usaha hiburan malam berbekal sisa-sisa uang yang dimilikinya usai tercampakkan sebagai penggoda.

Tak ada terlintas dalam benaknya untuk berhenti dan tobat dari kegiatan penggoda malam yang bertaburkan bintang. Tak ada sedikit pun kendati begitu banyak kawan, sahabat bahkan orang terdekatnya yang menasehatinya.

“Apa kalian tahu bagaimana penderitaan saya ketika dipaksa melacur saat saya masih ingin bersekolah?” tanyanya dengan nada geram saat mendengar wejangan dari para kerabat dan sahabatnya.

“Kehidupan saya hancur karena melacur dan menjadi wanita penggoda. Semuanya karena saya miskin,” sambungnya dengan nada ketus.

Jawaban Mami mengheningkan suasana pertemuan malam itu. Hanya desah yang keluar dari mulut para sahabatnya. Tak kuasa melawan keinginan Mami, sahabat mereka.

Dikala muda, Mami dikenal sebagai perempuan dengan tingkat kecantikan yang berkelas. Wajah bak artis sinetron. Badannya yang tinggi semampai dibalut kulitnya yang putih bersih membuatnya menjadi bunga Desa.

Tak heran banyak pemuda Desa yang mengidolainya. Mereka tergila-tergila dengan kecantikan Mami. Kaum pria baik tua dan muda mengaguminya. Tak terkecuali Pak Kades yang telah beristri. Beragam usaha dilakukan Pak Kades untuk mencuri hati Mami. Namun jalan yang ditemuinya selalu buntu.

Mami masih sangat ingat, bagaimana usai pulang sekolah, dirinya dijemput staff Desa di halaman sekolahnya dengan alasan Ibunya sakit. Dengan rasa keterpaksaan yang berbalut kecurigaan, mami akhirnya terpaksa ikut naik mobil Staff Desa yang menjemputnya.

Namun bukan arah pulang ke rumah yang dilaluinya.

Mobil yang mereka tumpangi menuju ke sebuah penginapan. Disebuah kamar penginapan klas melati itu telah menunggu Pak Kades dengan wajah sumringah. Wajah penuh kemenangan. Wajah penuh syawati yang bergelora.

Sia-sia usaha Mami melawan kodrati syahwat Pak Kades yang telah menggelora hingga ke ubun-ubun.

Malam itu dirinya harus melepaskan kehormatan dirinya sebagai seorang perempuan. Martabatnya sebagai perempuan terkoyak-koyak. Walaupun Pak Kades bersedia untuk memperistrinya, namun Mami selalu menolaknya.

” Saya siap mempertanggungjawabkan semua ini,” ucap Pak Kades dengan wajah gembira.

Berita Lainnya

” Pak Kades sudah mendapatkan kehormatan saya. Tak perlu Pak Kades mempertanggungjawabkannya. Bukankah selama ini Pak Kades hanya ingin menikmati tubuh saya?,” jawab mami dengan nada suara ketus.

Pak Kades cuma terdiam.

Usai malam penuh kegelapan itu, dendamnya kepada para lelaki, termasuk Pak Kades mengaliri darah nuraninya.

Usai malam jahanam itu, Mami bertekad untuk menenggelamkan dirinya sebagai wanita penggoda. Hampir semua lelaki dewasa di Desanya digodanya. Dan buntutnya mereka harus bentrok dengan para istrinya. Bahkan ada yang harus bercerai dengan para istrinya.

“Saya telah bertekad untuk menjadi penggoda para lelaki hidung belang itu,” ungkapnya kepada teman-temannya.

“Apakah itu jalan terbaikmu dalam mengarungi hidup yang singkat ini?” sela seorang sahabatnya.
Mami terdiam.

Dendam kesumat yang terekspresi dalam otak besarnya menggerakkan jiwanya untuk selalu dendam dan dendam kepada semua lelaki.

Siang itu, usai suara azan Zuhur berkumandang dari corong pengeras suara masjid terdekat, wajah Mami mengekspresi kegelisahan yang seolah-olah tak terperikan. Ada rasa sesal yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

Ada rasa penyesalan diri yang mengalir ke dalam seluruh tubuhnya sebagai manusia. Dirinya tertegun saat menyaksikan seorang anak buahnya, Wanita penggoda itu sholat. Hatinya tergetar. Jiwanya terusik. Nuraninya tergoda.

“Walaupun saya penuh noda dan dosa, namun sebagai umat manusia saya harus berbakti kepada Sang Pencipta dengan sholat,” ujar anak buahnya.

“Apakah dosa saya dan kita diampuni Sang Maha Pencipta?,” tanyanya dengan nada suara bergetar.

“Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pemaaf atas segala perbuatan hambanya selama hambanya ingin bertobat,” ungkap anak buahnya.

Para pengunjung tempat hiburan malam di sudut Kota gempar dan dilanda kehebohan yang luar biasa.

Bagaimana tidak gempar dan heboh, saat mereka hendak memuaskan nafsu syahwatinya di tempat hiburan malam itu, terpampang tulisan dibangunan sederhana itu sebuah tulisan yang menyatakan bahwa lokasi tempat hiburan itu tutup dan akan dijadikan pesantren.

Sementara di kejauhan malam terdengar suara Mami sedang memohon ampunan atas segala dosanya kepada Sang Maha Pencipta atas segala kesalahannya. Air matanya menetes membasahi ubin masjid. Mengalir hingga membasahi seluruh tubuhnya yang berbalutkan mukena.

Malam makin merentah dengan kebeningan cahaya melankolisnya. Sebening hati Mami menatap masa depannya yang baru dengan kehidupan baru sebagai pengelola pesantren. Dan bukan sebagai manusia pendendam. Apalagi penggoda.

Mami adalah manusia baru dengan kehidupan barunya.

Toboali, Agustus 2025

Rusmin Sopian adalah penulis dan pegiat literasi di Toboali Bangka Selatan. Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung. Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek seorang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.

Dapat dihubungi melalui akun medsos
FB @RusminToboali
Ig @RusminToboali

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan