Tatapan matanya menyiratkan arti lain yang tersembunyi. Aku tak lagi merasakan getaran itu di wajah perempuanku. Rasanya daun-daun di pohon cinta yang kami tanam akan gugur sebentar lagi. Lalu, bertebrangan disapu angin menembus berbagai penjuru. Jatuh. Barangkali tak akan pernah bertumbuh.
“Reno!” Naila memanggilku.
Aku berusaha tersenyum semanis mungkin. Namun, konsep daun gugur dan tak akan tumbuh lagi terus berjalan di pikiranku.
Aku ingin sekali menanyakan arti tatapannya yang seperti dibuat-buat agar aku betah di sampingnya. Tiba-tiba Apin membaur di antara kami. Kontan saja, pertanyaan itu menguap.
Apin membantu Naila berdiri dari kursi roda. Ia juga menyuapi Naila. Anehnya, Naila tak memerotesnya sedikit pun. Kutatap Naila dengan tajam membuat suasana benar-benar tidak nyaman.
“Maaf, Mas. Bukan maksud, saya …,” tukas Apin, gelagapan.
Aku berusaha tersenyum, mengerti perlakuannya. Apalagi selama tiga bulan masa perawatan Naila di rumah sakit, lelaki itu yang menjaga. Aku terlalu disibukkan oleh rutinitas sebagai sutradara. Selain itu, Apin sendiri menawarkan diri untuk menjaga Naila sekaligus menjalankan wasiat dari Sari.
Selama tiga bulan Naila mengalami tekanan yang begitu berat setelah mengetahui nama Sari berada di daftar penumpang pesawat kecelakaan. Naila dan aku telah merencanakan miniseri yang akan dimainkan keduanya. Aku bahkan telah membentuk tim penulis agar ceritanya bisa membekas di benak penonton. Sayangnya, kaki Sari tak pernah sampai di Jakarta. Pesawat yang ditumpanginya mendarat bukan di tempat semestinya.
Saat kabar itu hadir, Naila disangka sebagai pembawa sial lantaran mengajak bunga desa itu ke Jakarta. Kemudian, sosok Apin muncul di layar kaca. Ia menceritakan semua kebaikan Naila kepada Sari semasa hidup. Ia merasa bahwa kecelakaan yang menimpa Sari adalah takdir yang harus dijalani.
Ajaibnya, penuturan Apin di layar kaca membuat orang-orang tersadar. Mereka kembali menguatkan Naila melalui komentar-komentar di Instagram. Mereka juga meminta agar ketika Naila sadar untuk dipasangkan di miniseri bersama Apin. Komentar tersebut membuat aku menyimpan cemburu. Namun, produser rumah produksi tempatku bernaung mengaminkan harapan itu.
“Mas Reno, saya pamit undur diri,” ujar Apin.
Aku mengangguk. Lalu, menunggu tubuhnya benar-benar hilang dari hadapan mata.
“Aku suapin kamu ya!”
Naila mengangguk. Tanganku langsung menyuapkan satu demi satu sendok bubur ayam. Bubur ayam ini tak langsung diaduk seperti orang kebanyakan di luar sana. Naila lebih menyukai memakan bubur dari pinggir, lalu memakan bagian tengah yang memiliki banyak toping.
“Nai!” panggilku sambil terus menyuapinya.
Naila berdeham. Ia seolah-olah ingin memberikan tanda agar aku terus berbicara.
“Selama tiga bulan dijaga oleh Apin, kamu memiliki getaran itu?”
Sejujurnya aku tak ingin mengatakan kalimat tanya itu. Namun, pikiranku seperti terus memaksa. Jika Naila menyukai Apin, aku harus menerima kenyataan. Bukankah puncak sayang tertinggi adalah menerima orang yang disayang berbahagia meski bukan dengan diri kita sendiri.
“Ren!”
Kini, giliran Naila memanggilku. Ia memegang tanganku begitu erat. Matanya yang hitam bulat menatapku dengan lekat tanpa berbicara. Namun, tatapannya sudah mengarah pada kalimat demi kalimat yang akan begitu jelas. Rasa cintanya benar-benar jatuh bersama daun-daun yang pohonnya meranggas.
“Maafkan aku.”
Dua kata itu yang keluar dari bibir manisnya setelah sekian menit yang hilang di antara kami. Aku mengganguk pasrah.
“Aku akan tetap membantumu sebisaku,” ungkapku membuat Naila tersenyum.
****
Seminggu kemudian, aku dan Naila kembali melanjutkan hidup penuh tipu-tipu. Kami sepakat untuk tidak memublikasikan status hubungan yang telah kandas. Kami malah berusaha mesra di berbagai kesempatan. Termasuk di hari penayangan pertama miniseri Naila saat syuting di lereng Bromo. Apalagi, banyak wartawan yang mengagumi kami sebagai pasangan yang saling menguatkan.
Di hari penayangan itu, Apin juga turut serta. Lelaki eksotis itu turut menjadi pusat perhatian wartawan, selain aku dan Naila. Para wartawan yang datang juga menanyakan kesiapan judul miniseri Apin dan Naila kepadaku. Menanggapi pertanyaan itu, aku hanya tersenyum dan meminta doa.
Salah satu wartawan kembali mencecar pertanyaan. Ia seperti ingin memastikan kecemburuanku yang mungkin timbul saat Apin harus beradu akting dengan Naila. Mendengar pertanyaan itu, darahku benar-benar mendidih. Bara di wajahku langsung muncrat seketika. Naila langsung memelukku. Ia membisikkan bahwa aku harus mengontrol emosi.
“Kita harus jaga image, ingat itu!” bisik Naila begitu pelan.
Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, aku langsung menurut. Kupasang wajah penuh senyum. Namun, kuyakin ekspresi tadi telah terekam kamera.
“Nah, kalian tadi melihat ekspresi saya kan. Mata memerah. Wajah penuh amarah,” ungkapku lalu mengambil napas sejenak. “Mungkin itu yang akan terjadi pada saya ketika nantinya tahu Naila berpaling pada lelaki lain. Akan tetapi, saya kemudian tersenyum bukan? Nah, itu langkah selanjutnya yang akan saya ambil. Saya akan terus tersenyum apa pun pilihan Naila. Jika ia memang harus menjadi milik orang lain nantinya. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik.”
Jawaban itu langsung disambut oleh tepuk tangan para wartawan. Selepas itu, kami memutuskan untuk undur diri dari konferensi pers itu. Langkah kami selanjutnya adalah menonton tayangan miniseri itu di kantor rumah produksi.
Rumah produksi kami memiliki mini bioskop. Biasanya kami menonton tayangan miniseri atau sinetron di ruangan kedap suara itu. Aku duduk di bangku paling atas bersama Naila dan pihak pimpinan rumah produksi. Sementara, Apin duduk di bangku paling atas nomor dua setelahnya.
Naila yang menonton dirinya sendiri berakting di lereng Bromo sesekali bersedih. Ia seperti kembali mengingat luka lama. Aku meraih tangan perempuan itu mencoba untuk menguatkan. Sayangnya, kesedihan itu tak lekas hilang.
Anehnya, ketika wajah Apin menengoknya. Naila tersenyum begitu senang. Seolah-olah rasa sedihnya hilang lantaran penghapus kesedihan menatap wajahnya. Melihat kenyataan itu, ingin rasanya aku mengumandangkan ke berbagai pihak bahwa hubungan kami telah berakhir. Namun, jika melihat para fans, aku takut ada banyak air mata yang tergenang. Aku juga takut tawa dari orang membaca kisah ini yang kalah.
Aku hanya bisa berusaha berpura-pura demi nama baik yang harus dijaga. Setidaknya sampai miniseri selanjutnya yang diperankan Apin dan Naila sukses di layar kaca. Sebelum itu, aku harus menahan kepura-puraan atas romantisme yang sebenarnya tak terselenggara. Atau barangkali kepura-puraan ini akan menghasilkan getaran kembali sehingga tak perlu memberitakan kandasnya sebuah kisah.
Gusti Trisno, mahasiswa S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang bernama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi. Pada tahun 2024 lalu, ia terpilih sebagai Residensi Penulis Cerita Anak di Daerah 3T. Dari kegiatan tersebut, ia menghasilkan novel berjudul Laut Suara dan Para Penjaga Damar yang sebentar lagi akan terbit. Ia sering membagikan tip menulis di Instagram @gustitrisno dan situs web www.gustitrisno.com. Nomor rekening BRI cabang Panarukan 6533-01-007484-53-9 atas nama Sutrisno Gustiraja Alfarizi.