Lima Dekade Menjaga Persahabatan dengan Sastrawan M. Husnu Abadi: Dari Kreativitas Sastra Hingga Kemanusiaan

3

Lima Dekade Menjaga Persahabatan dengan Sastrawan M. Husnu Abadi: Dari Kreativitas Sastra Hingga Kemanusiaan

Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

PERJALANAN waktu, melahirkan banyak persahabatan yang lahir lalu pudar. Ada yang retak karena perbedaan jalan hidup, ada yang perlahan menghilang karena jarak, kesibukan, bahkan perubahan zaman. Namun, ada pula persahabatan yang justru semakin kokoh seiring usia. Ia tidak hanya bertahan oleh seringnya pertemuan, tetapi dipelihara oleh kesamaan jiwa, gagasan, dan ketulusan hati. Persahabatan seperti itulah yang selama hampir lima dekade saya jaga bersama sastrawan M. Husnu Abadi.

Kalau pertemuan dimaknai bukan sekadar tatap muka, maka sesungguhnya saya sudah “bertemu” dengan Husnu sekitar tahun 1975. Saat itu saya masih remaja yang sedang giat-giatnya mengirim tulisan ke media massa. Cerita anak-anak saya pernah dimuat di Halaman Panji Anak-anak, suplemen majalah Panji Masyarakat. Tulisan itu saya kliping dengan bangga. Namun di sebalik halaman yang sama, terdapat tulisan seorang penulis bernama Husnu Abadi. Nama itu belum saya kenal secara pribadi, tetapi diam-diam mulai akrab lewat dunia kata-kata.

Barangkali begitulah sastra bekerja. Ia mempertemukan manusia jauh sebelum mereka berjabat tangan. Setelah tamat SMA di Bengkalis tahun 1979, saya mencoba peruntungan melanjutkan pendidikan tinggi. Saya sempat mengikuti ujian Proyek Perintis I di Universitas Andalas dengan memilih Fakultas Kedokteran. Namun jalan hidup ternyata berkata lain. Saya tidak lulus. Pilihan kemudian jatuh ke Fakultas Perikanan di Universitas Riau, sebuah jurusan yang masih memiliki aroma ilmu-ilmu IPA.

Meski demikian, hasrat terbesar saya sesungguhnya tetap berada di dunia sastra. Saya terus menulis artikel, esai, puisi, cerita anak dan remaja, cerpen, hingga resensi buku di berbagai media cetak. Dunia kepenulisan pada masa itu memberi ruang yang luas bagi anak-anak muda untuk berkembang. Honorarium tulisan yang saya terima bahkan cukup untuk membantu membiayai kuliah selama beberapa semester. Hampir tiap minggu tulisan saya dimuat di surat kabar maupun majalah.

Dari aktivitas sastra itulah akhirnya saya benar-benar dipertemukan dengan Husnu Abadi. Saat itu usia kami terpaut sekitar sembilan tahun. Husnu sudah bekerja sebagai sales marketing farmasi sambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau. Pertemuan demi pertemuan dalam berbagai kegiatan sastra perlahan melahirkan kedekatan emosional yang sulit dijelaskan. Kami merasa memiliki “chemistry” yang sama sebagai sesama penulis yang hidup dengan idealisme.

Husnu (kiri) dan Fakhrunnas tahun 1980.

Pada masa itu, Pekanbaru belum seramai sekarang. Dunia sastra hidup dengan kesederhanaan namun penuh gairah. Kami sering bertemu dalam acara baca puisi, diskusi sastra, kumpul-kumpul ala seniman, atau menjadi juri lomba baca puisi dan cerpen di sekolah-sekolah maupun kampus. Dari ruang-ruang sederhana itulah persahabatan kami bertumbuh.

Kami juga sering saling mengunjungi rumah masing-masing. Husnu yang telah menikah dengan perempuan bernama Yustitia—yang akrab saya panggil Kak Yus—tinggal di rumah mertuanya di Jalan Perkutut kawasan Sukajadi. Dijamu makan dan minum di rumah kami masing sudah jadi kelaziman.

Sementara saya masih lajang dan tinggal bersama orangtua di Jalan Pepaya, kawasan yang sama. Jarak rumah yang tidak terlalu jauh membuat hubungan kami semakin akrab.

Saya sering bercanda memikirkan bagaimana nama Yustitia yang identik dengan dunia hukum seakan sudah menjadi pertanda jalan hidup Husnu yang menekuni Fakultas Hukum. Kehangatan keluarga mereka membuat saya merasa seperti keluarga sendiri. Saya dikenal baik oleh Kak Yus dan kedua orangtuanya. Begitu pula Husnu sangat akrab dengan kedua orangtua saya.

Di situlah saya menemukan satu kesamaan mendasar di antara kami: latar belakang keluarga religius. Ayah Husnu, KH. S. Habib Adnan, adalah seorang ulama dan pernah menjadi Ketua Umum MUI Provinsi Bali. Sedangkan ayah saya, Buya Mansur Abdul Jabbar, juga seorang ulama yang pernah menjadi Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Riau di samping menjalani karier birokrasi.

Atmosfer religius yang tumbuh dalam keluarga kami tanpa sadar memengaruhi karya-karya sastra yang kami lahirkan. Banyak puisi yang kami tulis bernuansa spiritual dan reflektif. Bahkan sastrawan Wirawan Sandra Wiraatmaja pernah menulis di majalah Horison dan menyebut saya bersama Husnu sebagai sastrawan religius.

Bagi kami, sastra bukan sekadar permainan estetika bahasa. Sastra adalah jalan pencarian batin.
Kerja sama saya dengan Husnu semakin intensif ketika kami mulai terlibat dalam proyek-proyek sastra bersama.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami menjadi juri lomba baca puisi di sebuah masjid kawasan Sukajadi. Saat itu hujan turun sangat deras. Peserta lomba mencapai sekitar seratus orang sehingga acara baru selesai menjelang tengah malam.

Ketika kami menuju sepeda motor milik Husnu yang diparkir di halaman masjid, kendaraan itu hampir tenggelam oleh genangan air.

Motor tidak bisa dihidupkan. Mau tidak mau kami menyeret motor itu ratusan meter menuju jalan yang tidak tergenang.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Ironi Sri Mulyani: Catatan Cak AT

Kini jika dikenang, peristiwa itu terasa lucu sekaligus mengharukan. Dua anak muda pencinta sastra yang pulang tengah malam sambil mendorong motor di tengah hujan demi sebuah lomba puisi. Tetapi justru pengalaman-pengalaman sederhana seperti itulah yang mempererat persahabatan kami.
Kedekatan kami semakin kuat karena sama-sama menyukai dunia organisasi.

Tahun 1980 menjadi salah satu tonggak penting perjalanan kami ketika menerbitkan Antologi Puisi Pekanbaru ’80. Buku sederhana dalam bentuk stensilan itu menghimpun karya sekitar tiga puluh penyair lintas generasi di Riau.

Kami mengetik naskah bersama-sama. Proses stensilan dilakukan malam hari di sebuah apotek tempat Husnu bekerja. Di tengah keterbatasan teknologi masa itu, kami mengerjakan semuanya dengan penuh semangat. Tak ada komputer, tak ada internet, bahkan mesin ketik pun digunakan bergantian. Namun dari kesederhanaan itulah lahir sebuah karya yang kemudian terasa monumental bagi perkembangan sastra di Riau.

Antologi itu menjadi semacam penanda penting tumbuhnya kreativitas para penyair muda Pekanbaru kala itu. Setelah itu kami kembali menerbitkan buku puisi bersama berjudul Di Bawah Matahari tahun 1981. Buku itu juga masih berbentuk stensilan dan saya ikut mendesain sampulnya.

Setahun kemudian, tahun 1982, terbit lagi antologi puisi bersama berjudul Matahari Malam, Matahari Siang yang diterbitkan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Riau. Penerbitannya diprakarsai sastrawan Armawi KH yang kala itu bekerja di instansi tersebut.

Melihat kembali buku-buku lama itu hari ini seperti membuka jendela waktu. Di balik halaman-halamannya tersimpan semangat muda yang menyala-nyala: keyakinan bahwa sastra bisa mengubah cara manusia memandang kehidupan.

Dalam dunia organisasi, kami juga sering berjalan beriringan. Ketika penyair Ibrahim Sattah mendirikan Yayasan Puisi Nusantara (YPN) pada 1979, dibentuk pula Bilik Kreatif YPN sebagai ruang aktivitas seni dan sastra. Husnu ditunjuk sebagai ketua, sedangkan saya dipercaya menjadi sekretaris.

Hal serupa terjadi ketika dibentuk Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) Riau. Lagi-lagi Husnu didaulat sebagai ketua dan saya sebagai sekretaris. Menariknya, organisasi HSBI di Riau masih bertahan hingga hari ini, menjadi bukti bahwa idealisme budaya yang kami rawat sejak muda ternyata tidak sia-sia.

Dalam banyak hal, saya dan Husnu saling melengkapi. Kadang saya lebih aktif memacu kreativitas dan produktivitas berkarya, sementara Husnu memiliki kemampuan membangun jejaring dan menjaga keberlangsungan organisasi. Kami belajar bahwa persahabatan bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana dua manusia saling menguatkan.

Husnu dan istri, Yustitia (kiri) dan Fakhrunnas bersama istri Tutin Apriyani

Waktu berlalu sangat cepat. Rambut gondrong khas tahun 1970-an kini tinggal kenangan. Banyak kawan seperjuangan telah menua, sebagian telah pergi meninggalkan dunia. Tetapi hubungan kami tetap terjaga.

Kami berdua bersama sejumlah kawan mendirikan Yayasan Taman. Namun yayasan ini hanya bertahan 2-3 tahun dengan aktivitas mengadakan acara sastra di halaman Taman Budaya Riau. Pernah pula kami membentuk lembaga sosial bidang lingkungan hidup bernama Kokalhi (Komite Kajian LH). Waktu itu kami mengedukasi masyarakat korban Proyek PLTA Kotopanjang. Sering kami turun ke lapangan di beberapa desa korban seperti Muaramahat dll. Gara-gara kegiatan ini, telah mendekatkan kami dengan tokoh George Junus Aditjondro.

Kami masih saling berkomunikasi, saling membaca karya, dan tetap berbagi perhatian terhadap perkembangan sastra.

Kesinambungan berkarya itulah yang akhirnya mengantarkan kami memperoleh Anugerah Pengabdian 40 Tahun Bersastra dari Badan Pengembangan Bahasa dan Sastra pada tahun 2024. Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas karya sastra, tetapi juga menjadi penanda perjalanan panjang menjaga komitmen terhadap dunia literasi dan kebudayaan.

Namun bagi saya pribadi, penghargaan terbesar bukanlah piagam atau seremoni. Penghargaan terbesar adalah kemampuan mempertahankan persahabatan selama setengah abad tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang.

Foto lama yang masih tersimpan menghadirkan kembali kenangan masa muda kami. Dua anak muda dengan rambut gondrong, wajah penuh mimpi, dan mata yang memandang masa depan dengan idealisme besar. Kami mungkin tidak pernah membayangkan bahwa persahabatan itu akan bertahan hingga puluhan tahun kemudian.

Kini usia telah membawa kami ke fase kehidupan yang berbeda. Tetapi ketika berbicara tentang sastra, kenangan, dan perjalanan hidup, rasanya kami tetap seperti dua anak muda yang dahulu berjalan menyusuri gang-gang Sukajadi sambil membicarakan puisi, buku, dan masa depan kebudayaan Melayu.

Lima dekade menjaga persahabatan bukanlah perjalanan pendek. Ada masa sulit, perubahan zaman, kesibukan keluarga, dan dinamika kehidupan yang terus bergerak. Tetapi persahabatan sejati rupanya memang tidak dibangun hanya oleh intensitas pertemuan. Ia tumbuh karena kesamaan nilai, ketulusan, dan kemampuan menjaga hati satu sama lain.

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna sastra bagi kami: bukan hanya melahirkan karya, melainkan juga merawat kemanusiaan.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan