4 Momen Terakhir Sriwijaya Air Terungkap dari Rekaman FDR

TIRASTIMES.COM, JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan awal investigasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan Kepulauan Seribu. Terungkap momen terakhir penerbangan yang terekam dalam flight data recorder (FDR) yang telah ditemukan.
Pesawat dengan nomor registrasi PK-CLC itu lepas landas pada 9 Januari 2021, pukul 14.36 WIB. Penerbangan diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin, dan membawa 56 penumpang.

Berikut ini paparan KNKT terkait laporan awal investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182:

  1. Sebelum Jatuh, Tuas Mesin Bergerak Mundur

Sebelum Sriwijaya Air SJ182 jatuh, tuas mesin (throttle) sebelah kiri pesawat tiga kali bergerak mundur.

Kepala Sub-Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo menerangkan pertama kali tuas kiri Sriwijaya Air SJ182 bergerak mundur terjadi tidak lama setelah pesawat lepas landas pada 9 Januari 2021. Sriwijaya Air SJ182 memuat 2 pilot, 4 awak kabin, dan 56 penumpang.

“Setelah tinggal landas, pesawat ini mengikuti jalur penerbangan yang ditentukan, yang diberikan nama ABASA 2D. Kemudian FDR mencatat bahwa pada ketinggian kira-kira 1.980 kaki, autopilotnya mulai aktif atau engage. Pesawat terus naik dan pada ketinggian kira-kira 8.150 kaki, throttle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri bergerak mundur dan tenaga mesin atau putaran mesin juga ikut berkurang,” ujar Nurcahyo dalam jumpa pers secara virtual, Rabu (10/2/2021).

  1. Komunikasi Terakhir

KNKT juga mengungkap komunikasi terakhir dengan pilot Sriwijaya. Pada pukul 14.38.51 WIB, pilot meminta kepada pengatur lalu lintas udara atau ATC untuk berbelok ke arah 75 derajat dan diizinkan karena kondisi cuaca.

Adapun perubahan arah ini diperkirakan oleh ATC akan membuat pesawat SJ182 akan bertemu dengan pesawat lain yang berangkat dari Landas Pacu 25L atau Soekarno Hatta landasan selatan, sedangkan pesawat SJ182 berangkat dari landasan utara.

“Oleh karenanya, ATC meminta pilot untuk berhenti naik di ketinggian 11.000 kaki,” ungkap Nurcahyo.

  1. Autopilot Tidak Aktif

Pada pukul 14.40.05 WIB, FDR merekam ketinggian tertinggi pesawat adalah 10.900 kaki. Lalu ketinggian pesawat terus berkurang.

“Setelah ketinggian itu, pesawat mulai turun, autopilot tidak aktif atau disengage, arah pesawat saat itu 016 derajat. Sikap pesawat, hidungnya pada posisi naik atau pitch up dan pesawat mulai miring ke kiri atau roll ke kiri. Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri berkurang sedangkan yang kanan tetap,” papar Nurcahyo.

Pada pukul 14.40.10 WIB, FDR mencatat autothrottle tidak aktif (disengage). Sikap pesawat yang tadinya pitch up berubah jadi pitch down atau menunduk.

“Sekitar 20 detik kemudian, FDR berhenti merekam data,” katanya.

  1. Ada Anomali Pada Tuas Pengatur

KNKT juga menyebut ada anomali pada tuas pengatur tenaga mesin atau autothrottle pada pesawat dengan nomor registrasi PK-CLC itu.

Nurcahyo menerangkan autothrottle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri pesawat bergerak mundur sebanyak 3 kali. Namun, ia belum dapat memastikan apakah autotrottle bagian kiri yang rusak karena autotrottle sebelah kanan juga mengalami anomali.

“Saat ini memang yang kita ketahui autothrottle kiri bergerak mundur, tetapi apakah ini yang rusak yang kiri, kita belum tahu karena dua-duanya menunjukkan sikap yang berbeda atau artinya dua-duanya mengalami anomali,” katanya.

Nurcahyo mengaku belum mengetahui autothrottle bagian mana yang rusak. Sebab, keduanya mengalami anomali.

“Anomali untuk yang kiri adalah dia mundurnya terlalu jauh, sedangkan yang kanan dia benar-benar tidak bergerak seperti macet. Jadi kita tidak tahu sebenarnya yang rusak yang kiri atau kanan. Inilah yang kita tidak bisa menjelaskan sampai hari ini apakah ada kerusakan autothrottle,” ujarnya.

Lebih lanjut, autothrottle ini juga terkait dengan 13 komponen lain. Dengan demikian KNKT belum dapat memastikan bagian mana maupun komponen mana yang mengalami kerusakan.

“Jadi mengapa anomali yang terjadi di dalam throttle ini yang muncul yang terlihat, penyebabnya komponen yang mana kami belum bisa menentukan karena ada 13 komponen yang terkait terhadap gerakan dari autothrottle,” ujarnya. (jn/detik)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan