Dari jendela mobil kulihat hujan turun menemani langkah-langkah kecil itu. Sepatu kelabu, rambut kelabu, dengan baju entah warna apa yang tersisa. Tubuh mungil itu seperti berkelahi dengan gemuruh hujan yang beraninya main keroyokan. Dengan wajah membara, dipeluknya bergulung-gulung kertas koran yang belum sempat dilapisi plastik itu. Mungkin bibir keringnya hendak memaki sang hujan yang datang tanpa peringatan, namun tak banyak energi tersiksa untuk berdebat dengan kemahakuasaan alam.
Akhirnya, di bawah atap teras swalayan yang berdiri congkak di simpang jalan, bocah lelaki sekurus lidi itu menatap kaku pada seongok bubur kertas yang tersisa dari apa yang semula menjadi barang dagangannya. Tanpa kata, hanya wajah asam, seasam aroma keringatnya yang berjibaku sepanjang hari dengan segenap jiwa dan sisa-sisa raganya.
Dan kini, matanya yang cerah dan tajam itu menatapku seperti hujaman paku tatkala menghampirinya
bahkan sebelum aku bicara. Hanya mendekat dengan kendaraan dan pakaian terhormat.
“Nak, boleh saya beli semua koranmu?” tanyaku.
“Tidak, terima kasih,” jawabnya tak acuh. “Saya menjual koran, bukan belas kasihan.”
Bocah itu mengabaikanku, lalu pergi kembali menyongsong hujan yang menjadi antagonisnya hari ini. Kurasa, besok aku akan mencarinya lagi di simpang ini.
Batam, 1/1/23
Fachri Azmi, Guru SDIT Tunas Cendekia Batam.