Cerpen Fhadillah Nur Afifah

LUAPAN AMARAH


Menjadi siswa jenius bukanlah hal menyenangkan seperti yang orang-orang kira. Segala prestasi di tuntut oleh guru agar membanggakan sekolahnya. Terjauhi secara tidak langsung di pertemanan,dan di fokuskan untuk belajar terus menerus. Terkadang aku lelah dengan perlakuan ‘spesial’ yang diberikan orang-orang sekitarku hanya karena otak jeniusku ini. Aku juga ingin menikmati masa mudaku dimana dapat bebas bermain dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Begitupula dengan orang tuaku di rumah yang setiap hari terus saja menambah jam belajarku dengan alasan agar aku terus berprestasi dan membanggakan mereka.

“Aku lelah ma,aku ingin bermain dengan teman-temanku seperti yang lain.”

“Kamu harus belajar nak,kamu mau dur—.”

“AKU LELAH MA,AKU LELAH HARUS MEMENUHI EKSPETASI KALIAN SEMUA YANG TERLALU TINGGI.”

Mama langsung terdiam.bIa tampak sangat terkejut mendengar luapan amarah yang telah lama kupendam ini. Tidak ada salahnya kan aku menyuarakan isi hatiku,aku ingin hidup seperti yang kuinginkan. Bukan hidup di sangkar emas yang mereka buat untukku. Tidak lama setelah aku berteriak tadi,Papa datang menghampiriku dan Mama yang berada di kamarku saat ini.

“Elina,apa yang kamu bilang hah?! Papa dengar apa yang kamu ucapkan dari luar,ekspetasi kami terlalu tinggi? Kamunya saja yang berlebihan.”

“Berlebihan Papa bilang??!! KALIAN YANG BERLEBIHAN,BAHKAN KALIAN TIDAK PERNAH PEDULI DENGANKU,TIDAK PERNAH MEMBERIKAN KASIH SAYANG YANG CUKUP,YANG KALIAN LAKUKAN HANYALAH TERUS MENERUS MENUNTUTKU AGAR SEMPURNA.”

Aku benar-benar meluapkan segala amarah yang selama ini aku pendam. Tak dapat di pungkiri aku sudah lelah,sangat lelah. Melihat kedua orang tuaku yang hanya bisa menuntut keinginan mereka tanpa memedulikan keinginanku. Berlari keluar dari kamar,aku bertemu dengan kakak sepupuku yang kebetulan baru saja datang. Melihatku yang berlinang air mata,langsung saja Kak Mila memelukku.

“Akhirnya dikeluarkan juga yaa,gapapa kamu ga salah kok,Kak Mila ngerti perasaan kamu.”

Air mataku semakin deras mengalir,kenapa aku di takdirkan hidup seperti ini. Setidaknya berikan aku satu kakak kandung seperti Kak Mila untuk menjadi tempat sandaranku yang selalu ada. Melihat aku yang terdiam,Kak Mila mengajakku untuk ikut dengannya jalan-jalan. Sekedar untuk menghiburku agar tidak larut dalam kesedihan,meninggalkan orang tuaku yang tidak ada terlihat berkeinginan menghampiriku dan meminta maaf.

Duri,16 November 2021


Fhadillah Nur Afifah kelahiran Balikpapan 19 Januari 2008. Siswi kelas 8 SMPS Cendana Mandau TP.2021/2022. Memiliki hobi mengoleksi buku dan bermain badminton. Pernah mengikuti KSN IPS 2021 dan memperoleh peringkat 4 se-Kabupaten,Peringkat 2 Try Out Pentas Seni SMPS Cendana Mandau 2019,Juara 2 Cerdas Cermat Matematika.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan