Cerpen Nafi’ah al-Ma’rab

144

Hujan Malam dan Jam Tua Bambang

Jika ada benda yang paling ingin kusingkirkan dari ruangan ini, itulah jam dinding tua milik Bambang. Jam itu berbingkai jati coklat yang warnanya sudah pudar. Kaca pelapis jarumnya pun telah penuh goresan, tak lagi jernih. Namun, Bambang selalu punya alasan meletakkannya di dinding kamar. Kenapa, Bambang? Aku hampir gila mendengar alasannya.

***

Sebenarnya aku juga penyuka benda-benda klasik. Dulu aku punya album tua warisan kakek. Sampai warnanya tak lagi biru dan kertasnya hancur, benda itu kusimpan di laci meja kamar. Aku memang suka dengan benda-benda tua, tetapi entah kenapa tidak dengan jam kesayangan Bambang itu.

Kenapa? Begini. Benda itu mungkin menjadi sebab kenapa Bambang selama ini menjadi sosok yang menyebalkan di mataku.

            “Bisakah kita ngobrol sebentar di luar, Bambang? Sekadar mencoba menu kopi baru di kedai Wak Tun yang baru itu?”

Bambang tak menjawab. Ia malah sibuk melihat jam tua itu. Ia mencatat sesuatu di buku agendanya. Lalu dengan santai ia akan bilang dengan suaranya yang datar.

“Kapan-kapan saja ya, aku sudah ada acara.”

Selalu begitu. Sampai aku tak pernah lagi menanyakan jadwal kegiatannya. Dalam sehari ia pasti akan duduk di sebuah kursi beberapa menit. Mencatat kegiatan-kegiatannya esok hari. Jam itu selalu menemaninya. Ia akan menghitung waktu di setiap kegiatan yang akan ia lakukan. Aku kadang tertawa. Buku kecilnya itu lebih mirip jadwal pelajaran sekolah yang tertulis runut waktu-waktunya. Bukan hanya itu, dalam sehari ia kadang berkali-kali melihat jam. Mungkin ia lebih sering menatap jam itu dibanding aku. Perempuan yang sudah menemaninya lebih dari lima tahun pernikahan.

“Bambang, jam itu sudah tidak layak. Mungkin bisa diganti dengan jam lain yang lebih kekinian? Yang lebih mahal, aku bisa membelikannya untukmu.” Kalimat ini sebenarnya caraku saja untuk mengalihkan ia dari jam itu. Kupikir mungkin saja kalau jam itu sudah tidak ada, ia bisa sedikit berubah dengan benda yang baru.

“Tidak. Jangan coba-coba menggantinya dengan yang baru. Aku tak suka.”

Aku diam saja. Mana mungkin aku menentangnya. Ya, sudahlah. Benda itu memang penuh kenangan untuknya. Sama seperti album tua yang kumiliki dulu. Dia bilang benda itu warisan dari ibunya. Ibu Bambang tak jauh beda dengan Bambang. Dia setiap hari mengatur jadwal dengan melihat jam tua itu. Dulu, jam itulah yang menemani ibu Bambang beraktivitas setiap hari. Mau belanja, bangun tidur, pergi ke kebun, perempuan itu selalu melihat waktu di jam itu. Rupanya Bambang melakukan hal yang sama seperti ibunya. Bahkan saat akan menikahiku pun ia bilang sudah menghitung waktunya sekian lama dari jam itu.

            “Jam yang akan bersamaku seumur hidupku, bahkan sebelum aku bersamamu,” Bambang bilang begitu padaku di awal pernikahan. Maka kuperhatikan setiap hari, ia mungkin jadi cinta kedua Bambang setelah aku.

            “Kenapa harus melihat jam itu? Kan ada hp, ada komputer?”

            “Jam ini lebih dari sekadar penunjuk waktu.”

****

Kalau Bambang selalu disiplin dengan waktunya, baiklah. Aku coba memahaminya selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya aku tak mempersoalkan itu. Namun, ada satu hal yang benar-benar aku sulit menerimanya. Jam itu selalu berbunyi dini hari, tepat pukul tiga pagi. Bukan semalam dua malam, tetapi setiap malam. Sudah lebih enam bulan Bambang membunyikan jam itu setiap pukul tiga pagi. Itulah yang membuat kepalaku semakin sakit.

“Bangunlah, tahajud sebentar.”

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Dienullah Rayes

“Iya aku tahu tahajud itu besar pahalanya. Tapi itukan sunnah. Aku belum bisa.”

“Setidaknya kau berusaha mencoba, nanti kau akan merasakan kebaikannya.”

“Aku belum bisa.”

Berkali-kali aku bilang belum bisa, tetapi Bambang terus membunyikan jam itu setiap pukul tiga pagi. Mula-mula aku diam saja, tetapi lama-lama aku merasakan kepalaku sakit karena selalu terbangun dengan kondisi terkejut pukul tiga pagi.

            “Bambang, cobalah sedikit mengerti. Aku belum bisa seperti yang kau minta. Setidaknya jangan kau bunyikan jam itu setiap malam. Pukul enam pagi aku harus ke kantor. Kalau aku bangun pukul tiga, itu membuatku mengantuk.”

            Bambang selalu diam dengan setiap jawabanku, tetapi tetap saja jam itu selalu berbunyi pukul tiga. Pernah aku bangun dan marah-marah di hadapannya. Malam itu, saat wajah Bambang kulihat masih basah dengan air wudhu. Aku seperti kesetanan. Kuambil jam itu dan kulempar di atas meja. Kupikir keesokan harinya jam itu rusak atau mungkin pecah, tetapi rupanya tidak. Benar-benar jam tua yang tahan banting. Lalu malam berikutnya pun jam itu berbunyi lagi, terus hingga malam-malam selanjutnya.

****

            Malam itu cukup dingin. Hujan sejak sore tak kunjung reda. Pekerjaan kantorku masih banyak. Aku melihat Bambang tidur lebih cepat dari biasanya. Sementara aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Ada hal penting yang harus kuselesaikan malam ini. Pukul sebelas malam pekerjaanku baru selesai. Cuaca di luar semakin dingin. Langit kulihat semakin hitam. Angin pun menderu lebih kencang. Mataku melihat jam yang seperti biasa tergantung di dinding kamar. Aku tahu, pukul tiga pagi nanti pasti mataku sedang sangat mengantuk. Kelelahan seharian di kantor membuat tubuhku terasa semakin lemah. Aku tak bisa membayangkan jika pukul tiga nanti jam itu berbunyi dan mengganggu tidurku. Tiba-tiba muncul ide di kepalaku.

Pelan-pelan aku menurunkan jam itu dari dinding. Kubawa keluar kamar. Mula-mula aku berniat meletakkannya di ruang tamu saja supaya bunyinya tak begitu keras dari kamar. Namun, tiba-tiba di kepalaku muncul ide lebih dari itu. Jam ini harus disingkirkan. Hujan yang deras mungkin saja akan membuat Bambang berpikir jamnya tak berbunyi. Besok kalau Bambang marah, akan kurayu ia dengan semangkuk soto kesukaannya. Biasanya Bambang akan tersenyum dan kembali bersikap biasa. Aku tak takut marahnya, yang paling penting bagaimana malam ini aku bisa tidur nyenyak. Kucabut baterai jam itu. Lalu kubiarkan ia tergeletak di meja ruang tamu. Aku masuk ke kamar dan memejamkan mata.

****

Apa yang kuharapkan menjadi kenyataan. Malam ini aku tidur panjang tanpa adanya bunyi jam tua itu lagi. Pelan-pelan aku membuka mata dan cuaca terasa lebih dingin. Aku mencari-cari Bambang di sebelahku, tak ada. Ada apa, kemana Bambang, apa ia tetap bisa bangun tanpa menggunakan bunyi alarm jam kesayangannya itu?

Kupandangi sekeliling kamar, ternyata kamarku telah menyempit. Aku berniat bangun dan berdiri, tetapi tak bisa. Potongan kayu panjang menimpa tubuhku. Aku berteriak memanggil Bambang sekeras mungkin, tetapi tak ada sahutan.

Tiba-tiba aku melihat seseorang datang dari balik pintu. Pintu itupun telah patah bagian engselnya. Ternyata bukan seorang yang datang, tetapi beramai-ramai. Bambang, dia ada di salah seorang di antaranya. Aku gembira, ternyata Bambang baik-baik saja.

“Bambang, tolong aku!”

Bambang sama sekali tak menjawab panggilanku, bahkan orang-orang itupun tak ada yang menoleh mendengar panggilanku.

            “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sabar ya, Bambang. Enam koma satu Skala Richter cukup dahsyat.”

            “Andai saja Nadira tak mematikan jam tua itu,” ucap Bambang sambil terisak.

****

Nafi’ah al-Ma’rab, menulis fiksi dan nonfiksi. Bekerja untuk peradaban. Kontak email: renyai0220@gmail.com, Instagram @iam.nafiah, Blog: novelisriau.com.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan