Nasib Sang Kiyai Pemilik Pondok Pesantren: Cerpen Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria

12

Gerimis senja itu turun bagai tirai sutra yang koyak di atas atap-atap daun Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Di dalam kamar yang beralaskan tikar lusuh, napas sang kiyai terdengar satu-satu, seirama dengan detak waktu yang kian melambat. Riwayat panjang sebuah pengabdian kini tengah berada di ujung penanya.

Dahulu, semenjak rambutnya masih hitam mengilat, sang kiyai adalah seorang pencari tuhan yang sunyi. Ia habiskan malam-malamnya di bawah cahaya lampu minyak, menunduk takzim di hadapan lembaran-lembaran kitab kuning. Jemarinya yang kurus dengan telaten menelusuri baris demi baris tulisan gundul—membedakan fa’il dan maf’ul, menyelami samudera fiqih, hingga meresapi hakikat tasawuf.

“Akhirnya berhasil aku dapatkan,” bisik sang kiyai di dalam hati

Ketekunan yang membakar itu tidak sia-sia. Langit seolah membukakan pintu-pintu pemahaman. Ia dianugerahi kemampuan luar biasa untuk membaca dan mengurai kerumitan kitab-kitab muktabar. Ilmu mengalir dari lisannya bagai mata air yang tak pernah keruh.

Masyarakat kampung, yang dahaga akan tuntunan spiritual, takjub melihat keluhuran budinya. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, mereka mendaulatnya dengan gelar “Kiyai” – sebuah mahkota tanpa wujud namun sarat akan tanggung jawab. Tak hanya itu, ia pun dinikahkan dengan seorang gadis jelita, putri dari tokoh agama paling terpandang di wilayah tersebut. Pernikahan itu laksana bertemunya dua aliran sungai jernih yang siap memakmurkan tanah gersang.

Dari rahim sang istri, lahir kebahagiaan yang melimpah ruah sebagai penyempurna takdir yakni seorang anak laki-laki. Anak itu tumbuh di bawah naungan sayap-sayap doa malam. Benar saja, darah keulamaan sang ayah mengalir deras di nadinya. Beranjak dewasa, ia tidak hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi juga telah menyempurnakan tiga puluh juz Al-Quran hafal di luar kepalanya. Lantunan ayatnya sanggup menggetarkan tiang-tiang masjid.
“Subhanallah, sungguh ini adalah sebuah karunia yang tak ternilai,” Hati sang kiyai terus berbisik takjub.

Melihat permata yang kian berkilau, sang kiyai tak ingin langkah anaknya terhenti di batas cakrawala kampung. Dengan sisa-sisa tabungan dan peluh sendiri—tak sudi meminta belas kasih proposal—ia melepas sang putra terbang ke tanah para nabi, semenanjung Arab.

Di Timur Tengah, pemuda priayi itu menjelma menjadi bintang yang paling benderang di langit akademis. Kecerdasannya yang genius, dipadu dengan dialek bahasa Arab yang fasih dan ketampanan khas nusantara, membuatnya cepat terkenal di jazirah tersebut. Ia bukan lagi sekadar pelajar, ia adalah idola. Namanya diperbincangkan di ruang-ruang kuliah hingga ke dalam ruang istana raja.

Hingga akhirnya, pesona sang pemuda priayi itu memikat hati seorang putri raja Arab. Pernikahan agung digelar. Anak seorang kiyai dari kampung terpencil di tanah air kini telah resmi mempersunting seorang putri bangsawan, mengikat janji setia di atas hamparan permadani kemewahan duniawi.

Namun, di belahan bumi yang lain, waktu sedang menagih runtuhnya sebuah kejayaan. Di tanah air, sang kiyai mulai sakit-sakitan.

Berita Lainnya

“Huk.. huk..huk.. huk,” sesekali batuk mewarnai gerak gerik sang kiyai.

Tubuhnya yang dulu tegap saat mengimami salat, kini kian membungkuk digerogoti usia dan penyakit. Perlahan namun pasti, ia tak lagi sanggup mengontrol roda organisasi pondok pesantren.

Satu per satu santri pulang, sebab tak ada lagi sosok kharismatik yang mampu menggantikan kedalaman ilmu sang kiyai. Orang-orang kampung tak ada yang sepadan keilmuannya untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Dan di sinilah tabir kebenaran itu tersingkap dengan perih, ternyata selama ini kemegahan pondok pesantren itu hanyalah pantulan dari sudut pandang dan kharisma sang kiyai seorang diri. Begitu sang kiyai meredup, runtuh pulalah seluruh pesona tempat itu. Ruang kelas mulai berdebu, lorong-lorong santri berubah sunyi, dan rumput liar mulai menjajah halaman yang dulunya bersih.

Sementara di seberang lautan, kabar kemunduran itu tentu sampai ke telinga sang anak. Namun, megahnya istana dan kenyamanan jazirah telah membelenggu hatinya. Dalam benaknya, kehidupan di Timur Tengah jauh lebih memadai, terjamin, dan bermartabat, ketimbang harus kembali ke tanah air untuk mengurus sebuah pondok pesantren yang kini tampak kumuh, uzur, dan minim fasilitas. Ia memilih bertahan di zona nyaman yang bertabur pualam.

Hari demi hari, sakit sang kiyai kian berat. Namun, tabib mana pun tahu, obat dari segala penyakitnya bukanlah ramuan herbal atau pil-pil kimia, melainkan kerinduan yang membakar dada. Ia merindukan putranya. Setiap kali angin malam berembus, sang kiyai selalu menatap ke arah barat di iring suara batuk, membayangkan wajah sang anak yang tak kunjung mengetuk pintu rumahnya.

Hingga pada suatu malam yang paling sunyi, dengan sisa napas menyebut asma Allah, sang kiyai mengembuskan napas terakhirnya. Ia wafat dalam pelukan rindu yang tak sempat tertunaikan.

Kepergian sang ulama menyisakan duka sekaligus kekosongan hukum dan sosial. Pesantren Al-Ikhlas telantar total bagai kapal karam. Demi menghindari kekacauan, konflik kepemilikan, serta kekeliruan pemahaman di tengah masyarakat yang kian lebar, pemerintah setempat akhirnya turun tangan mengambil alih kebijakan.

Karena operasional yang merugi dan tiadanya dana untuk merawat fasilitas yang kian memburuk, pondok pesantren yang dahulunya berbasis tradisi salaf itu melebur, bertransformasi menjadi sebuah Madrasah Negeri. Papan nama kayu yang dulu dipahat dengan tangan sang kiyai, kini diganti dengan papan besi berlogo kementerian.

Sementara itu, di tanah Arab yang jauh, sang anak tak pernah lagi menengok tempat tanah kelahiranya. Ia telah resmi menjadi warga negara di sana, hidup mapan, beranak pinak di balik tembok istana yang menjulang tinggi, melupakan bau tanah basah dan lantunan kitab kuning di surau tua milik ayahnya. Wallahualam.

Bengkalis, 05 Juni 2026.

Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan