Kapolda Riau pada Seminar FPK: Warga Masyarakat Harus Berkebudayaan.

70

PEKANBARU – TIRASTIMES ||Warga berkebudayaan menjalankan kehidupannya dengan memedomani nilai kebudayaan yang hidup dan nilai kebudayaan dijalankan dan dipertahankan melalui transformasi kebudayaan yang ada dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja serta relasi hidup untuk mencapai kompetensi dalam kebudayaannya dan menginternalisasi. Hal tersebut disebut dengan enkulturasi proses yang terjadi dalam enkulturasi adalah identitas pribadi dalam sebuah kelompok.
Hal ini disampaikan oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, SH,S.I.K, M.Si, sebagai Nara sumber di Seminar Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau pada hari selasa 1 Desember 2020 di Hotel Aryaduta.

“Budaya sebagai kunci kejayaan adalah tema yang diusung di acara Seminar yang di taja oleh FPK Provinsi Riau.

Diseminar tersebut Kapolda Riau memaparkan materi kepada 51 paguyuban yang hadir, yaitu tentang kebudayaan dan bangsa, Kebudayaan Melayu,dan mewujudkan kejayaan.

Untuk Membumikan Melayu di Provinsi Riau Perlunya memegang istilah “Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah”. ujarnya
“Perlunya mengendalikan dan membentengi dari pengaruh luar, mengakomodir kebudayaan luar, mengintegrasikan kebudayaan luar dan kebudayaan asli serta memberi arah perkembangan kebudayaan (Lubuk Larangan) serta menjaga tradisi sebagai kebaikan yang telah teruzi oleh proses zaman dan mampu bertahan karena berpegang pada pada nilai baik dan benar” tambahnya.

Mengelola kemajemukan untuk harmonisasi komunisasi mutlak dilakukan agar kehidupan menjadi damai di tengah kemajemukan dengan menerima dan menghargai perbedaan. Hal itu dikatakan oleh Kepala Badan Kesbangbangpol Provinsi Riau, Kaharudin saat menyampaikan sambutan gubri saat membuka seminar Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau dengan tema “Budaya sebagai kunci kejayaan bangsa”, Selasa (1/12/2020) di Pekanbaru.

Dia mengatakan bahwa upaya yang perlu dilakukan saat ini adalah memadukan kemajemukan menjadi silaturahmi yang harmonis.
“Pemerintah akan terus bersama semua pemangku kepentingan akan mengelola kemajemukan yang ada dan meningkatkan komunikasi, agar keberagaman etnis tidak menjadi bibit pertengkaran, tetapi untuk perkokoh persatuan,” ungkapnya.

“Tentunya kebudayaan yang mengalami proses dan kurun waktu yang amat panjang yang dapat kita rasakan hingga saat ini,” katanya
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa letak geografis provinsi Riau yang sangat strategis dan potensial sumber daya alam yang dimiliki serta keberagaman penduduk yang multikultural majemuk dan beraneka ragam ras dan suku bangsa.

Kaharuddin mengharapkan melalui seminar yang mengusung tema kebudayaan ini dapat memberikan edukasi tentang nilai-nilai dan sendi-sendi kehidupan bernegara dan juga dalam perspektif kebudayaan bangsa Indonesia secara umum dan masyarakat di provinsi Riau secara khususnya terkait keberagaman ras dan agama yang ada di provinsi Riau.

Sementara itu, Penasehat FPK Riau, Datuk Seri Al Azhar dalam sambutannya mengatakan  kejayaan Riau akan terwujud jika semua elemen masyarakat kukuh bersatu. Sebab 51 paguyuban yang ada di Riau jika bersatu tekad kukuh menjaga persatuan maka cita – cita kejayaan riau tidak mustahil dapat diraih. “Kita punya potensi untuk itu, makanya kita akan terus menerus berusaha merekatkan kebudyaaan itu untuk kemajuan dan kemakmuran bersama,” katanya.

Disampaikan Ketua FPK Provinsi Riau Ir. AZ Fachri Yasin, M.Agr, “Akhir tahun ini FPK Provinsi Riau akan melaksanakan tiga seminar yaitu pada tanggal 1, 5 dan 7 Desember 2020, di sejumlah hotel di Pekanbaru.
Dan ditambahkannya, semoga Acara Seminar yang dibuat bisa terus terjalin  dan dan terawat pembauran kebangsaan yang ada di bumi melayu ini. (hs)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan