Bulan Lampau: Puisi Wahyu Mualli Bone

110

Tinggallah purnama lalu menyiram tadah lima ratus pakis sakat bersama guyur girang genangi penyandang akar yang kelak membawanya ke harum bunga-bunga.

Sabit tempo hari menjeling gelantung biji sempi yang siap isbat berkecambah.

Bahkan gerhana silam hanya bertandang di lain sudut padang langit lusa.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Qinoy

Berita Lainnya

Lengkungan nusa menakar jarak pandang batu-batu lingkar langit yang menarik perhatian riak bercita-cita menjadi gelombang, mengukir paradigma panorama.

Bulan lampau, atasnya ke samping kiri dan kanan bahkan ke bawah, aras gelinding debu, kemasan suhu dan angin-angin.

Gelembung bayi udara menggalang generasi ke generasi aksara di gelanggang lambang bulan bulan atas nama.

Pekanbaru, 1 Januari 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan