Bulan Lampau: Puisi Wahyu Mualli Bone

111

Tinggallah purnama lalu menyiram tadah lima ratus pakis sakat bersama guyur girang genangi penyandang akar yang kelak membawanya ke harum bunga-bunga.

Sabit tempo hari menjeling gelantung biji sempi yang siap isbat berkecambah.

Bahkan gerhana silam hanya bertandang di lain sudut padang langit lusa.

Berita Lainnya

Demokrasi Dibajak Oligarkhi

Lengkungan nusa menakar jarak pandang batu-batu lingkar langit yang menarik perhatian riak bercita-cita menjadi gelombang, mengukir paradigma panorama.

Bulan lampau, atasnya ke samping kiri dan kanan bahkan ke bawah, aras gelinding debu, kemasan suhu dan angin-angin.

Gelembung bayi udara menggalang generasi ke generasi aksara di gelanggang lambang bulan bulan atas nama.

Pekanbaru, 1 Januari 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan