Lune et Étoile: Cerpen Yansi Aresta Camila

57

Sore hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati cahaya matahari sore dan desir ombak yang halus. Lune bersama Papanya mempunyai kebiasaan mengunjungi pantai Hossegor pada sore hari sedari Lune berumur 2 bulan. Memandang sunset di pantai Hossegor membuat hati terasa nyaman, di tambah air nya yang berwarna biru dan bersih. Jika ada sehari saja mereka tidak memandang sunset, Lune akan merasa gelisah hingga sakit.
“Lune, jangan terlalu dekat ke air ! Tunggu Papa !” Lune yang berumur 7 tahun itu sedang berdiri di bibir pantai, tertegun dengan ombak biru. Sedangkan sang Papa sedang sibuk membentang tikar bersama Mama nya.
“Oke Papa.” Jawab Lune dan berlari kembali ke orang tuanya. Lune menarik tangan sang Mama yang sedang merapikan keranjang piknik mereka.
“Mama! Ayo bermain air, nanti sunset nya akan hilang duluan.” Sang Mama hanya tertawa dan mengikuti sang anak yang menariknya.
“Pelan-pelan Chéri (sayang), nanti kamu tersandung.” Lune hanya berhenti di bibir pantai, sedikit takut dengan ombaknya. Sang Mama menggandeng Lune untuk merasakan halusnya ombak pantai Hossegor. Lune yang pada awalnya takut dan terjatuh terus-menerus saat terkena ombak kini kegirangan dan bermain air bersama sang Mama lebih maju ke permukaan pantai. Sang Papa yang sudah selesai membentang tikar untuk bersantai kini berlari ke arah Lune dan Mama. Mereka bertiga bermain air dengan girang.
Setelah puas bermain air, mereka menikmati sunset dan naik nya bulan ke atas langit. Bulan malam itu sangat indah dan cerah benderang. Pantai Hossegor perlahan berkurang pengunjung karena sudah malam. Mereka masih berada disana, tetapi menjauh dari bibir pantai karena ombak dan angin malam tak baik untuk Lune.
“Lune, kamu tahu tidak kenapa namamu Cozette Lune ?” Sang Mama mengelus kepala Lune lembut, memandangi bulan malam itu. Lune menggeleng.
“Itu karena, saat Lune lahir, bulan di Plage Naturiste cerah benderang. Mama terus menatap langit, berdoa agar Lune lahir dengan sempurna selama perjalanan menuju rumah sakit. Dari situlah, Papa menamai mu Cozotte Lune.’’ Sang Papa membanggakan diri sambil menggosok jari nya kebawah hidung. Sang Mama tertawa dan mencium pipi Lune.
“Yep, itu benar. Cozette Lune itu berarti bulan mungil. Karena Lune adalah bulan mungil kami.” Sang Mama dan Papa menggelitik tubuh Lune. Lune tertawa girang. Malam itu adalah malam paling bahagia. Hinga pada suatu malam, Lune menghilang dari tempat tidurnya.
Sore hari sebelum Lune menghilang, Lune tenggelam di pantai Hosseger dan ditemukan 1 Kilometer dari tempat awal Lune menghilang. Saat Lune ditemukan, dia terlihat baik-baik saja. Bahkan terlihat bahagia. Sang Mama dan Papa segera memeluk nya dan membawa nya pulang. Sepanjang jalan menuju rumah, Lune selalu menyebut kata Étoile, yang berarti bintang. Malam itu, seluruh anggota keluarga Lune panik dan dilanda kekhawatiran. Terakhir kali sang Mama melihat Lune adalah saat ia sudah tertidur di kasur nya. Dan sekarang kasur itu kosong dan jendela kamar Lune terbuka. Mustahil anak berumur 7 tahun melompat ke jendela, mengingat kamar Lune berada di lantai dua.
“Étoile !! Kamu dimanaa !” Lune berdiri di bibir pantai Hosseger yang sepi. Malam itu Lune hanya mengenakan baju tidur nya yang tipis. Rambut coklat bergelombangnya berhembus lembut. Angin pantai malam itu sangat dingin. Lune celingak-celinguk ke arah laut dan sekitarnya. Sunyi.
“Psttt ! Lune, aku disini.” Lune mencari arah suara tersebut berasal, suara itu berasal dari semak dan bebatuan yang ada di pinggir pantai. Seorang anak laki-laki yang sepantaran dengan Lune terlihat disana. Lune berlari ke arah anak tersebut dengan sedikit kesal.
“Kamu meninggalkan ku tadi! Padahal kita lagi asik bermain.” Lune menghentakkan kaki kecil nya pelan. Anak laki-laki itu tertawa.
“Maaf, Étoile tiba-tiba dipanggil Mama.” Étoile menyatukan telapak tangan nya, mengisaratkan maaf. Lune hanya mengangguk. Étoile mengenakan kaos baju tidur polos berwarna biru.
“Lune tidak takut malam-malam begini bertemu Étoile ? Nanti Mama dan Papa Lune khawatir.” Lune menggeleng dan duduk diatas bebatuan. Aneh nya suasana pantai Hosseger sangat sepi, bahkan seperti kota mati. Desir ombak dan angin malam serta cahaya kunang-kunang sangat memanjakan diri.
“Étoile, apa Lune boleh tahu nama lengkap mu ?” Lune menatap Étoile lalu ia menangguk.
“Étoile Delphine.” Lune tertawa terbahak-bahak mendengar nya. Wajah Étoile memerah lalu meninggikan suara nya.
“Ya yaa, aku tahu. Mama pada awal nya menginginkan anak perempuan dan dia menyiapkan nama ini.” Lune mengatur nafas nya kembali. Perut nya sudah puas menertawakan Étoile.
“Maaf, hehe. Tapi nama mu sangat bagus, Étoile. Bintang yang ceria seperti lumba-lumba. Nama kita saling melengkapi ! Lune dan Étoile !” Étoile tersenyum dan mengangguk. Lalu berdiri dari duduk nya. Étoile mengulurkan tangan nya kepada Lune. Lune yang pada awalnya kebingungan akhir nya memegang tangan Étoile dan mengikuti nya. Hingga sampailah mereka ke bibir pantai.
“Étoile, kita mau main air lagi ? Aku hanya memakai baju tidur, air malam pasti dingin” Étoile menggeleng dan memakaikan sebuah gelang ke tangan Lune. Tadi sore Lune sudah mengenakan gelang itu dan tak merasakan dingin sekalipun. Lune tersenyum gembira dan bersemangat.
“AYO ! Kerumah Étoile !!!” Mereka berdua bergandengan tangan dan melompat kedalam air. Étoile berubah menjadi Lumba-Lumba kecil berwarna biru, sedangkan Lune hanya berubah kaki nya menjadi ekor ikan, seperti Mermaid atau Putri Duyung. Gelang yang Étoile berikan kepada Lune lah yang membuat Lune berubah. Mereka berdua menari-nari didalam lautan bersama para ikan.
Hingga mereka sampailah ke sebuah gua didekat cantik nya terumbu karang yang berwarna-warni dan bercahaya. Itulah rumah Étoile. Ya, Étoile adalah seekor lumba-lumba yang bisa berubah menjadi manusia, begitu pula Mamanya. Bahkan saat didalam gua, mereka berwujud manusia.
“Lune ?! Kenapa kamu kemari malam-malam. Ini pasti ulah Étoile ya ? dasar anak nakal !” Mama Étoile menjitak kepala anaknya pelan. Étoile hanya tertawa dan duduk diatas kerang yang dilapisi rumput laut, seperti sofa. Mama Étoile mengelus kepala Lune dan mencium kedua pipi Lune. Lune tertawa kecil dan duduk disamping Étoile.
“Papa dan Mama mu pasti khawatir, nak. Kamu harus kembali sekarang.” Lune menggeleng dan memanyunkan mulut nya.
“Tidak. Lune belum puas bermain dengan Étoile, Papa dan Mama berlebihan. Padahal Lune hanya ingin bermain.” Mama Étoile menggeleng dan tersenyum lembut. Lalu ia mendekat dan duduk disamping Lune sambil merangkul nya.
“Lune Chéri, Kamu tidak boleh berpikiran seperti itu. Papa dan Mama Lune kan tidak tahu Lune sedang dimana sekarang. Apalagi ini sudah malam. Lune adalah anak mereka satu-satu nya dan mereka sangat menyayangi Lune. Mereka pasti kesepian jika Lune tidak ada. Dan mereka akan sangat sedih jika tahu Lune kemari malam-malam. Lune boleh kemari, tetapi sore hari. Mengerti Chéri ?” Lune menghela nafas dan mengangguk, masih dengan mulut yang manyun. Mama Étoile tertawa lembut dan mencium kening Lune.
“Étoile, antar Lune pulang.” Étoile mengangguk dan membawa Lune kembali ke daratan. Étoile juga mengantarkan Lune sampai kerumah nya. Papa dan Mama Lune memeluk nya erat-erat saat ia pulang sambil menangis. Papa dan Mama Lune berterimakasih kepada Étoile dan Étoile pun kembali ke lautan.
Malam itu, Papa dan Mama Lune memutuskan untuk tidur bersama Lune. Lune sibuk bercerita bagaimana sore itu dia tidak hilang, melainkan bermain bersama Étoile dan teman-teman ikan nya. Papa dan Mama nya percaya kepada Lune dan akhir nya membolehkan Lune bermain asalkan jangan pada malam hari. Lune tersenyum bahagia dan memeluk kedua orang tua nya. Semenjak saat itu, Lune tak pernah absen mengunjungi pantai Hossegor di sore hari atau pagi hari hingga ia beranjak dewasa. Lune bersama Étoile juga sering menatap sunset oranye yang sangat indah itu. Senandika dan Renjana selalu bergejolak melihat indahnya Swastamita di tepi pantai Hossegor, ditambah dengan keberadaan Étoile yang membuat hidup Lune lebih berwarna.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

TAMAT

Pekanbaru, 9 Juli 2024.

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan