telah terlewat ujung musim nan terik
daun-daun mulai menguning
beberapa luruh di kaki
berlomba kembali ke pangkuan bumi
tanah pun mengering; pecah-pecah
tapi kau tak juga turun
kawanan ulat merayapi dahan
badan berbulu membuat geli tak tertahan
mereka memakan buah
menggulung dedaunan menjadi rumah
sayangnya, lagi-lagi kau tak turun
hingga kepompong koyak
kupu-kupu lahir dari kesabaran berlipat
dia terbang meninggalkan ranting kerontang
juga tubuh kayuku yang menuju rapuh
namun, masih saja kau tak kunjung turun
kita selalu berjanji di tempat yang sama
bertukar simbol perihal rindu yang bisu
kau bercerita lewat rinai
aku tertawa melalui gemerisik dedaunan
sesaat lagi aku mungkin di ambang mati
turunlah untuk mengantarku abadi
Gresik, 22 April 2025
Memulung Elegi: Puisi Zavny
Pernah di suatu masa
saat bait-bait patah
ketika larik-larik belum tunai
merinai hujan di sajak yang tak usai
Sejak itu penaku diam
kepalaku hening
tak lagi mampu bicara lewat syair-syair tentang langit
si pencerita hanya malam
yang ceroboh kehilangan bintang
Tak lagi ada
pemeluk puisiku di musim lalu
dia pergi ke tempat bintang berkumpul
bergembira; bernyanyi
tak lagi mengumpulkan diksi
aku memulung kata-kata
yang tertinggal dari pecahan elegi
aku menyulam luka di jari-jari duka
tempat menyimpan segenggam kenangan
mendekapnya erat di dada legam
Gresik, 19 April 2025
Zavny. Perempuan yang lahir dan besar di Jawa Timur ini sudah menyukai puisi sejak kecil. Mulai menulis puisi dan cerpen di media facebook sejak usai masa pandemi. Banyak hal yang ingin dipelajari untuk bisa menulis dengan lebih baik. Saat ini aktif di Kelas Puisi Thatha Sastra Batch 17. Karya-karyanya bisa dijumpai di facebook dengan nama akun yang sama, juga di kompako.web.id. Moto hidupnya adalah, “Usaha dulu, soal berhasil atau tidak, itu urusan lain.”
Keren, KakMel. ❤️❤️❤️
Tenang dan menghanyutkan. Meleyot itu bonusnya.