Losing My Head Over You: Cerpen Taqiya Mafaza

76

Pria itu telah menjadi bagian dari internal working model dalam teori attachment John Bowlby—seseorang yang telah begitu tertanam dalam struktur emosional dan psikologisnya. Saat figur ini menghilang, rasa kehilangan itu tidak hanya terasa secara sosial, tapi juga secara biologis dan psikologis.

Di malam yang basah dan berat, lampu jalan bersinar kuning keemasan di antara kabut tipis yang menyelimuti kota—kota yang tak pernah benar-benar tidur. Seorang gadis dengan mantel merah maroon duduk sendirian di bangku kayu depan Poli Lima Belas—ruang rawat khusus kedokteran jiwa di sebuah rumah sakit besar.

Ruang tunggu itu lengang. Hanya dengung pendingin ruangan yang menemani, bersahut-sahutan dengan langkah pelan sepatu para perawat yang lalu-lalang. Tak ada yang benar-benar memperhatikannya. Hanya lirikan singkat. Tapi jika seseorang cukup peka, mereka akan sadar bahwa ada sesuatu yang tak beres dari tatapan mata gadis itu.

Kulitnya pucat nyaris transparan, seolah lampu neon telah menyedot habis warna dari tubuhnya. Wajahnya datar—bukan karena dingin, melainkan karena kehilangan semacam daya hidup. Matanya terpaku pada layar laptop di pangkuannya, sementara sebuah buku tebal bercover biru tua—DSM-V, panduan diagnosis gangguan kejiwaan—tergeletak di sisinya, seperti sahabat yang tak bisa menolong.

Gadis itu tampak cerdas. Cantik, meski ia tampaknya tak menyadarinya. Ekspresinya adalah milik seseorang yang pernah berpikir terlalu dalam, sampai pikirannya terperosok ke dalam ruang-ruang yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Ia berganti posisi duduk beberapa kali. Kaki kirinya menekuk lalu lurus lagi. Sesekali, ia menarik napas panjang, seperti berusaha menahan sesuatu agar tidak pecah. Bibirnya mengatup rapat, dan jarinya mengusap pelan telapak tangannya sendiri, berulang-ulang. Seperti mantra sunyi.

Ia tidak baik-baik saja. Gadis itu sedang bergulat dengan apa yang dikenal dalam psikologi sebagai depresi atipikal—bentuk gangguan mood yang sering tersembunyi di balik wajah yang tampak “berfungsi”. Ia bisa tertawa. Ia bisa menjawab pertanyaan. Tapi jiwanya lelah—amat sangat lelah.

Dalam pandangan Aaron T. Beck, tokoh besar terapi kognitif, keadaan ini lahir dari skema negatif: bahwa dunia tidak adil, diri tidak berharga, dan masa depan tidak punya harapan. Pikiran-pikiran negatif muncul otomatis, tanpa diundang, tanpa henti. Dan ia tak tahu lagi mana yang datang dari pikirannya, mana yang datang dari luka.

Beberapa bulan terakhir, pikirannya terasa seperti ruang asing. Ia menangis tanpa alasan, tertawa tanpa makna, dan diam begitu lama hingga lupa bahwa dunia di luar dirinya masih terus bergerak. Ia mulai menulis—cerita-cerita tentang kehilangan, tentang luka, tentang cinta yang hanya bisa dilihat, tapi tak bisa disentuh. Dan selalu, selalu, ada tokoh yang sama dalam tulisannya.

Seorang pria berwajah teduh, bertubuh tinggi, yang pernah ia kira akan menjadi rumah. Pria yang menjawab semua pertanyaannya dengan sabar, yang mengajaknya berdiskusi tentang filsafat, tentang makna eksistensi, tentang puisi-puisi Rilke dan Neruda. Pria itu suka membaca, sama sepertinya. Dan karena itulah, ia jatuh cinta.

Namun kini, pria itu telah pergi—tanpa jejak, tanpa perpisahan, seolah-olah ia hanya imajinasi. Tapi justru karena itulah bayangannya terus menghantuinya. Setiap malam, pria itu hadir dalam tidurnya—kadang duduk di bangku taman, kadang berdiri diam di tengah hujan, kadang menatap dari balik jendela. Selalu tanpa kata. Dan itulah yang paling menyakitkan: bahkan dalam mimpi pun, ia tak mendapat jawaban.

“Kenapa kamu pergi?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar, seperti bicara pada angin.

Tak ada yang menjawab. Hanya desis AC dan lampu yang berpendar dingin. Ia menghela napas.

“Apa aku… terlalu mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri?”

Ia menunduk. Mata masih pada layar laptop, tapi pikirannya entah di mana. Kata-kata Franz Kafka bergema lagi di kepalanya: “Aku tak bisa memikirkan apa pun selain dirimu. Bahkan dalam tidur pun aku memimpikanmu.”
Ia mencoba tertawa, kecil dan getir.

“Kau tahu, Kafka,” gumamnya, “kau romantis sekali dalam penderitaan. Tapi aku… aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya merasa utuh.”

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Qinoy

Gadis itu tak sadar, seorang laki-laki paruh baya berseragam satpam memperhatikannya dari jauh. Ia hendak mendekat, tapi ragu. Terlalu banyak pasien yang bicara sendiri. Terlalu banyak yang menatap hampa, seperti hendak terjun dari atap dunia.

“Dik, kamu… nunggu siapa?” tanyanya pelan dan hati-hati.

Gadis itu menoleh lambat, matanya memerah tapi tak berkaca.

“Aku nunggu jawaban.”

“Jawaban dari siapa?”

Ia tersenyum tipis. “Dari orang yang tidak akan pernah kembali.”

Satpam itu diam. Mencoba memahami, tapi terlalu asing baginya.

“Kamu udah daftar ke Poli?” tanyanya, mencoba mengalihkan.

“Sudah.Tapi aku rasa yang aku butuhkan bukan psikiater. Aku butuh… dimengerti.”

Ia kembali menatap layar laptop yang kini hanya menunjukkan kursor berkedip di halaman kosong. Kata-kata tak lagi bisa ia ketik. Tangannya lemas. Hatinya kosong. Ia merasa hilang—di tengah terang lampu rumah sakit dan suara langkah yang tak pernah berhenti.

“Tuhan…” bisiknya pelan, nyaris seperti doa. “Kalau Engkau masih mendengarku, selamatkanlah aku.”

Ia tidak ingin mati. Tapi ia juga tak tahu bagaimana caranya hidup seperti ini.

Ia hanya seorang gadis dengan luka yang tak berdarah, mencintai seseorang yang telah lama tak ada—entah akan kembali, atau hanya tinggal sebagai fragmen dalam pikiran.

Namun ia percaya satu hal. Bahwa seperti kata Kafka: “Memang semua yang kita cintai akan pergi. Semuanya. Namun mereka selalu menemukan jalan untuk kembali.”

Ia memeluk dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia memejamkan mata. Tidak untuk melarikan diri, tetapi untuk bertahan. Karena mungkin, esok pagi, ia akan mencoba hidup sekali lagi. Meskipun hanya sedikit. Meskipun pelan.

Taqiya Mafaza Jannati Herman atau nama pena Taqiya Mafaza. Ia lahir di Pekanbaru, Riau, tanggal 31 Agustus 2004. Saat ini ia mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Padang angkatan 2022. Hobinya memasak, menggesek biola, membaca, dan menulis.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan