Kita pernah ada di antara senja baru saja menyentuh semesta hingga memasuki gelap yang mengantarkan kita pulang ke rumah.
Kita selalu mengatur rencana mengatur segala hal yang mengundang tawa, juga kita begitu rutin berbicara perihal masa depan, perihal apa saja yang nantinya akan menjadi pelangkap untuk kita sepasang hati yang dimabuk asmara.
Bahkan kita tidak pernah mencemaskan hal apa saja yang akan menjadi puncak permasalahan,
di mana pun kita berjumpa akan ada saja tawa mengusik gunda gulana
bahkan kita perihal bintang yang selalu menerangi malam di saat bulan menyembunyikan bentuknya di balik awan hitam.
Kita adalah senyuman yang pernah ada tanpa banyak rencana. Kita adalah bahagia yang selalu diperjuangkan bersama. Dan tanpa disadari, pada akhirnya waktulah yang paling berkuasa untuk mengakhiri kita dengan sebutan kata pisah.
Dan hal-hal indah yang pernah kita toreh bersama, kini hanya menjadi kenangan yang masih menguap di ingatan.
Tahoku, 16 Mei 2022
Firman Wally. Puisi-puisinya sudah termuat di 50 antologi bersama penyair nasional. Sebagai pemenang kedua dalam lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh PAPARISA SASTRA NUSA INA. Masuk nominasi 11 terbaik dari 1000 guru menulis puisi. Antologi tunggalnya "Lelaki Leihitu" "Kutemukan Penyesalan di Setiap Kehilangan" Terbit 2021. Puisi-puisinya pernah dimuat oleh redaksi APAJAKE, Salmapublishing, Poros Timur dll. Kini aktifitasnya sebagai pengajar.
Kita yg pernah ada. . Hmm keren👌