Catatan atas Novel “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris” karya Rida K Liamsi: oleh Prof. Yusmar Yusuf

6

Membuka Tirai Sejarah

Setelah menyimak sekilas, novel ini tampil begitu memukau (trés parfait), sangat sempurna. Penulis dengan begitu peka mampu menghadirkan suasana kultural yang otentik, termasuk rekonstruksi salam “duka cita” khas Melayu dan Bugis. Lembar demi lembar membawa ingatan kita pada sekilas lapak perdana Tengku Kamariah yang menjeluk jauh ke dalam batang sungai Jantan, mengiringi keputeraan sang tokoh: Tengku Buang Asmara. Salam yang dihadirkan di sini terasa bagai sebuah “Bonjour tristesse” sebuah sapaan atas kesedihan yang puitis. Di dalamnya, mengalir serak air mata pertelagahan yang “tak dimengerti” dalam celaruan konflik bergelombang. Nuansa jatuh cinta yang rumit ini mengingatkan kita pada gaya penceritaan Yasunari Kawabata melalui karakter dramatis Komako. Sungguh, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi tinggi.

Enkripsi Sejarah dan Kedalaman Khazanah Melayu

Sebagai sebuah “novel sejarah” yang dirimbuni oleh parafrase “rekonstruksi kultural” yang amat kuat, karya ini sejatinya berstatus end-to-end encrypted. Artinya, kita yang menyimak kisah ini dituntut untuk memiliki endapan bacaan yang dalam mengenai sejarah Melayu klasik. Teks ini bergerak di antara busung pasir, endapan sejarah yang membeting seperti yang terekam dalam Sulalatus Salatin, Taj al Salatin, Salasilah Melayu-Bugis, Tsamarat al Muhimmah, dan utamanya tentu saja Tuhfat al Nafis (meski patut disayangkan, Tuhfat versi Trengganu kini bak posisi Bibel Barnabas dalam sejarah teks Melayu).

Sifatnya yang end-to-end encrypted ini laksana status obrolan dalam aplikasi WhatsApp; dia terkunci rapat. Kisah ini tidak akan bisa disuluh, diintip, apalagi dipahami oleh orang ketiga jika mereka tidak dicahayai oleh pengetahuan atau bacaan pendahulu mengenai tali kesejarahan yang dijadikan gayutan oleh sang penulis atau yang kita sebut sebagai “sang pentakwil” dalam terma tasawuf tajalliat. Untungnya, deretan nama tokoh (dramatis personae) yang disusun di bagian awal bertindak sebagai glossarium sekaligus advance team. Mereka dengan tanggap mengemudi pembaca untuk menyelam ke samudera sejarah dalam tafsir-tafsir yang segar dan anti-banality. Langit kreatif sang penulis rupanya masih tetap seinci di atas ubun-ubun.

Berita Lainnya

Refleksi Komparatif

Aura falsafati dalam novel ini membawa memori saya pada novel Kuil Kencana karya Yukio Mishima, sebuah bacaan yang saya lahap di era 80-an. Sebagai novel sastra serius, Mishima menampilkan keindahan bahasa dengan endapan psikologi terdalam pada sosok calon biksu Zen yang gagap. Lewat keterbatasan fisiknya, tokoh yang gagap itu justru mampu membolak-balik keindahan dan kemolekan kuil tua di pinggiran Kyoto dengan sangat tajam. Karena mulutnya “terkunci” oleh kegagapan, “dunia dalam“-nya justru terkunci rapat dan membuatnya lebih lincah menghubungkan diri dengan dunia luar. Ia bebas menerawang dalam imaji-imaji hagiologi. Aras kemalaikatan atau sapaan para dewa, sebuah konsep “dewa” yang sebenarnya juga akrab dalam kosmologi kita di Melayu.

Melalui kekuatan narasi sejarah yang ranggi seperti ini, karya Bang Rida sebetulnya sangat fleksibel dan kaya. Ia boleh saja di-Mendu-kan, dibawa ke ranah teater Noh (teater tua Jepang era sebelum Edo), atau malah di-Merong-Mahawangsakan di area Lembah Bujang, Kedah. Saya menaruh rasa salut yang mendalam kepada mereka yang mampu menukil sejarah yang gagah ini dalam kemasan novel yang rapi, bak pinang berleret. Di dalamnya terkandung pertanyaan eksistensial yang sunyi: Kenapa keindahan harus disebut indah? Kenapa dia harus berselubung dalam kemuraman? Ketika aku menentangkan diri di ruang tengah kuil, malah kuil itu menjadi tiada…

Catatan Redaksional

Secara keseluruhan, novel karya Bang Rida ini berhasil menjilat kearifan timur (the oriental wisdom) dengan cara yang sangat mempesona. Harapan kita bersama, para pembahas atau pemantik novel ini dalam diskusi nanti tidak mengalami kompleksitas atau “demam” akibat sifat teks yang end-to-end encrypted ini. Jangan sampai kisah yang begitu kaya justru gagal diintip dengan cerlang oleh mata ketiga hanya karena keterbatasan latar bacaan.

Namun, sebagai catatan teknis yang perlu diperhatikan sebelum peluncuran penuh, masih ditemukan cukup banyak kesalahan ketik (typo) pada lembar-lembar awal. Tampaknya proses keredaksionalan belum selesai secara menyeluruh. Sebagai contoh, tertulis kata bertilam yang sepertinya dimaksudkan bertikam, serta kata patarana yang sejatinya adalah peterakna. Jika waktu memungkinkan, saya tentu sangat teringin untuk hadir dalam bedah karyanya. Namun menjelang konferensi di Bali ini, saya harus mengebut mempersiapkan berbagai materi terlebih dahulu. Sukses dan apresiasi setinggi-tingginya untuk karya yang luar biasa ini.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan