


Tidak dapat dinafikan bahwa bila seorang penyair cenderung mengangkat beragam tema tentang kepedihan negeri—seperti ketidakadilan sosial, kemiskinan, penindasan, krisis moral, lingkungan, dan lainnya dalam banyak puisi (sajak) yang dihasilkannya, termasuk juga dalam karya sastra lainnya seperti cerpen dan prosa. Kondisi ini lain tak bukan dikarenakan karya sastra itu memiliki fungsi profetik (kenabian), estetis, dan sosiologis yang kuat bagi menyampaikan pesan tersebut.
Dalam pandangan sastra profetik, puisi tidak hanya berhenti pada keindahan bahasa, tetapi juga membawa tanggungjawab etis dan kemanusiaan. Lebih dari itu, puisi memiliki misi yang luhur: menjalankan “tugas kenabian” atau profetik. Berkaitan hal ini, tak jarang sebuah puisi hadir melampaui kepentingan duniawi sang penulisnya, bahkan melampaui dirinya sendiri. Setelah sebuah buku atau tulisan diterbitkan/dituliskan, ia sesungguhnya bukan lagi milik penulis, melainkan milik publik yang bebas menafsirkan. Maka, puisi menjadi ruang dialog, ruang spiritual, dan ruang sosial bagi siapa pun yang membacanya.
Di jagad raya puisi Indonesia, tema-tema kepedihan sosial, termasuk lingkungan, kerap mendominasi setiap karya sastra para penyair dan sastrawan. Ia menjadi medium, suara bagi yang tertindas, terutama masyarakat kecil atau kelompok masyarakat marginal yang tidak memiliki akses (saluran) untuk menyuarakan penderitaan mereka. Dalam situasi begini, penyair hadir menjadi penyambung lidah paling depan bagi mereka yang terbungkam—sebagai fungsi sosial dan bentuk perlawanan. Di samping itu, puisi-puisi yang disuarakan itu menjadi kritik terhadap penguasa, sebagai alat kontrol sosial yang elegan namun tajam untuk menegur penguasa, birokrat, atau sistem yang rusak tanpa harus terjebak dalam retorika politik yang kaku.
Di banyak kondisi (baca : dalam persoalan sosial dan lingkungan) yang berlaku, kehadiran puisi bukan semata menjadi penghias dan penyemarak atas sebuah kebudayaan yang telah wujud di tengah masyarakat. Ia hadir sebagai saksi zaman, menjadi arsip tidak resmi dan paling sunyi dari perjalanan sebuah bangsa dan suatu negeri. Ketika sejarah formal ditulis oleh para pemenang, puisi sering kali mencatat realitas pahit, air mata, dan jeritan rakyat yang sebenarnya terjadi di akar rumput. Dengan mengungkap kepedihan, penyair mengajak pembaca untuk melakukan refleksi secara bersama-sama, mengenali akar masalah dan merawat kesadaran kolektif agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali.
Berbagai tema kepedihan—terutama tentang luka, duka, dan penderitaan—yang kemudian ditulis dan disuarakan dengan padu dan syahdu oleh penyair lewat puisinya, sering kali menawarkan bahan bakar emosional yang jauh lebih kaya dan mendalam untuk diolah secara puitis dibandingkan kegembiraan yang sifatnya sesaat. Kepedihan melahirkan perenungan filosofis yang menyeluruh. Namun perlu diingat, penyair menulis bukan untuk merayakan luka, melainkan untuk mengubah kepedihan menjadi kesadaran, dan kemudian mengubah kesadaran itu menjadi sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan.
Membaca sekaligus mencermati puisi Musa Ismail—salah seorang sastrawan Riau yang berjudul Mengeja Senja di Telukpambang: Kepada MZ (bertitimangsa Sabtu, 09 Rabiul Awal 1448 H/22 Agustus 2026), bahkan puisi tersebut sempat dibaca dan dipostingnya melalui akun facebook-nya beberapa hari lalu, dapat dikatakan bukan sekadar puisi yang hanya melukiskan kondisi alam pesisir Riau yang romantik, melainkan sebuah luapan kepedihan, duka cita yang dalam terhadap kondisi alam serta lingkungan yang demikian ‘mencemaskan dan memprihatinkan’. Selain itu, puisi ini dapat dimaknai sebuah kritik halus terhadap suatu laku budaya atau persoalan yang ditulis dengan nada suci.
Lantas, apakah sesungguhnya yang hendak dieja Musa Ismail melalui puisinya berjudul Mengeja Senja di Telukpambang kali ini? Adakah soal kepedihan, kegelisahan dan kekhawatirannya terhadap persoalan lingkungan, seperti isu abrasi yang sudah berpuluh-puluh tahun mendera tebing-tebing pantai daerah pesisir di Pulau Bengkalis, termasuk Telukpambang sendiri? Adakah pesan atau amanat lain yang lebih besar yang hendak disampaikannya kepada pembaca? Melalui tulisan sederhana ini mari kita mencoba membongkarnya!
Sejak baris pertama hingga terakhir, sajak yang ditulis lelaki kelahiran Pulauburu, Karimun – Kepulauan Riau pada 14 Maret 1971 ini bergerak seperti riak air yang mengalir pelan. Di permukaan, ia tampak tenang tak berarus kencang, namun menyimpan pergolakan eksistensial mengenai erosi alam—seperti abrasi—yang terus terjadi dan mengancam kehidupan. Di bagian lain persoalan lingkungan yang terjadi itu secara perlahan, namun pasti membuat ingatan kolektif masyarakat menjadi punah, tak lagi berdaya menghadapi setiap ‘bencana’ yang timbul akibat kerusakan alam dan lingkungan tersebut. Kebanyakan yang terjadi hari ini, masyarakat terkesan diam dan apatis menyikapi kondisi yang terjadi.
Dalam puisi ini, Musa Ismail sebagai seorang penyair secara tangkas menjahit yang ilahi dengan yang fana. Frasa “Bismillah” di awal dan “Alhamdulillah” di akhir mempertegas bahwa puisi ini adalah sebuah ritual—sebuah doa bertubuhkan kata-kata. Melalui puisi ini, ada harapan besar yang diinginkannya, yaitu sebuah perubahan ke arah yang lebih baik; memperbaiki setiap tindakan yang keliru, serta menemukan sebuah keputusan yang bijak dan dapat menyelesaikan persoalan.
Pemaknaan-pemaknaan yang dihadirkan Musa Ismail dalam puisi Mengeja Senja di Telukpambang ini terasa terang dan hidup dalam setiap larik puisinya. Laut sebagaimana yang dikisahkan tidak sekadar benda mati. Ia hidup dan bergelombang, “mengaji pada senja“, sementara pohon bakau digambarkan “bungkuk seperti seorang tua menjunjung adat“. Melalui personifikasi ini, alam tidak lagi menjadi objek pasif, melainkan aktor spiritual (subjek) yang bergerak memikul beban “marwah“, harga diri dan kehormatan bagi tanah pusaka.
Di Telukpambang, laut mengaji pada senja,
membaca doa dari bibir pantai yang luka,
bakau bungkuk seperti seorang tua menjunjung adat
dengan akar dan setia menahan tanah marwah
Menariknya lagi, Musa Ismail—seorang cerpenis, esais dan novelis—di puisi ini tidak hanya menggambarkan laut sebagai subjek utama yang hanya “mengaji pada senja”, “bersampan seperti tasbih yang sabar“, namun hadir juga kata-kata penuh makna lainnya seperti “rumah zikir Melayu“, “doa-doa Pambang berlayar“, “menghitung rezeki”, “menghitung usia”, menghitung luka tanah pusaka“. Di sini laut bagi penyair yang pada awal-awal kepenulisaannya sering menggunakan nama pena Musa Alkindi—bukan hanya alam yang disakralkan. Laut menjadi semacam ruang ibadah, ruang memori, ruang ekonomi, dan sekaligus menjadi ruang sejarah. Laut: tempat mencari rezeki, tempat masa kanak-kanak disimpan, tempat doa berlayar, tempat budaya Melayu hidup, sekaligus tempat luka ekologis terlihat. Ketika laut rusak, yang rusak bukan hanya ekosistem. Yang terancam adalah sebuah kosmologi kehidupan.
Selain apa yang disampaikan di atas, di balik keindahan ritmenya—bait kedua dan kelima puisi ini memancarkan luka yang nyata. Citraan “sejengkal demi sejengkal kehilangan tubuh” merujuk pada abrasi yang sekian lama menggerogoti daratan daerah ini (Telukpambang, termasuk kawasan pesisir lainnya), sekaligus menjadi metafora terhakisnya identitas lokal oleh laju zaman. Namun, di tengah keterancaman tersebut, penyair menghadirkan kontras yang kuat melalui figur nelayan dan anak-anak. Ada keteguhan yang puitis pada kalimat “menambat harap pada tiang-tiang subuh” serta “bersampan seperti tasbih yang sabar“—memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir yang selalu bertaut pada iman untuk tetap bertahan hidup di tengah kepungan ‘arus kepunahan’ alam (pantai).
Puncak permenungan puisi ini terletak pada persoalan bagaimana suatu kesadaran diwariskan (tongkat estafet kesadaran). Pertanyaan retoris tentang siapa yang akan menjaga tanjung dan bakau di kemudian hari dijawab bukan dengan narasi kemarahan, melainkan ketundukan yang optimis: “biarlah tumbuh dari hati kanak-kanak di pagi hari“. Anak-anak yang bermain gelombang bukan hanya sekadar simbol harapan. Mereka adalah pewaris tanah pusaka di masa datang, penjaga akar kebudayaan Melayu agar tidak lenyap disapu oleh pasang surut kehidupan. Di pundak dan di tangan-tangan anak-anak inilah diharapkan kelak menjaga tanjung, bakau, dan lautan dengan pendidikan kesadaran. Dari hati kanak-kanaklah tanggung jawab itu diharapkan tumbuh.
Seruan di akhir bait—”Temukanlah jalan pulang kepada marwah!“—menjadi lecut paling kuat dan menyentak. Lewat puisi ini, Musa Ismail sebagai penyair seakan ingin menegaskan bahwa sejauh apa pun ombak yang datang mengikis pantai dan daratan, juga perubahan zaman yang dapat menggerus tradisi, kesadaran untuk pulang memelihara martabat tanah kelahiran harus tetap hidup, mengakar sekuat bakau di dalam lumpur. Ini adalah karya yang tidak hanya elok secara estetis, tetapi juga bernas secara ekologis dan kultural.
Sebagai seorang penyair dan sastrawan yang kini bertugas di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis—yang setiap hari dihadapkan dengan laut, selat, sungai dan bakau-bakau, sengaja atau tidak hal itu telah mendorongnya menjadi seseorang yang sadar akan lingkungan tempatnya berdomisili. Dengan kondisi ini tidak menghairankan bila karya-karya sastra beliau berupa puisi (termasuk cerpen) selalu lahir dari kepekaan terhadap krisis lingkungan. Alam tidak lagi hanya dipandang sebagai latar belakang yang indah, melainkan sebagai “tubuh” yang sedang terluka dan menderita.
Di balik nada duka dan elegannya, kondisi lingkungan yang terjadi hari ini menyimpan pesan kritis serta dorongan moral agar manusia kembali menghormati, merawat, dan memulihkan hubungannya dengan alam. Dalam konteks puisi Mengeja Senja di Telukpambang, istilah ini digunakan karena puisi tersebut meratapi terkikisnya daratan dan terancamnya ruang hidup masyarakat pesisir, sekaligus menjadi penghormatan atas ketahanan alam dan tradisi lokal yang menjaganya.
Karena itu, membaca puisi ini hanya sebagai puisi tentang keindahan pesisir Riau tentu terasa belum cukup. Di bawah ketenangan senja, terdapat luka. Di balik laut yang mengaji, terdapat kegelisahan. Dan di antara akar bakau yang berlumpur, penyair seperti sedang mempertahankan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tanah, yaitu marwah tanah pusaka.
Untuk lebih jauh memperoleh seperti apa gambaran kegelisahan dan kekhawatiran Musa Ismail—lelaki yang telah menerbitkan sebuah buku puisi berjudul Tak Malu Kita Jadi Melayu pada 2019 lalu—terhadap kondisi ekologis yang mendera daerah-daerah pesisir Bengkalis melalui puisinya kali ini, khususnya seperti yang terjadi di Telukpambang—yang dalam puisi tersebut pun secara tegas ia nyatakan langsung kepada SPN Marhalim Zaini, salah seorang sastrawan Riau sekaligus teman karib yang lahir di Telukpambang dan menetap di Pekanbaru itu, mari sejenak kita tumpukan perhatian sekalius memaknai setiap larik puisinya ini, puisi yang ditulis dengan indah dan tentu mengandung makna yang luas:
Mengeja Senja di Telukpambang
: Kepada Marhalim Zaini
Bismillah,
Di Telukpambang, laut mengaji pada senja,
membaca doa dari bibir pantai yang luka,
bakau bungkuk seperti seorang tua menjunjung adat
dengan akar dan setia menahan tanah marwah
Setiap tahun ombak datang membawa kabar
mengikis laman kenangan
sejengkal demi sejengkal kehilangan tubuh
Nelayan tetap menambat harap pada tiang-tiang subuh
Wahai laut, rumah zikir Melayu
menyimpan ingatan masa kanak-kanak
menjaga kehidupan di setiap derasnya arus
Di Telukpambang, kanak-kanak bermain gelombang
Angin pantai menyimpan air mata
belajarlah dari pasang surut kehidupan
Jika kelak pantai bertanya kepada zaman
siapa yang menjaga tanjung, bakau, dan lautan?
biarlah tumbuh dari hati kanak-kanak di pagi hari
Di selat biru, doa-doa Pambang berlayar
merangkai kabar hingga ke muara
bersampan seperti tasbih yang sabar
menghitung rezeki, menghitung usia,
menghitung luka tanah pusaka
Dan bila suatu hari ombak menagih sumpah
biarlah roh kampung bangkit
dari akar bakau yang berlumpur
Temukanlah jalan pulang kepada marwah!
Alhamdulillah.
Teluk Pambang, Sabtu, 09 Rabiul Awal 1448 H / 22 Agustus 2026
Inilah sebuah yang tidak hanya sekadar menyuguh keindahan bahasa dan kata-kata, namun juga mengemukakan soal kegelisahan ekologis yang direpresentasikan penyair melalui lanskap Telukpambang, Bengkalis (pada persoalan abrasi dan lingkungan yang juga berlaku di berbagai kawasan daerah pesisir di Riau). Ia bukan hanya sebuah puisi yang menyuarakan kerisauan dan kepedihan akan suatu bencana secara lokal, tetapi juga puisi yang mampu berkata bahwa inilah tanah kita, tanah pusaka yang masih saja menyimpan luka, bahkan air mata.
Dan, ini pulalah puisi yang berbicara tentang abrasi yang digelisahkan dan dikhawatirkan Musa Ismail. Mengeja Senja di Telukpambang bukan semata-mata puisi tentang abrasi, melainkan puisi tentang kehilangan. Abrasi menjadi metafora bagi terkikisnya tanah, ruang hidup, ingatan, kebudayaan, dan identitas dan marwah Melayu. Karena itu, penyelamatan alam dalam puisi ini pada saat yang sama merupakan usaha menyelamatkan ingatan dan identitas masyarakat pesisir.
Wallahu a’lam.
Bengkalis, September 2026
Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, penyair dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia tidak hanya menulis esai maupun artikel budaya dan sastra, namun juga menulis puisi, cerpen dan novel serta membukukan karya-karya sastranya itu. Bersama sejumlah penulis lokal lainnya di Bengkalis, ia juga menulis buku non fiksi seperti buku berjudul Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis: Meneladani Sosok dan Perjuangan (jilid 1 & 2). Sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan turut ia sertai, di antaranya aktif di struktur Majelis Kerapatan Adat LAM-R Kabupaten Bengkalis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis dan Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis. Ia juga sering didaulat dalam memberikan materi pelatihan tentang tulis-menulis, serta menjadi juri menulis cerpen, puisi dan lomba bersyair.