

Insya Allah, 9 November 2026 tahun ini, genap sudah usia Tenas Effendy berusia 90 tahun (menurut sumber LAMR Provinsi Riau Tenas dilahirkan pada 9 November 1936). Ada sedikit perbedaan data soal tahun kelahiran menurut biodata pada beberapa buku yang beliau tulis. . Beliau lahir pada 9 November 1939 di Kampung Tanjung Malim, Kuala Pelanduk, Pelalawan, Riau. Sebuah institut ditubuhkan untuk mengekalkan pemikiran sang tokoh, dengan nama Institut Kemelayuan Tenas Effendy. Institut ini dipimpin oleh Dr. Elmustian Rahman sebagai ketua dan Dr. Bambang Kariyawan sebagai sekretaris. Sebetulnya usaha mengkaji dan mensyiarkan pemikiran peradaban Tenas Effendi sudah dimulai setahun yang lalu melalui pembuatan Grup WA bernama Institut Pemikiran Kemelayuan Tenas Effendy yang dinakhodai Rida K. Liamsi.
Tenas Effendy atau Tengku Nasaruddin Said Effendy adalah budayawan Melayu terkemuka yang wafat pada 28 Februari 2015. Ayahnya bernama Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri dan ibunda bernama Tengku Syarifah Azamah binti Tengku Said Abubakar. Keduanya kerabat kerajaan diraja kerajaan Pelalawan.
Beliau selama hidupnya bagaikan mewakafkan diri untuk pemikiran kebudayaan dan peradaban Melayu. Berfikir dan menulis adalah nafas`kesehariannya. Karena itulah pengaruh tulisannya itu sampai ke negeri semenanjung. Beliau hadir seolah tak ada bandingannya. Karena itu sahabat-sahabatnya di Malaysia berusaha untuk mengekalkan segala hasil tulisannya untuk dibukukan. Tak heranlah bila kemudian menerima penghargaan gelar Doctor Honoris Causa (Dr. HC) pada 17 September 2005 dari Universiti Kebangsaan Malaysia dalam bidang Persuratan/Kesusasteraan. Penganugerahan dilakukan di Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Bangi, Selangor, dalam majelis Konvokesyen ke 35 UKM. Penghargaan ini disebut sebagai gelar akademis tertinggi yang diterimanya atas jasa-jasanya dalam pengambangan kebudayaan Melayu, setelah sebelumnya menulis sekitar 200 judul buku tentang Melayu.

Hasil karya beliau antara lain Pemimpin dalam Ungkapan Melayu (LAMR, 2014), Syair Nasib Melayu (LAMR, 2013), Kearifan Pemikiran Melayu (TE Foundation, 2013), Ungkapan Melayu (Disbudpar Riau, 2012). Ejekan Terhadap Orang Melayu Riau dan Pandangan Orang Melayu Riau (Disdik Riau, 1994), Tunjuk Ajar Petuah Orang Tua-tua (Unilak, 1995), Ungkapan Tradisional Daerah Riau yang Berkaitan dengan Pembangunan (Pemda Riau, 1989), Pemakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu (1999), Pantun dalam Tunjuk Ajar Melayu (BKPBM Adicita, 2006), Buku Saku Budaya Melayu Yang Mengandung Nilai Etos Kerja (Pemda Riau, 2004), Khazanah Pantun Melayu Riau( DBP Kualalumpur, 2007), Ungkapan Tradisional Melayu Riau (DBP Kualalumpur, 1989), Bujang Tan Domang (Yayasan Bentang Budaya, 1997). Dan masih banyak yang lain lagi antara lain dalam bentuk kertas kerja.
Kalau diperhatikan lebih jauh, banyak karya Tenas Effendy kemudian diterbitkan oleh berbagai pihak sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Misalnya pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau menerbitkan Tunjuk Ajar Melayu, dalam bentuk buku saku, setebal 190 halaman, di tahun 2009. Maksud dan tujuan penerbitan buku ini seperti dinyatakan oleh Joni Irwan, Kadisbudpar Riau pada kata pengantarnya …. tokoh harus mampu mengenali minat dan kebutuhan masyarakatnya untuk menentukan prioritas pembangunan. Dari atas ia harus mampu menerjemahkan pesan-pesan pembangunan ke dalam kerangka kebudayaan masyarakatnya, sehingga dapat membangkitkan kesadaran dan keikutsertaan mereka secara aktif. Disamping itu mengacupada tradisi, para tokoh adat harus mampu menanamkan motivasi kepada masyarakat agar dapat menanggapi tantangan secara wajar dan tepat.
Karya besar Tenas Effendy dalam merumuskan Tunjuk Ajar Melayu menjadi sumber yang tak habis-habisnya, apalagi ketika Gubernur Saleh Djasit (1998-2003) merumuskan visi dan misi Riau dalam Peraturan Daerah No. 36 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Provinsi Riau Tahun 2001-2005, menjadi: Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis, Sejahtera Lahir dan Bathin, di Asia Tenggara Tahun 2020.
Semua pihak bila berbicara soal pembangunan dan kebudayaan, mau tak mau akan merujuk pada karya-karya Tenas Effendy. Saya ingin mengutip perkataan dari Muhammad Amin, editor buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Sagang, 2015) yang menulis kata pengantar : …… Sepanjang hidupnya Tenas telah mendedikasikan diri untuk mngumpulkan berbagai kearifan Melayu. Semua yang terserak dalam ungkapan di upacara-upacara, nasihat-nasihat orang tua, keputusan dan kebijakan kepala adatm serta beberapa sastra lisan dirangkumnya ke dalam catatan yang relatif lengkap. Dia adalah kurator yang teliti, peneliti yang tunak, dan budayawan yang jenius. Tenas adalah maestro seperti halnya HB Jasin yang begitu tunak dan tekun mengumpulkan kebrbagai kebijakssanaan. Dia adalah pengukuh pancang Melayu, paling utama, tak hanya di Riau dan Kepri, tapi juga di negeri jiran serumpun, Malaysia. Universitas-universitas di Malaysia “berebut” memintanya berceramah, bahkan memberinya gelar doktor dan profesor.
Apabila seseorang berkunjung ke rumah Tenas Effendy, yang berada di pinggir Jalan Pasir Putih, Siak Hulu, di sana terdapat koleksi karya-karya tulisan Tenas Effendy dari masa awal sampai sekarang. Bukan hanya tulisan benda-benda budaya dari berbagai kampung di Riau juga bisa ditemukan. Namun persoalannya sekarang adalah siapa yang akan merawatnya? Anak-anaknya semuanya sudah berkeluarga ada yang di Pekanbaru dan ada juga yang di luar Riau. Mereka mengaku sangat cinta pada warisan intelektual orang tua mereka, namun untuk memeliharanya sehari-hari mereka sudah tak berdaya lagi. Mengawal dan merawat buku dan benda-benda budaya tentu saja bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Apalagi rumah yang bangunannya terdiri dari kayu yang tentu saja cara dan metode pemeliharaannya agak berbeda dengan bangunan masa kini.
Saya ingat artikel Fakhrunnas MA Jabbar berjudul Ketika Tumpukan Buku menjadi Beban Keluarga yang dimuat dalam buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu yang menjelaskan bahwa ketika penyair Hamid Jabbar meninggal dunia, maka ribuan buku menjadi warisan keluarga. Isterinya bingung. Mau diapakan ribuan buku itu. Setelah dimasukkan di dalam puluhan kotak-kotak kardus, ia pun bingung. Siapa yang peduli dengan buku-buku itu? Isterinya berkata kepada Fakhrunnas MA Jabbar silakan buku-buku itu bawa ke Riau. Mungkin akan lebih berguna dari pada terletak begitu saja di rumah ini.
Demikian juga dengan ketika Hasan Junus meninggal dunia. Ribuan buku yang tersimpan dalam rak-rak buku rumahnya seperti kehilangan tuannya. Setelah berkomukasi dengan pendekatan kekeluargaan (Hasan Junus adalah darah biru dari keluarga kerajaan di Pulau Penyengat) kemudian pemerintah provinsi Kepulauan Riau berbaik hati, membeli semua buku dimaksud untuk memperkaya perpustakaandi Tanjung Pinang.
Dalam pertemuan tanggal 16 Agustus 2026 antara pengurus Institut Kemelayuan Tenas Effendy dengan ahli waris Tenas Effendy hal itu pun dibincangkan. Pendekatan dengan Pemda Riau telah lama dilakukan namun belum terlihat ujungnya. Prof. Dr. T. Dahril pun menawarkan diri untuk ikut menawarkan jalan keluar dengan mencoba mendekati Pemkab Pelalawan. Boleh jadi Pemkab akan merasa berkepentingan untuk ikut merawat dan memelihara kekayaan budaya dari anak daerahnya sendiri yang ternyata kebesarannya melebihi dari wilayah kekuasaan Pemkab Pelalawan itu sendiri.
Sebagai penutup dari tulisan menyambut peringatan 90 Tahun Tenas Effendy ini, ada baiknya saya kutip elu-eluan dari Prof. Madya Dr. H. Awang Sariyan, Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, dalam buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu yang menyatakan bahwa unsur hikmah atau kebijaksanaan akal budi Melayu dalam buku ini tampak lebih penting karena berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan iatu aspek penting yang menjadi prasyarat kemantapan dan penakatan sesuatu bangsa dan negara, bahkan semua institusi yang lebih kecil dari pada negara, termasuk institusi keluarga. Buku Pujangga Datuk Tenas Effendy ini memaparkan beberapa sudut kepemimpinan Melayu. Tajuk Pemimpin dalam Ungkapan Melayu dipecahkannya kepada pembicaraan tentang siapakah pemimpin, pakaian pemimpin. Aspek-aspek lain yang diberi tumpuan ialah kepribadian pemimpin, kepantangan pemimpin, jenis pemimpin dan gelar pelengkap.
Dalam konteks globalisasi yang menyebabkan pelbagai sistem kehidupan di barat dengan mudah terserap dalam kalangan masyarakat sedunia, maka amat penting akar tradisi bangsa dipelihara, termasuk dalam bidang kepemimpinan. Meskipun tiada`salahnya menyaring ciri tertentu kepemiminan barat atau sumber lain, selama tidak bertentangan dengan akar agama Islam, namun lunas kepemimpinan yang telah demikian lama mentradisi dan menjadi tunjang kekuatan peradaban Melayu, tidak sewajarnya diabaikan. Dalam hubungan inilah karya ini memberikan sumbangan yang cukup besar.
Husnu Abadi adalah dosen pada Fakutas Hukum UIR, menerbitkan 5 antologi puisi (terakhir Lautan Rempang, 2025) dan kini diberi amanah sebagai Ketua Bidang Sosial Kemasyarakatan Institut Kemelayuan Tenas Effendy.