

Ia lahir dari keluarga pekerja dan petani di kawasan pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah. Ia tidak mewarisi darah seni. Kecintaannya pada dunia rupa bersemi sejak usia kanak-kanak, dipupuk oleh kekagumannya pada kesenian wayang kulit, mulai dari jalinan cerita dan legendanya, hingga bentuk, ornamen, serta dekorasi warnanya yang meriah. Minat mendalam terhadap dunia wayang inilah yang membawanya menempuh pendidikan seni di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta (lulus 1983), lalu melanjutkan studi di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, hingga merengkuh gelar sarjana pada 1994.
Secara visual, lukisan-lukisan Nasirun memiliki identitas yang amat kuat, berakar dari distorsi bentuk wayang, mistisme Jawa, ornamen alam, ritus tradisional, hingga kearifan lokal, yang hampir sekujur permukaannya dibalut aksen dekoratif batik, huruf Jawa Kawi, atau Arab gundul (Pegon). Jika ditinjau secara spiritual, karya-karyanya memiliki korelasi yang erat dengan napas mistisme Jawa dan Islam, suatu persenyawaan estetik yang langka dijumpai pada seniman lain di Yogyakarta.
“Cita-cita saya waktu kecil itu ingin menjadi ustadz, menjadi kyai,” ujarnya, yang selalu disusul dengan tawa terkekeh-kekeh lepas, seolah menghempaskan segenap beban hidup yang menghimpit.
Mungkin karena cita-cita masa kecil itulah gema mistisisme Islam senantiasa berkelebat dalam kanvas-kanvas Nasirun, termasuk penggunaan ornamen beraksara Arab gundul. Huruf tersebut pernah menjadi medium literasi penting bagi masyarakat Nusantara berbahasa Sunda, Jawa, maupun Melayu.
Saya jadi teringat, almarhum Uwa saya (Pak Dhe) dulu kerap berkirim surat menggunakan bahasa Sunda namun ditulis dengan huruf Arab gundul. Saya pernah menulis catatan bahwa lahirnya diftong dalam bahasa Indonesia berhuruf Latin bermula dari kebiasaan orang Melayu menggunakan huruf Arab gundul tersebut. Saya yakin, Nasirun pun akrab dengan aksara tersebut dan memandangnya sebagai lambang identitas kultural Islam-Jawa, sehingga huruf-huruf itu sering menyusup ke dalam kanvasnya untuk merawat cita-cita masa kecilnya yang tak sempat berwujud.
“Cita-cita mulia itu tidak kesampaian, dan malah saya jadi pelukis, karena dari kecil saya memang senang menggambar.”
Sastrawan Joni Ariadinata, yang turut menemani saya saat bertamu ke rumah Nasirun kala itu, meyakini bahwa dalam sanubarinya, Nasirun adalah seorang kyai. Suatu ketika, Nasirun pernah dikritik pedas oleh seorang pemuka agama di media sosial, dan Joni dengan sigap pasang badan membelanya. Setelah diusut, ternyata sang penceramah melancarkan kritik itu lantaran merasa sedekah yang diterimanya tidak sesuai ekspektasi. Sungguh ironis bilamana kaum agamawan menempatkan diri seolah-olah hanya bergantung pada belas kasih sedekah semata.
Nasirun sendiri mengaku bukanlah tipe orang yang mahir beretorika atau merangkai kata-kata berbunga untuk membela diri. Perdebatan panjang dihindarinya sejauh mungkin, termasuk ketika ia dihujat di dunia maya.
“Ketika orang-orang mengeritik aku lewat tulisan di koran atau dalam diskusi, kujawab dengan karya,” ucap perupa yang produktivitasnya seakan tak pernah surut ini.