Ada yang Menangis Sepanjang Malam di Ujung Ramadan: Cerpen Rusmin Sopian

5

Rembulan mulai menampakkan sinar kerupawanannya. Sebuah pertanda, malam segera tiba.
Cahayanya menyinari bumi. Benderangkan alam raya. Sementara cahaya bintang dilangit mengornamen malam.
Pak RT kaget setengah mati. Jantungnya berdegup kencang. Laksana seperti para koruptor yang terkena OTT KPK.
Suara tangisan warga yang didengarnya dan menghantam gendang telinganya, membuat jantungnya hampir copot dari katupnya.
Tangisan warganya sungguh sangat menyayat hati. Mengisyaratkan sebuah kesedihan yang sangat dalam hingga menembus dinding nurani orang-orang yang mendengar tangisan itu.
Suara tangisan yang sangat memilukan hati para pendengarnya. Suara tangisan berbalut kesedihan itu bak koor paduan suara yang sangat harmoni.
” Ada apa ini? Kok kalian semua menangis? Apa kalian tidak dapat jatah beras miskin dari Kelurahan,” tanyanya.
“Bukan Pak. Bukan karena itu,” jawab warga sambil terus menangis.
“Lalu soal apa?” tanyanya lagi.
Warga tak menjawab. Hanya menunjuk ke arah rembulan malam yang malam itu cahayanya berlumuran surgawi.
“Bulan?” ujar Pak RT penuh tanya.
“Kalau begitu, saya mesti melapor kepada Pak RW atas kondisi yang terjadi ini,” ujar Pak RT dalam hati sembari bergegas meninggalkan warganya yang masih terus menangis.
Tangisan warga juga melanda kawasan RW. Seolah menular ke RW. Pak RW yang baru pulang dari Pos Ronda sangat kaget mendengar warga di RW-nya menangis.
“Kenapa kalian menangis?” tanya Pak RW penuh dengan nada penuh selidik.
“Kami sedih Pak,” jawab warga dengan nada suara tersekat.
“Kenapa kalian sedih? Memangnya kupon pembelian sembako belum kalian terima?” tanya Pak RW.
“Bukan soal kupon sembako Pak,” jawab warga dengan nada suara yang masih tersekat berbalur kesedihan.
“Lalu soal apa,” tanya Pak RW dengan nada kebingungan.
Warga tak menjawab. Hanya jari mereka menunjuk ke arah rembulan yang bersinar terang.
“Bulan?” tanya Pak RW.
Warga hanya menggangguk.
Di kantor Kelurahan, Pak Lurah menerima laporan dari para RT dan RW tentang maraknya tangisan massal yang melanda para warganya.
Pak Lurah tampak sangat antusias mendengar laporan yang datang bertubi-tubi dari bawahannya.
Wajahnya kadang berkerut sangat menerima laporan dari bawahannya.
“Kalau begitu, kita harus cepat melapor kepada Pak Camat sehingga ada langkah antisipasi dan aksi dari Pak Camat,” ujar Pak Lurah sambil mengajak para RT dan RW ke Kantor Kecamatan.
Mereka kaget saat tiba di Kantor Kecamatan. Tampak para Lurah beserta perangkatnya dari Kelurahan lainnya telah memenuhi aula Kantor Kecamatan.
Pak Camat tampak sangat cermat mendengar laporan yang datang bertubi-tubi dari para lurah beserta perangkatnya tentang tangisan massal yang dialami warganya.
“Saya sungguh sangat heran. Kok ada warga yang menangis secara massal pada malam yang sangat indah ini. Padahal besok adalah hari kemenangan akan tiba. Hari Idul Fitri. Hari lebaran,” cetusnya usai menerima laporan dari perangkatnya.
Baca Juga Seperempat Abad
“Saya akan segera menghadap Pak Bupati malam ini. Saya akan laporkan kejadian luarbiasa malam ini,” kata Pak Camat di hadapan para perangkatnya.
Pak Camat kaget setengah mati saat tiba di Pendopo dinas rumah Bupati.
Sejumlah Camat telah memenuhi aula Pendopo rumah dinas Bupati. Para Camat melaporkan soal tangisan para warganya.
Pak Bupati tampak saksama mendengar laporan dari para Camatnya.
“Saya harus meneruskan laporan ini kepada Pak Gubernur dan minta arahan apa yang harus kita lakukan atas kejadian yang sangat luarbiasa ini. Saya yakin Pak Gubernur ada solusi dalam mengatasi kejadian tangisan massal di Kabupaten kita,” jelas Pak Bupati di hadapan para Camat.
Pak Bupati tampak kaget saat tiba di rumah dinas Gubernur. Sejumlah Bupati melaporkan topik yang sama dengan yang hendak dilaporkannya.
“Ini kejadian luar biasa. Dan harus segera diaksikan dengan tindakan luarbiasa pula. Dan saya malam ini akan segera melapor kepada Pak Menteri terkait tangisan massal ini. Jangan sampai Pak Menteri berasumsi, saya dan kita membiarkan aksi massal tangisan warga malam ini,” ungkap Pak Gubernur.
Pak Menteri tampak manggut-manggut mendengar laporan yang masuk dari para gubernur. Usai semua laporan masuk dari Gubernur, Pak Menteri langsung ngacir ke Istana.
Tujuannya cuma satu. Melaporkan kejadian luar biasa berupa tangisan massal yang menimpa para warga kepada Pak Presiden. Sejumlah catatan telah disiapkannya sebagai bahan pembicaraan.
“Lapor Pak Presiden. Alhamdulillah, saya sudah tahu sebab musababnya para warga menangis massal pada malam ini, pada malam takbir ini,” ungkap Pak Menteri dengan nada suara penuh kewibawaan.
“Oh, ya,”ujar Pak Presiden.
“Penyebabnya?” tanya Pak Presiden.
“Malam ini kan malam terakhir bulan Ramadan. Para warga sedih karena ditinggal bulan Ramadan,” jelas Pak Menteri.
” Ooh…,” jawab Pak Presiden.
“Saya pikir para warga mengangis massal malam ini karena saya mau mencalonkan diri lagi sebagai Presiden lima tahun mendatang, ” lanjut Pak Presiden.
Pak Menteri cuma terdiam mendengar jawaban Pak Presiden.
Malam semakin menjauh. Suara takbir berkumandang dari masjid-masjid dari berbagai penjuru. Sangat religius. Penuh harmoni surgawi. Sakralkan alam raya.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Toboali, Ramadan 1447 H/Maret 2026

Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Cerpennya tersiar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung. Penulis buku ” Pembulak ” itu kini berkehidupan di Kota Toboali bersama istri dan dua putrinya serta kakek dua orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nafiandy.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan