Cerpen : Pengarang Muda di Kesunyian Telaga – Lintang Alit Wetan

Pengarang Muda di Kesunyian Telaga

Cerpen: Lintang Alit Wetan

            Cita-cita Sukilah meraih penghargaan tertinggi sastra sedunia. Sukilah, istriku. Hoaks. Mana buktinya? Sukilah pengarang muda, pengarang besar itu. Dengan segudang mimpi-mimpi besar. Bertubuh semok, montok. Doyan melahap segala kuliner yang dihidangkan. Terlebih makanan siap saji. Yang penting enak. Sehat. Dan, asyik. Halal, diperoleh sejujur-jujurnya. Semua dilahap. Masuk ke dalam perut. Mirip tong sampah. Manusia.

Pengarang muda itu, Sukilah. Gemar pamer di mana-mana. Tubuh bahenol. Bibir bergincu. Kaca mata hias harga puluhan juta rupiah. Alis berbulu mata palsu. Pamer pleding pupu kuning. Betis bulir padi. Baju mewah gemerlap yang belum selesai 100 prosen sempurna dijahit, sudah terburu-buru dipakai. Mau dipamerkan. Eksis. Narsis. Dimana tempat, berfoto selfie. Memonyong-monyongkan bibir dower. Memamerkan otak genius. Karya besar, masterpiece.

Rimbun semak-semak, pepohonan perdu, rerumputan ilalang. Bebatuan cadas besar kecil. Kerikil-kerikil seukuran kerikil padang pasir. Kabut tebal menutup jarak pandang. Cuma hitungan meter ukuran tongkat pramuka. Pepohonan hutan tumbuh lebat, Nampak kehijauan dipandang mata dari jarak kejauhan. Membentang dari ujung barat hingga timur kota yang dihuni oleh para seniman ini. 

Kota yang berdiri di abad-abad lewat. Tahun-tahun jauh di pertengahan Masehi. Kehidupan bergerak seirama arus kali. Gemericik mata air memancar menembus kota. Kota yang menorehkan nama. Bagi peletak dasar nama peraih nobel sastra dari kotamu ini. Kota para seniman.

Harmoni hidup, seiring sejalan lurus antara gelap-terang, siang-malam, surrealis-prismatis, purba-modern, raja dan gedibal, serta papa-berada, Di abad binatang ini, kuda sebagai alat transportasi utama. Juga, sapi kerbau. Sedangkan onta sekadar hewan kesayangan bagi musafir di padang pasir Arabia. 

Kota yang belum ditata oleh bata dengan bangunan-bangunan Tionghoa, atau pun arsitektur Eropa. Mata air ini pun tempat berkumpul musyawarah binatang-binatang melata, mamalia dan vertebrata. Air ditampung, mencipta telaga kecil. Air dingin mengalir lewat selokan-selokan kecil, walau belum membentuk sungai. Tapi, kenapa muncul air panas? Tidak hanya panas, bau menyengat belerang juga. 

***

Pada gemericik mata air. Indang nobel, terbang berseliweran. Berputar-putar sebagaimana wahyu keprabon, akan manjing ke badan wadag Sukilah. Maka, dikenal sebagai indang nobel yang menitis.  Ia bisa laki-laki, bisa juga perempuan. Bersegera orang-orang sekitar, berbaur dengan pengarang-pengarang itu. Seniman-seniman kota ini. Juga Sukilah. Ciblonan memanfaatkan barokah sejuk segarnya air telaga. Untuk terapi kesembuhan aneka penyakit: koreng, panu, kadas, kurap, tulang mengsol kesleo, penyakit-penyakit kulit. 

Aroma belerang bercampur uap air panas mengguyur tubuh semua peziarah telaga. Seperti peradaban purba. Laki-laki dan perempuan, campur baur menyatu. Tua muda. Anak-anak, balita. Dewasa. Bugil telanjang bulat semua. Memper peradaban nudis di Jerman.  

            Lalu, si bocah saksi mata mencatat pada goresan-goresan dedaunan lontar. Pengarang muda, Sukilah. Menghunus pena runcingnya, tinggi-tinggi nyaris menusuk-nusuk langit ke tujuh. Derap tapak-tapak kaki kuda. Berlari cepat, sekencang angin. Sekelebat busur panah lepas dari gendewanya. Debu beterbangan oleh sepakan kaki-kaki kuda yang berlari tak beraturan. Kacau balau.

            Sukilah mendengar kabar yang beredar luas di negeri ini. Bahwa di utara kota ini, muncul mata air yang dihuni indang nobel. Tempat persemayaman indang nobel. Mata air bercampur kandungan belerang, airnya berwarna emas murni berkilauan. Airnya bisa berubah-ubah dalam sekejap. Kemilau emas bila dimantrai umad-umed umik-umik seperti orang akan mengajukan pinjaman hutang ke juragan. Siapa pun yang mandi di mata air itu, di telaga itu akan kemasukan indang nobel. Saat ini, indang nobel masih terbang gentayangan di atas sumber mata air. Di utara kota ini. Sukilah yang berpakaian ala pendekar perempuan. Terselip di punggungnya, sebilah pedang yang di bagian ujung pedang berbentuk menyerupai pena. Pena runcing yang sakti. Sukilah memacu derap langkah kudanya. Menuju arah utara kota.

***

            Maka Sukilah, pengarang muda mulai menulis, dengan pedang yang ujungnya bagai pena runcing. Terlihat seperti sebilah pedang sedang menari di bebatuan besar. Di sekitar sumber mata air. Tentang embun di pagi yang berkabut. Tentang kehidupan. Margasatwa. Hutan. Cakrawala. Kesunyian telaga. Pengarang muda, Sukilah duduk tepekur di batu hitam besar segede kerbau. Semadi. Satu dua hari belum ada gangguan. Menginjak hari ke tujuh, mulai ada godaan. Seekor naga membelit tubuhnya, hingga sulit bernafas lega. Sesak di dada, nyaris tersengal-sengal. Sukilah khusyuk berdzikir. Pengarang muda berhasil mengatasi gangguan belitan seekor naga raksasa.

            Minggu kedua. Seekor makhluk aneh mengganggu tidur semadi pengarang muda. Makhluk aneh itu mengajaknya untuk bunuh diri dengan terjun dari atas puncak gunung. Dengan khusyuk berdzikir, Sukilah berhasil mengatasi godaan kasat mata dari makhluk aneh itu. Makhluk penjaga telaga.

            Menjelang minggu ketiga. Godaan semadi pengarang muda terasa amat berat. Sukilah diterbangkan Sang Maut, mengitari samudra penuh racun berbisa yang amat mematikan. Maka, Sukilah tidak sekadar berdzikir, akan tetapi puasa laku tapa brata. Pengarang muda mematek aji pamungkas, sirep maling. Dihunusnya pena saktinya. Dipukulkan pada samudra yang penuh racun. Samudra musnah. Sukilah terbebas, lepas dari godaan terakhir. Ia pun bangun dari semadi, serasa bangun dari tidur lebih dari seribu tahun. 

Bertiup semribit angin. Terbang membawa indang nobel, masuk ke badan wadag pengarang muda, Sukilah melalui ubun-ubun, laksana cahaya terang benderang. Putih bersih berkilauan amat menyilaukan bila dipandang. Silau pandangan mata. Sukilah, pengarang muda telah kepanjingan indang nobel. Berkat ia mau laku tapa brata, semadi lukar busana di gua. Pada tepi telaga dekat mata air emas di utara kotamu ini.

Ketika kerasukan indang nobel. Sukilah. Ia jatuh terpeleset dari batu sebesar kerbau di tepian telaga. Tatkala pengarang muda akan berdiri dari posisi duduk semadi. Sukilah terpelanting. Terpeleset. Tenggelam ke dasar telaga. Sementara ia tidak dapat berenang. Sekadar gaya batu. Tidak ada orang lain di sekitar tepian telaga itu. Kecuali, Sukilah dan aku. Aku, indang nobel. Air telaga pun mendadak bergolak.

Musnah cita-cita meraih penghargaan tertinggi sastra tingkat dunia. Nobel sastra, harapan Sukilah, pengarang muda. Pengarang besar itu. Pena runcing pengarang muda, Sukilah. Patah. Raib. Di kesunyian telaga***  

Biografi:

Lintang Alit Wetan adalah nama pena Agustinus Andoyo Sulyantoro, lahir di Purbalingga, 13 Mei. Alumni Pendidikan  Bahasa & Sastra Indonesia, FPBS IKIP Yogyakarta (UNY) tahun 1997 ini, sajak dan cerpennya dibukukan di berbagai antologi. Buku puisinya Lingkar Mata di Pintu Gerbang (2015), menyunting Perjamuan Cinta (2015) lalu. Alamat email: aasulyantoro@gmail.com.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan