Mendadak ke Masjid: Cerpen Rusmin Sopian

43

Saat gerbang cahaya Ramadhan datang menyapa alam raya, warga Kampung Kami berduyun-duyun ke Masjid. Mereka, kaum lelaki dan perempuan, tua, dan muda dengan langkah kaki yang tergopoh-gopoh menyegerakan diri ke Masjid.

Sebelum suara azan Isya berkumandang dari corong pengeras suara Masjid mensakralkan alam, mereka, warga Kampung Kami telah berada di masjid. Memenuhi Masjid.

Pada saat itu suasana Kampung Kami sunyi sekali. Senyap. Seperti Kampung mati. Tak berpenghuni.

Tak ada aktivitas warga yang terlihat di jalanan. Sunyi. Semua warga Kampung Kami berada di masjid. Shalat tarawih.

Hanya kerlap kerlip cahaya lampu yang menerangi rumah para warga. Sekaligus menandai, ada bahwa kehidupan.

Dulunya, ebelum gerbang malam Ramadhan tiba, masjid Kampung Kami sepi. Yang datang ke Masjid hanya orang-orang itu saja.

Kedatangan seorang Bapak tua yang disebut misterius oleh warga Kampung Kami adalah penyebabnya.

Bagaimana tidak misterius, Bapak tua itu tidak diketahui rimbanya. Dia hadir saat warga Kampung Kami sedang asyik berkumpul di sebuah warung kopi yang menjadi tempat bertemunya warga Kampung Kami.

Dan sejurus kemudian, tiba-tiba dia menghilang dari pandangan mata para warga yang sedang berkumpul sembari menikmati secangkir kopi panas.

Tak heran bila sejuta tanya melanda hati warga Kampung Kami. Sejuta pertanyaan pun berhamburan ke udara yang bising.

“Siapa Bapak tua itu, Mbok?,” tanya seorang warga saat mereka sedang berkumpul di warung kopi Mbok Painem.

“Orang singgah ngopi. Biasalah,” jawab Mbok Painem sang pemilik warung sekenanya. Maklum dia sendiri baru kali itu melihat Bapak tua itu.

“Aku baru lihat. Warga baru ya,” sambung warga yang lain.

“Kalian ini mau ngopi atau mau ngurusin orang. Kayak wartawan saja kalian ini. Banyak pertanyaan,” jawab Mbok Painem dengan nada kesal.

“Bukan begitu, Mbok. Kita perlu waspada. Kan sebagai warga yang baik, tak salahkan kalau kita waspada. Jangan sampai Kampung kita kedatangan tamu yang tak jelas rimbanya,” urai warga yang lain.

“Waspada sih waspada. Tapi jangan terlalu ikut campur ngurusin hidup orang. Hidup kita saja belum lurus,” celetuk Mbok Painem dengan nada kesal.
Sejenak para warga Kampung Kami yang sedang menikmati secangkir kopi terdiam mendengar jawaban Mpok Painem. Mulut mareka seolah terkunci rapat. Membisu.

Cahaya matahari berada di atas kepala. Beberapa warga kampung yang sedang menikmati kopi di warung Mbok Painem, tiba-tiba wajahnya seperti kain kafan. Pucat pasi. Jantung mereka berdegub amat tak karuan. Bahkan ada seorang warga yang merasa jantungnya seakan-akan mau lepas dari katupnya. Ucapan dari Bapak itu adalah penyebabnya.
” Kalian semua akan masuk neraka,” ucap Bapak tua itu sembari pergi meninggalkan warga Kampung Kami di warung kopi itu.

Dan ketika mendengar suara azan dzuhur berkumandang dari corong pengeras suara masjid, mereka dengan langkah kaki yang tergesa-gesa meninggalkan warung kopi Mbok Painem. Mereka bergegas menuju masjid kampung. Meninggalkan kopi di gelas yang masih meninggi.

“Apa yang dikatakan bapak tua tadi sungguh benar. Aku jadi takut,” ujar seorang warga saat mereka menuju masjid.

“Bapak tua itu kayaknya orang sakti. Dia tahu semua kesalahanku,” sambung warga yang lain.

Tulisan Terkait

“Terlepas bapak itu orang sakti atau utusan dari langit, mumpung masih ada waktu, kita harus segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah, Sang Maha Pencipta dan Maha Pengampun atas segala dosa kita selama ini,” celetuk warga yang lainnya.

Melihat kedatangan warga kampung ke masjid saat waktu shalat dzuhur tiba, Pak Imam masjid Kampung Kami menyambut kedatangan warga Kampung kami dengan senyum bahagia.

Sejuta senyuman diumbarkannya kepada para warga yang datang ke Masjid. Ada kebahagian yang terpatri dalam dadanya.

“Alhamdulillah. Ayo Bapak-bapak kita segera shalat berjamaah,” ajak Pak Imam Masjid dengan nada suara penuh kebahagian.

Perkataan bapak tua yang misterius itu kepada hampir semua warga Kampung Kami yang ditemuinya saat para warga berkumpul, menjadi topik pembicaraan di kalangan warga.

Para warga kini diliputi ketegangan. Kening mereka berlipat mendengar perkataan bapak tua tentang mereka dan kehidupan mereka. Jantung mereka berdegup tak karuan. Tengkuk mereka diliputi kengerian yang sangat luar biasa.

“Kita memang harus tobat dan tobat,” ujar seorang warga kampung.

“Apa yang diucapkan bapak tua itu sungguh benar sekali. Kita terlena dengan kehidupan duniawi. Melupakan kehidupan akherat yang abadi,” sambung warga yang lain.

“Kita memang perlu bekal untuk hidup di alam sana,” lanjut warga yang lain.

“Aku sangat berterima kasih dengan bapak tua itu. Perkataannya membuat aku sadar dan sadar,” ucap warga yang lain.

Kini, di saat matahari mulai menyembunyikan diri di ufuk timur, sebelum azan magrib berkumandang merelegiuskan jagad raya, para warga kampung kami sudah berada di masjid.

Tak ada lagi yang berlalu lalang di jalanan. Mereka khusuk bersujud sembari memohon ampunan kepada Allah SWT, Sang Maha pencipta dan Maha Pengampun bagi mahluknya.

Tak heran hingga shalat Isya selesai, Kampung Kami kosong melompong. Bak Kampung yang tak berpenghuni. Semua warga kampung tumpah ruah di masjid. Bersujud ke hadapan Sang Maha Pencipta. Memohon ampunan.

Demikian pula, ketika sang matahari mulai terbangun dari mimpi panjangnya, sebelum suara azan subuh berkumandang, sebelum sang rembulan rebah dalam pangkuan alam, para warga Kampung Kami sudah berbondong-bondong menuju masjid kampung.

Suara azan subuh menggetarkan gendang telinga mereka. Membangunkan mereka dari lelapnya mimpi dan impian.

Langkah mereka tergesa-gesa menuju masjid.
Mereka , para warga kampung kami, ingin segera bersujud dan bersujud memohon ampunan kepada Sang Maha Pencipta.

Mereka tidak memperdulikan lagi dengan Bapak Tua itu. Para warga Kampung Kami tidak lagi mengusut siapa Bapak tua itu. Asal usulnya. Dan di mana tinggalnya. Semua itu tidak lagi penting untuk warga Kampung Kami.

Kini para warga Kampung Kami telah kembali sebagai Makhluk Tuhan. Kembali ke firahnya sebagai ma. Bersujud kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kembali ke Masjid.
Itu yang paling penting bagi warga Kampung Kami.

Toboali, Februari 2026

Penulis adalah pegiat literasi yang tinggal di Toboali Bangka Selatan.

Mendadak ke Masjid
Karya ; Rusmin Sopian

Saat gerbang cahaya Ramadhan datang menyapa alam raya, warga Kampung Kami berduyun-duyun ke Masjid. Mereka, kaum lelaki dan perempuan, tua, dan muda dengan langkah kaki yang tergopoh-gopoh menyegerakan diri ke Masjid.

Sebelum suara azan Isya berkumandang dari corong pengeras suara Masjid mensakralkan alam, mereka, warga Kampung Kami telah berada di masjid. Memenuhi Masjid.

Pada saat itu suasana Kampung Kami sunyi sekali. Senyap. Seperti Kampung mati. Tak berpenghuni.

Tak ada aktivitas warga yang terlihat di jalanan. Sunyi. Semua warga Kampung Kami berada di masjid. Shalat tarawih.

Hanya kerlap kerlip cahaya lampu yang menerangi rumah para warga. Sekaligus menandai, ada bahwa kehidupan.

Dulunya, ebelum gerbang malam Ramadhan tiba, masjid Kampung Kami sepi. Yang datang ke Masjid hanya orang-orang itu saja.

Kedatangan seorang Bapak tua yang disebut misterius oleh warga Kampung Kami adalah penyebabnya.

Bagaimana tidak misterius, Bapak tua itu tidak diketahui rimbanya. Dia hadir saat warga Kampung Kami sedang asyik berkumpul di sebuah warung kopi yang menjadi tempat bertemunya warga Kampung Kami.

Dan sejurus kemudian, tiba-tiba dia menghilang dari pandangan mata para warga yang sedang berkumpul sembari menikmati secangkir kopi panas.

Tak heran bila sejuta tanya melanda hati warga Kampung Kami. Sejuta pertanyaan pun berhamburan ke udara yang bising.

“Siapa Bapak tua itu, Mbok?,” tanya seorang warga saat mereka sedang berkumpul di warung kopi Mbok Painem.

“Orang singgah ngopi. Biasalah,” jawab Mbok Painem sang pemilik warung sekenanya. Maklum dia sendiri baru kali itu melihat Bapak tua itu.

“Aku baru lihat. Warga baru ya,” sambung warga yang lain.

“Kalian ini mau ngopi atau mau ngurusin orang. Kayak wartawan saja kalian ini. Banyak pertanyaan,” jawab Mbok Painem dengan nada kesal.

“Bukan begitu, Mbok. Kita perlu waspada. Kan sebagai warga yang baik, tak salahkan kalau kita waspada. Jangan sampai Kampung kita kedatangan tamu yang tak jelas rimbanya,” urai warga yang lain.

“Waspada sih waspada. Tapi jangan terlalu ikut campur ngurusin hidup orang. Hidup kita saja belum lurus,” celetuk Mbok Painem dengan nada kesal.
Sejenak para warga Kampung Kami yang sedang menikmati secangkir kopi terdiam mendengar jawaban Mpok Painem. Mulut mareka seolah terkunci rapat. Membisu.

Cahaya matahari berada di atas kepala. Beberapa warga kampung yang sedang menikmati kopi di warung Mbok Painem, tiba-tiba wajahnya seperti kain kafan. Pucat pasi. Jantung mereka berdegub amat tak karuan. Bahkan ada seorang warga yang merasa jantungnya seakan-akan mau lepas dari katupnya. Ucapan dari Bapak itu adalah penyebabnya.
” Kalian semua akan masuk neraka,” ucap Bapak tua itu sembari pergi meninggalkan warga Kampung Kami di warung kopi itu.

Dan ketika mendengar suara azan dzuhur berkumandang dari corong pengeras suara masjid, mereka dengan langkah kaki yang tergesa-gesa meninggalkan warung kopi Mbok Painem. Mereka bergegas menuju masjid kampung. Meninggalkan kopi di gelas yang masih meninggi.

“Apa yang dikatakan bapak tua tadi sungguh benar. Aku jadi takut,” ujar seorang warga saat mereka menuju masjid.

“Bapak tua itu kayaknya orang sakti. Dia tahu semua kesalahanku,” sambung warga yang lain.

“Terlepas bapak itu orang sakti atau utusan dari langit, mumpung masih ada waktu, kita harus segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah, Sang Maha Pencipta dan Maha Pengampun atas segala dosa kita selama ini,” celetuk warga yang lainnya.

Melihat kedatangan warga kampung ke masjid saat waktu shalat dzuhur tiba, Pak Imam masjid Kampung Kami menyambut kedatangan warga Kampung kami dengan senyum bahagia.

Sejuta senyuman diumbarkannya kepada para warga yang datang ke Masjid. Ada kebahagian yang terpatri dalam dadanya.

“Alhamdulillah. Ayo Bapak-bapak kita segera shalat berjamaah,” ajak Pak Imam Masjid dengan nada suara penuh kebahagian.

Perkataan bapak tua yang misterius itu kepada hampir semua warga Kampung Kami yang ditemuinya saat para warga berkumpul, menjadi topik pembicaraan di kalangan warga.

Para warga kini diliputi ketegangan. Kening mereka berlipat mendengar perkataan bapak tua tentang mereka dan kehidupan mereka. Jantung mereka berdegup tak karuan. Tengkuk mereka diliputi kengerian yang sangat luar biasa.

“Kita memang harus tobat dan tobat,” ujar seorang warga kampung.

“Apa yang diucapkan bapak tua itu sungguh benar sekali. Kita terlena dengan kehidupan duniawi. Melupakan kehidupan akherat yang abadi,” sambung warga yang lain.

“Kita memang perlu bekal untuk hidup di alam sana,” lanjut warga yang lain.

“Aku sangat berterima kasih dengan bapak tua itu. Perkataannya membuat aku sadar dan sadar,” ucap warga yang lain.

Kini, di saat matahari mulai menyembunyikan diri di ufuk timur, sebelum azan magrib berkumandang merelegiuskan jagad raya, para warga kampung kami sudah berada di masjid.

Tak ada lagi yang berlalu lalang di jalanan. Mereka khusuk bersujud sembari memohon ampunan kepada Allah SWT, Sang Maha pencipta dan Maha Pengampun bagi mahluknya.

Tak heran hingga shalat Isya selesai, Kampung Kami kosong melompong. Bak Kampung yang tak berpenghuni. Semua warga kampung tumpah ruah di masjid. Bersujud ke hadapan Sang Maha Pencipta. Memohon ampunan.

Demikian pula, ketika sang matahari mulai terbangun dari mimpi panjangnya, sebelum suara azan subuh berkumandang, sebelum sang rembulan rebah dalam pangkuan alam, para warga Kampung Kami sudah berbondong-bondong menuju masjid kampung.

Suara azan subuh menggetarkan gendang telinga mereka. Membangunkan mereka dari lelapnya mimpi dan impian.

Langkah mereka tergesa-gesa menuju masjid.
Mereka , para warga kampung kami, ingin segera bersujud dan bersujud memohon ampunan kepada Sang Maha Pencipta.

Mereka tidak memperdulikan lagi dengan Bapak Tua itu. Para warga Kampung Kami tidak lagi mengusut siapa Bapak tua itu. Asal usulnya. Dan di mana tinggalnya. Semua itu tidak lagi penting untuk warga Kampung Kami.

Kini para warga Kampung Kami telah kembali sebagai Makhluk Tuhan. Kembali ke firahnya sebagai ma. Bersujud kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kembali ke Masjid.
Itu yang paling penting bagi warga Kampung Kami.

Toboali, Februari 2026

Penulis adalah pegiat literasi yang tinggal di Toboali Bangka Selatan.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan