Lelaki muda itu sempoyongan. Untuk mencapai rumah kostnya pun, langkah kakinya harus diseret
Luka hati yang amat mendalam mengolah jiwanya menjadi kerdil yang mengalirkan ke pusaran raganya hingga badanya pun harus menanggung beban yang amat berat.
Begitu kakinya menginjak lantai kostnya, lelaki muda itu langsung terjerembab dalam pembaringan yang lusuh. Terbaring dalam kelesuan hati yang membara dibakar malam yang enggan bersahabat.
Lelaki muda itu seakan terlelap dalam mimpi buruk malam yang enggan menyapanya malam ini.
Sementara di meja, berserakan lembaran kertas yang bertuliskan puisi-puisi yang pernah mengagungkan namanya dalam belantika jagad sastra negeri ini. Puisi-puisi itu pernah mempopulerkan namanya sebagai penyair top negeri ini.
Siapa yang tak kenal dan tidak mengenal Markudut, penyair muda yang terkenal dengan diksi yang romantis dan terkadang rangkuman kata-kata puitisnya melawan rezim yang berkuasa?
Siapa pembaca media yang tak tahu kepiawaiannya dalam meramu kata-kata hingga menjelma sebagai sebuah puisi yang bagus dan memiliki daya tarik orang untuk membacanya?
Dan siapa pula, pecinta sastra panggung negeri ini yang tak mengenal lelaki muda itu yang pernah melahirkan antologi puisi ” Wanita Di Simpang Lima ” yang pernah difilmkan dan disinetronkan di media televisi?
Kini Markudut yang bersastra lewat panggung-panggung itu, terlelap dalam kesunyian malam yang makin merenta. Lelaki muda itu terbaring dalam lelap dekapan sang rembulan malam yang makin menuruni kaki langit.
Markudut terlelap dalam impian yang tak bertepi diujung malam yang mulai menua. Lelaki muda yang harus meratapi malangnya nasib hidup digugurkan asmara hati yang belum mekar ditelan zaman.
Markudut tak menyangka dan sama sekali tak menduga, perkenalannya dengan wanita dari Pulau Seberang lewat media sosial telah merontokkan harapan jiwanya.
Meleburkan jiwanya dalam penderitaan yang tak bertepi. Sebuah asa yang tak pernah dia nikmati secara nyata. Dan ini menjadi derita hidupnya sepanjang malam.
Markudut masih ingat bagaimana saat berinteraksi lewat media, asa diguncangkannya. Jiwanya membara seharmoni usianya yang membakar langit. Followernya banyak dan bejibun. Tweet demi tweet dia harmonikan malam-malam yang indah sebagaimana indahnya malam yang selalu memberikan senyum kepada penghuninya.
Dia tahu, wanita muda yang menamakan dirinya di medsos dengan nama Adinda selalu menjadi objek dirinya untuk menjulangkan langit.
Markudut seakan kehilangan kata-kata indah saat tahu followernya telah menjadi milik pria lain yang selalu menjadi penjaga ranjangnya setiap malam.
Ya, lelaki alumni tehnik kimia itu adalah suami dari Adinda yang selalu memberi kehangatan malam saat titik embun mulai berkeluh kesah tentang malam yang jantan.
Markudut masih ingat dan selalu teringat tweet dari Adinda tentang selamat tinggal malam yang sepi dan selamat datang titik embun yang mulai datang mengaliri naluri kehidupannya.
Tweet itu seakan mensinyalkan sebuah tanda-tanda hilangnya Adinda dari gemerlapnya kata-kata lewat tweet yang pernah mengharmonikan jiwa mereka dalam beberapa bulan lalu.
Dan sebuah puisi tentang kepergian wanita senja pun dia luncurkan bertepatan dengan hilangnya tweet-tweet dari Adinda.
Markudut memang tak berputus asa dan terus mencari dan mencari hingga ke pelosok Pulau. Namun tak satu diksi pun yang dia terima dimana wanita itu berada. kepada angin malam ditanyakannya..
Demikian pula kepada bintang gemintang pun diadukannya. Tak terkecuali kepada sepoinya angin malam yang menghangatkan malam-malamnya yang mulai menghantam tubuh mudanya.
” Wahai malam yang durjana. Dimanakah sang penggoda hatiku kini berada?,” teriak Markudut ditengah kerlap kerlip bintang malam.
Sayangnya sejuta tanya yang dia resonansikan kepada penghuni alam tak mendapat jawaban yang pasti.
Angin selalu menjawab ke selatan saat pusaran angin bertiup ke selatan. Demikian pula dengan bintang gemintang yang hanya menjawab lewat kerlingan genitnya malam.
” Lantas kepada siapa aku harus mengadu dan bertanya?,” tanya Markudut kepada malam yang sepi.
Markudut terus mencari dan mencari hingga menemukan jawaban yang pasti tentang dimana keberadaan wanita yang hanya ingin dilihatnya dari jauh.
” Saya hanya ingin melihatnya dari jauh saja,” tulisnya dalam sebuah lirik puisi.
Sementara kokok ayam terus meresonansikan alam dan penghuninya sebagai tanda bahwa rotasi hidup mulai berganti dan datangnya sinar mentari mulai menerangi bumi dan penghuninya ditengahnya suramnya mimpi Markudut, sang penyair muda yang masih bermimpi tentang wanita yang hanya ingin dilihatnya dari jauh.
Ya, dia hanya ingin melihatnya dari jauh. Cuma itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Seketika puisinya pun kehilangan kata-kata indah.
Toboali, September 2025