Mengais Bekal, Nadira Najelita Marsya: Puisi Ulul Azmi

102

Kerjap pelupuk retinamu sebagai pemegang
Kelangsungan hidup bumi dan isinya
Hembusan halus angin beriring dengan kepak bulu matamu

Satin hitam yang terbalut medan lengkung simetris
Itu menjadi cahaya tandingan terik hari.
Aku memanggilmu dengan suara parau
namun sanggup membuatmu menoleh

Kutatap dengan rasa hingga kudapati
ranum bibirmu seperti rayuwan ibu
saat menyuapiku makan, mendahului seluruh anasir,
menguras hasrat yang makin sekarat

Kau mengayunkan langkah
namun tatapanku menahanmu,
jangan pergi sebelum ada bekas yang bisa ku daki
sebagai bekal menuju asal.
Sebelum racun perih ini menjalar
Izinkan aku menyusuri rimba
ditemani helaan nafasmu disetiap detiknya.

Jogjakarta, Februari, 2024.

Ulul Azmi merupakan Mahasiswa Uin Jogja Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH). Bergiat menulis di Pendopo Sastra  Ikatan Alumni Annuqayah Jogjakarta (IAA).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan