

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA sederajat yang diumumkan pemerintah pada Selasa, 23 Desember 2025, menyisakan kegelisahan besar tentang arah pendidikan kita. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret buram kompetensi akademik siswa Indonesia. Hasilnya sungguh memprihatinkan, mencerminkan darurat literasi dan numerasi yang mendesak.
Potret Memilukan Hasil TKA 2025
Mengutip rilis resmi Kemendikdasmen via Kompas.com edisi 23 Desember 2025, berikut nilai rata-rata TKA 2025 jenjang SMA:
Bahasa Indonesia Wajib (55,38), Matematika Wajib (36,10), Bahasa Inggris Wajib (24,93), PPKN (60,91), Antropologi (70,43), Prakarya & Kewirausahaan (56,34), Bahasa Indonesia Lanjut (68,02), Matematika Lanjut (39,32), Bahasa Inggris Lanjut (45,23), Biologi (54,40), Sosiologi (60,07), Ekonomi (31,68), Kimia (34,92), Sejarah (62,72), Fisika (37,65), Geografi (70,36), Bahasa Arab (64,97), Bahasa Jepang (55,21), Bahasa Mandarin (57,60), Bahasa Jerman (36,57), Bahasa Korea (28,55), Bahasa Prancis (45,05).
Rendahnya nilai Matematika wajib (36,10), Bahasa Inggris (24,93), dan Bahasa Indonesia (55,38) menunjukkan persoalan serius pada literasi dan numerasi. Meski TKA tidak menentukan kelulusan, hasil ini menjadi cermin kompetensi nasional yang lelah, timpang, dan belum pulih sepenuhnya dari efek pandemi covid.
Penyebab Sistemik Darurat Literasi dan Numerasi
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap krisis ini:
1. Pembelajaran masih berorientasi hapalan rumus, bukan pemahaman konsep atau pemecahan masalah sehingga murid gagap saat TKA menuntut penalaran kontekstual.
2. Mindset negatif dengan menganggap Matematika “menakutkan“.
3. Distraksi gadget yang menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi kala mengerjakan sesuatu yang menuntut keseriusan tinggi.
4. Sejalan hasil PISA 2022 (peringkat 71/81 negara), menegaskan masalah sistemik seperti kualitas guru dan sarana prasarana.
Data ini semestinya mendorong refleksi kebijakan, bukan saling menyalahkan.
Solusi Terintegrasi: Dari Alarm ke Aksi
Pemerintah, guru, murid, orang tua, dan masyarakat harus berkolaborasi. Berikut solusi konkrit, bertahap, dan terukur:
1. Sekolah fokus dalam memilih dan memilah program sekolah yang mengarah pada target yang jelas, termasuk target TKA.
2. Mengintegrasikan Kecerdasan Artifisial untuk modul personalisasi guru dengan sumber-sumber bahan ajar yang menantang dan berdaya pikir tinggi.
3. Keteladanan orang tua dan guru dalam memberikan contoh dalam menularkan energi pentingnya membaca sebagai suatu kebutuhan dasar hidup.
4. Kemendikdasmen memperluas TKA sebagai rujukan pemerataan dengan kurikulum yang kontekstual.
5. Optimalisasi sumber-sumber belajar termasuk keberadaan perpustakaan yang ada di sekolah untuk capaian target pembelajaran.
6. Standarisasi profesionalitas guru dalam bidang keilmuannya perlu ditata ulang dan bekerjasama dengan Perguruan Tinggi serta lembaga-lembaga terkait lainnya yang dapat mengeluarkan sertifikat profesionalitas tersebut. Misalkan sertifikat mahir Matematika/Biologi/Fisika/Kimia oleh Kampus MIPA, sertifikat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) oleh Balai Bahasa, dan sertifikat TOEFL/IELTS oleh lembaga tes Bahasa Asing, dan sertifikat profesionalitas bidang ilmu lainnya.
7. Pembiasaan literasi dan numerasi harus jadi keterampilan hidup dengan menjadikan Matematika dibumikan dalam kehidupan nyata, Bahasa Indonesia sebagai alat bernalar, dan Bahasa Inggris sebagai jendela dunia.
Harapan Titik Balik
Hasil TKA 2025 bukan akhir, tapi alarm keras. Dengan sistem yang beri ruang tumbuh bagi rasa ingin tahu (growth mindset), pendidikan Indonesia bisa ubah darurat menjadi peluang. Sekolah jadi ruang aman bertanya dan mencoba. Mari benah sekarang, bersama-sama, sebelum keterlambatan jadi kebiasaan.
Penulis: Kepala SMA Cendana Pekanbaru