Masjid Al-Ikhlas di ujung Kampung Karya Jaya malam itu terasa lebih panas dari biasanya. Meskipun kipas angin di pojok ruangan berputar lebih cepat, jemaah tetap setia duduk bersila di atas karpet hijau yang mulai menipis. Cahaya lampu terang berbinar, menyinari wajah-wajah yang baru saja menyelesaikan shalat Maghrib.
Al Ustadz Syukri, seorang pria dengan janggut putih yang rapi, menutup materinya. “Sebelum pengajian ini kita tutup, ada yang mau bertanya?” ujarnya tenang.
Anton, seorang pemuda kritis yang sering membaca buku sejarah, mengangkat tangan. “Saya Ustadz. Kenapa kita di Indonesia jika telah selesai haji, di awal nama harus dituliskan gelar Haji atau Hajjah? Padahal, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak pernah menyandang gelar itu di depan namanya, meskipun mereka melaksanakan ibadah haji, lahir dan besar di Mekkah.”
Ustadz Syukri tersenyum, sebuah senyum yang mengandung kedalaman ilmu. Beliau menjelaskan bahwa gelar “Haji” di Indonesia adalah warisan sejarah yang panjang. Dimulai dari zaman kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram sebagai pembeda bagi mereka yang membawa ilmu agama dari tanah suci. Lalu, pada masa kolonial, Belanda menggunakan gelar itu untuk mengawasi para jemaah haji yang sepulangnya ke tanah air sering menjadi penggerak perlawanan terhadap penjajah.
“Hingga kini,” lanjut Ustadz, “gelar itu menjadi tradisi penghormatan. Namun, yang terpenting, gelar itu mencerminkan komitmen dan kesalehan. Menjadi Haji Mabrur berarti perilakunya harus lebih baik dari sebelum berangkat. Itu adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar hiasan nama.”
Di sudut belakang, Masnawi mendengarkan dengan mata berbinar. Namun, bukan soal “perlawanan kolonial” atau “tanggung jawab moral” yang masuk ke kepalanya. Yang ia dengar hanya satu kata: Penghormatan.
Masnawi adalah pemuda yang sudah bosan menjadi orang biasa atau “bukan siapa-siapa”. Di kampung itu, ia hanya tukang kredit barang pecah belah yang sering dicibir karena sering telat membayar setoran ke bosnya. Baginya, penjelasan Ustadz Syukri adalah sebuah “jalan pintas” mengangkat status sosialnya.
“Kalau aku jadi Haji, ke Kota Mekkah berulang Kali orang-orang akan mencium tanganku. Mereka akan memanggilku ‘Pak Haji’, sebagai orang suci dan kepercayaan orang padaku akan berbalik 360 derajat,” gumam Masnawi saat berjalan pulang menembus kegelapan malam.
Namun, ia tahu dompetnya kosong. Maka, dimulailah rencana liciknya. Masnawi mulai memutar otak dengan mengambil uang titipan warga untuk pembayaran pajak tanah secara ilegal. Ia menggunakan tipu muslihat “biaya murah ke Mekah” kepada ibu-ibu pengajian yang polos. Dalam setahun, dengan tumpukan uang yang didapat dari memeras keringat orang sekitarnya, Masnawi berhasil mendaftarkan diri di jalur haji plus yang bisa berangkat segera.
Ia tidak peduli uang itu haram. Baginya, air Zamzam akan mencuci semua dosanya, semudah air keran mencuci lumpur di kakinya.
Sesampainya di Mekkah, Masnawi tidak merasa kecil di hadapan Ka’bah. Meratap sekitar dan memohon ampun dengan suara sejadi-jadinya, ia justru tak menyadari dengan apa yang berlaku pada dirinya. Sekali-kali ia mengirimkan photonya bahwa “Haji Marbawi sedang bertamu ke rumah Allah.”
Keanehan pun mulai muncul. Di tanah yang seharusnya membuat orang merunduk, Masnawi justru merasa paling hebat. Saat melihat jemaah dari negara berpakaian sederhana atau jemaah dari Negara lain dengan tradisi yang menurutnya aneh, ia tidak merasa empati.
“Lihat itu, Ustadz! Mereka shalatnya kok begitu? Aneh sekali ya” seru Masnawi sambil tertawa terbahak-bahak di tengah kerumunan jemaah yang sedang khusyuk. Ia menertawakan kemiskinan orang lain, menertawakan keterbatasan fisik orang tua yang merangkak menuju Hajar Aswad..
—————-
Masnawi pun pulang ke tanah air dengan kopiah putih dan sorban yang senantiasa melilit leher meski cuaca sedang panas terik. Ia tidak lagi mau dipanggil “Nawi”. Jika ada yang lupa memanggilnya “Pak Haji”, ia akan pura-pura tidak mendengar atau membalas dengan tatapan sinis dengan sikap angkuh dan sombong.
Tak butuh waktu lama baginya untuk memanfaatkan gelar barunya. Ia membuka biro travel haji dan umrah bernama Haji Barokah Travel. Dengan modal gelar Haji, orang-orang kampung yang ingin beribadah mulai percaya padanya.
“Mari berangkat bersamaku. Aku sudah tahu seluk-beluk Mekkah,” promosinya dengan nada yang dibuat-buat berwibawa.
Namun, kenyataannya jauh dari teori mabrur yang disampaikan Ustadz Syukri. Masnawi menaikkan ongkos secara tidak wajar. Ia memangkas fasilitas jemaah; menjanjikan hotel berbintang namun memberikan penginapan kumuh yang jaraknya berkilo-kilometer dari masjid. Ia memanipulasikan data keuangan, memutar uang jemaah yang baru untuk menutupi hutang jemaah lama yang dibungkus dengan kalimat-kalimat thoyyibah.
Dua tahun berjalan, kekayaan Marbawi melesat. Ia punya mobil mewah dan rumah bertingkat. Namun, ia tidak tenang. Setiap ada jemaah yang protes karena ditelantarkan di tanah suci, ia akan membentak, “Kalian itu kurang ikhlas! Ibadah itu harus sabar! Saya ini Haji, saya lebih tahu!”
Ia menjadi sombong yang tak terkira. Baginya, ibadah haji bukan lagi rukun Islam kelima, melainkan komoditas dagang paling menguntungkan. Ia lupa bahwa doa orang-orang yang dizalimi tidak memiliki penghalang menuju langit.
Satu per satu kebohongannya terbongkar. Travelnya digerebek polisi. Jemaah yang gagal berangkat mengepung rumahnya, berteriak menuntut keadilan. Kekayaan yang ia tumpuk dari hasil menipu atas nama agama, ludes dalam sekejap untuk membayar pengacara dan denda, namun hukum tetap menjebloskannya ke penjara.
Di dalam sel, Masnawi pun mulai rapuh. Ia yang terbiasa disanjung dan dipanggil “Pak Haji”, kini hanya menjadi seorang tahanan yang sering dibentak penjaga. Dunianya yang dibangun di atas kepalsuan hancur berkeping-keping.
Satu tahun kemudian, karena gangguan jiwa yang berat, Masnawi dibebaskan dan dikembalikan ke kampungnya dalam kondisi yang menyedihkan. Ia bukan lagi sosok yang disegani. Rambutnya kusam, pakaiannya compang-camping, namun ada satu hal yang tidak pernah lepas dari tangannya: sebuah peci putih yang sudah berubah warna menjadi abu-abu.
Ia berjalan menyusuri jalanan kampung, dari pagi hingga petang. Setiap kali berpapasan dengan orang, ia akan berhenti, berdiri tegap, lalu memberikan hormat seperti seorang prajurit.
—————-
Suatu sore, di depan masjid tempat dulu Ustadz Syukri memberikan penjelasan tentang haji, Masnawi berdiri mematung. Anton, yang dulu bertanya tentang gelar haji, lewat di depannya.
Masnawi menghadang jalan Anton. Matanya melotot, namun kosong. “Woi!” teriaknya parau.
Anton terkejut. “Ada apa, Nawi?”
Mendengar nama lamanya disebut, wajah Masnawi memerah. Ia menjerit histeris hingga urat lehernya menonjol. “Kurang ajar! Siapa itu Nawi? Aku sudah ke Mekkah! Aku sudah lihat dunia! Cepat katakan!”
Anton hanya menatap iba.
Masnawi menggengam erat kerah baju Anton dan berbisik dengan nada yang mengerikan, seolah-olah membisikkan rahasia paling suci di dunia. “Jangan sebut nama itu lagi. Panggil aku Pak Haji… Panggil aku Pak Haji! Ayo, katakan!”
Anton pun menyebutkannya dengan pelan, Masnawi tertawa terbahak-bahak, lalu berlari menuju ujung kampung sambil terus berteriak ke arah pohon, batu, dan langit, “Panggil aku Pak Haji! Panggil aku Pak Haji!”
Di dalam masjid, pengajian masih berlangsung. Suara Ustadz Syukri terdengar samar-samar membicarakan tentang kerendahan hati. Namun di luar, di jalanan yang berdebu, gelar “Haji” itu telah menjadi penjara abadi bagi jiwa yang kehilangan hakikatnya. Masnawi telah mendapatkan apa yang ia inginkan, sebuah gelar Haji namun ia harus kehilangan kewarasannya untuk terus ia miliki.
Bengkalis, 08 April 2026
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.