

Perjalanan Hari ke-2 (dari Oman ke Turkiye)
Keesokan harinya, sekitar jam 06.00 pagi, kami meninggalkan hotel Platinum untuk kembali ke bandara kota Muscat, melanjutkan perjalanan ke Istambul (Turkiye).
Cuaca Oman pagi itu sangat cerah, udara bahkan terasa gerah, meski matahari belum singgah.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, kami nikmati pemandangan kota Muscat yang makmur, seperti makmurnya negeri-negeri teluk penghasil minyak bumi, yang telah menjadi pusat bisnis dunia sejak lama.
Kami lihat pula pohon-pohon kurma berjajar di tepi jalan sedang berbuah lebat. Ada yang buahnya berwarna merah, ada yang kuning, dan ada juga yang masih hijau.
Sungguh pemandangan memesona yang tak dijumpai di tanah air tercinta.
Dari bandara Muscat yang modern dan mewah, kami berangkat menuju Istanbul pukul 9.00 waktu setempat, masih dengan pesawat Oman Air.
Kami mendarat di kota ‘Gerbang Timur dan Barat’ (Istanbul) sekitar pukul 14.00 waktu setempat, setelah lima jam di dalam pesawat. Sepertinya, tidak ada perbedaan waktu antara Istanbul dan Muscat.
Di bandara Istanbul, saat pengambilan bagasi, kami mendapati koper salah-satu peserta rusak, yaitu koper milik bapak Danny Susanto (penyair dan akademisi asal DKI Jakarta) pecah di bagian sudut kopernya.
Dan Alhamdulillah beliau mendapat koper baru dari pihak maskapai.
Senyum kembali mengambang, tak hanya di wajah pak Danny, tapi juga di wajah seluruh rombongan wisata puisi yang hendak melanjutkan perjalanan menuju kota Bursa.
Sejak sampai di Turki, pemandu wisata kami bertambah, tak hanya mbak Indah yang cantik dan ramah, tapi juga bang Mehmed yang baik dan gagah (warga negara Turki yang fasih berbahasa Indonesia).
Menuju kota Bursa kami melewati jembatan gantung Osman Gazi, yang sengaja dibangun untuk mengenang pendiri kerajaan Ustmaniyah (Ottoman) tersebut. Panjangnya 2,6 KM. Diresmikan 7 tahun lalu.
Sebelumnya, Turki sudah punya tiga jembatan gantung bak Golden Gate San Fransisco (2,7 KM), yakni:
Saat melewati jembatan indah nan gagah itu, penulis jadi teringat penggalan puisi Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, yang berjudul: Jembatan
Tapi siapakah yang mampu menjembatani jurang di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang
Mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
Dipijak ketidakpedulian pada saudara
Gerimis tak mampu menguncupkan kibarannya
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
Padamu negeri air mata kami
Sebelum sampai di Bursa, kami menikmati makan siang kedua di sore hari nan sejuk pada sebuah Rest Area. Makan siang pertama kami dapat di dalam pesawat menuju Turki.
Di rest area ini pula pembuatan video puisi para peserta dimulai. Rosmita dari Jambi kebagian shooting di lokasi rest area yang luas, bersih, tenang dan lengang itu, dengan judul puisinya: Turki, Bangkitlah.
Matahari masih memancarkan sinarnya kala kami tiba di penginapan kota Bursa, bernama: Gonluferah Hotel.
Di sini kami mendapat suguhan makan malam, sambil kami berdiskusi terkait agenda puncak di Turki: Pentas Puisi.
Di hotel ini, banyak peserta yang mengalami hal lucu saat hendak pertama mencari kamar. Ada yang kesasar, ada yang mutar-mutar, ada pula yang di dalam lift bolak-balik turun naik.
Sungguh, kejadian yang bikin panik namun juga mengundang tawa.
(bersambung)