

Perjalanan Hari ke-5 (Konya)
Sama seperti hari sebelumnya, tepat jam 8.00 kami sudah menaiki bus, mengunjungi Textile Factory Outlet yang bernama: Pam Leather.
Letaknya tidak jauh dari hotel, kurang lebih 20 menit naik bus.
Di FO ini, kami mendapat voucher diskon spesial sebesar 40% untuk setiap pembelian produknya. Rombongan Wisata Puisi yang sebagian besar adalah ibu-ibu banyak yang berbelanja di toko ini. Karena produknya memang favorit wanita, seperti: baju, jaket modis, rompi, jilbab, sepatu, taplak meja, keset kaki, dll.
Usai dari FO di daerah Pamukkale tsb, bus melaju menuju tempat yang sudah ditunggu-tunggu oleh para peserta Wisata Puisi Turki, yaitu: Konya.
Kami tak sabar ingin mengunjungi Mevlana Musseum, untuk berziarah ke makam Jalaluddin Rumi sang pujangga, guna menyaksikan langsung Istana Kebun Mawar atau Rose Garden di sekitar makam tersebut.
Mawar, sebagai bunga yang sering menjadi inspirasi puisi sang maestro ini konon sengaja dipelihara sang sufi di halaman rumah yang sekaligus dijadikannya madrasah.
Meski telah wafat lebih dari 700 tahun lalu, nama Rumi masih dikenang melalui karya-karya yang sarat akan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan.
Pandangannya tentang cinta dan Tuhan yang universal membuat karya Rumi diterima oleh masyarakat dunia tanpa mengenal latar agama, ras, suku dan bangsa.
Bahkan, Kitab Masnawi karya Rumi menjadi salah satu puisi terbaik dalam bahasa Persia dan paling berpengaruh dalam dunia sufisme.
Setiap tahun, jutaan orang datang dari berbagai penjuru dunia untuk berziarah ke makam maulana Rumi di Museum Mevlana ini.
Sebelum masuk ke bangunan makam tersebut, kami harus melapiskan alas kaki dengan plastik biru yang telah disediakan. Hal ini untuk menjaga kebersihan di dalam kompleks makam.
Selain makam Rumi beserta keluarga dan para pengikutnya, di dalam Museum Mevlana ini terdapat juga karya Rumi yang dipajang di tiang-tiang dalam bahasa Inggris dan Turki. Juga terdapat baju-baju yang pernah dipakai oleh Rumi, alat-alat musik seperti flute dan baglama, Al-Qur’an ukuran besar peninggalan kaisar Ottoman, dan kain-kain sajadah indah khas Turki.
Saat memasuki madrasah yang dipimpin maulana Rumi, kami seperti kembali ke abad ke-13. Karena arsitektur bangunannya begitu klasik, bukti bahwa bangunan tersebut masih terpelihara dengan baik.
Di sudut-sudut halaman, mata kami dimanjakan oleh kuntum-kuntum mawar merah mekar begitu indah, di bawah langit biru nan cerah.
Di mata Rumi, mawar tak hanya sekedar penghias taman, melainkan juga sebagai lambang cintanya pada Tuhan.
Rumi percaya bahwa DIA yang bisa memekarkan mawar pada tangkai penuh duri, tentu mampu membuat segala hal kembali berseri.
Sungguh, Mevlana Museum ini begitu puitis dan romantis.
Di Rose Garden Konya ini, dilakukan pembuatan satu video musikalisasi puisi karya Marlina, berjudul: Butiran Cintaku Bertasbih.
Tanpa disengaja, kami ternyata terlalu lama di rumah Rumi. Hingga waktu yang dijadwalkan untuk tiba di Sulthani Caravan Serai seharusnya jam 16.00 mundur menjadi jam 18.00 waktu setempat.
Agenda kami di Caravan ini memang direncanakan hanya sebentar, sekedar mengambil dokumentasi di salah satu caravan terbesar dunia, dan pembuatan video puisi tentunya.
Caravan ini sengaja dibangun oleh Sultan Aladdin di abad ke 13, sebagai tempat menginap dan makan gratis, bagi para pedagang dan militer jaman dulu yang melakukan perjalanan dari Konya ke Aksaray.
Di tempat inilah mereka berkomunikasi antar pedagang, sekaligus melakukan transaksi jual beli.
Di caravan ini peserta Wisata Puisi yang mendapat giliran shooting untuk pembuatan video puisi adalah: Hadijah dengan puisinya: Turki, Aku Datang dan Rosidah dengan puisinya berjudul: Kupeluk Pesonamu, Turki.
Kelamaan di Konya juga mengakibatkan perjalanan jauh yang harus kami tempuh menuju Cappadocia jadi tertunda sekitar 2-3 jam.
Namun, selalu ada hikmah dibalik kejadian apapun. Di dalam bus yang melaju di wilayah pertanian menuju Cappadocia, kami saksikan pemandangan langit yang langka dan sangat memesona, yaitu: bulan di sisi kanan, dalam bentuk bulat purnama bersinar terang, dan di sisi kiri, matahari bulat sempurna bersinar keemasan.
Wajah jelita purnama dan paras jingga senja laksana paduan serasi sepasang kekasih, yang mempersembahkan lukisan harmoni di langit Turki.
Sungguh, nalar kami seolah diuji, namun butiran syukur bertabur di sanubari, karena kami telah terpilih menjadi saksi pertemuan romantis dua sejoli.
Dan puisi-puisi pun bergulir dari bibir dan jemari para penyair:
Demi kasih pada sang bumi
Matahari dan bulan berjanji
Tetap setia berbagi cahaya
Walau tak pernah lagi bersua
Tapi hari itu entah mengapa
Mereka tak kuasa menahan rindu yang purba
Hingga dengan dukungan semesta
Mereka kembali bersua
Setelah perkenalan pertama dulu
Pada acara launching sebuah buku
Karya Penulis Scenario paling jitu
Sekaligus Sutradara nomor satu
Akhirnya,
Matahari dan bulan bertemu sejenak
Dalam penampilan yang begitu rancak
Matahari bulat sempurna dengan cahaya emasnya
Bulan demikian purnama dengan cahaya peraknya
Besar keduanya tampak sama
Barangkali sebesar cinta mereka
yang geloranya senantiasa terjaga
Panorama syahdu membingkai wajah mayapada
Pipi langit sebelah kiri bersemu jingga
Pipi langit sebelah kanan berbias selaka
Nuansa romantika pun seketika mengalir
Ke dada-dada para musafir
Ke bibir-bibir para penyair
Di sebuah senja menuju Cappadocia, Turki
Puluhan mata telah menjadi saksi
Bahwa ketika matahari dan bulan bertemu
Langit langsung menjadi ibu
Lahirkan puisi-puisi paling ungu
Sore itu, suasana di dalam bus demikian syahdu. Rombongan Wisata Puisi terkesima melihat dua benda langit bertemu saling memadu rindu, dalam nuansa cahaya cinta pada Yang Satu.
Malamnya, kami tiba di hotel Suhan di wilayah Cappadocia sekitar jam 10.00 waktu setempat. Alhamdulillah hotel masih menunggu kami untuk sajian makan malam nan lezat.
Kami sangat bersyukur, karena biasanya hotel-hotel di Turki hanya bisa menunggu sampai jam 9 malam saja.
(bersambung)