Celurit Penyelamat
Di sebuah pulau istimewa
Harga diri bak harga mati
Tumpah darah pun dijabani
Tak gentar dan tak takut mati
Inilah Madura, suku pemberani
Lebih baik mati dari pada tak punya harga diri
Slogan Madura, sakera merah putih
Melawan penjajah dengan celurit runcing
Menjadi penyelamat para rakyat kecil
Tak gentar untuk membunuh demi harga diri
Pembunuhan yang bernama carok
“Kami ditindas, carok pun kami trabas”
Bukan untuk menganiaya
Tapi untuk membela yang tak berdaya
Kacang Hijau Hangat
Bau rempah lokal menyengat
Meninggalkan harum khas di hidung
Ditaburi kacang hijau dan bawang
Tak lupa kokot yang berendam
Cita rasa tak perlu diragukan
Gurih dan kaya akan rempah
Hanya ada di sebuah pulau kecil
Kota Sumenep dengan kaldu kokotnya
Kesan unik terlihat oleh mata
Raza lezat dan nagih terasa lidah
Kacang hijau menjadi penghias
Rempah menjadikannya kaya rasa
Dan kokot penagih lidah
Kolotnya Pikiran Budaya
Dalam pulau yang kaya budaya
Banyak budaya mengagumkan
Ada budaya yang mengkhawatirkan
Budaya yang tak perlu dilestarikan
Nikah muda, harusnya dihapuskan
Egois berlandaskan budaya
Pikiran yang meneruskan rantai kemiskinan
Apa budaya menyengsarakan?
Sumenep, 19 Desember 2025

Amaya Quendrelina F.P adalah nama pena dari seorang gadis bernama Dewi Sulastri, remaja yang lahir di Kabupaten Sumenep-Madura (Jawa Timur), pada tanggal 11 Agustus 2008.Ia memiliki hobi membaca, menulis, mencari pengalaman dan hal-hal baru. Ia pernah menjabat admin di komunitas JW sebagai admin kuis dan admin medsos. Komunitas Nemor yang ia ikuti adalah komunitas literasi yang ada di Sumenep, ia mulai menyukai bacaan dari kelas 2 SMP dan mulai menulis serta aktif di dunia literasi sejak kelas 1 SMA. Meski tergolong baru terjun ke dunia kepenulisan, ia paham dasar-dasar kepenulisan bahkan menamatkan 4 cerpen. Di komunitas CI, ia pernah mendapatkan Juara 1 Harapan dan Juara 4 Favorit. Saat ini, ia memasuki 36 besar Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2026. Instagram: @smilefake_va