Umurmu tergilas di lorong-lorong kosong
Di pedalaman kampung yang memanjang
Memungut detak demi detik penghabisan
Kenapa tak kembali, tuan?
Bernapas dari udara yang membelah
Mengucur peluh dalam simbah
Sebab hati tak lagi megah
Dalam deru huru hara yang merah
Kenapa tak kembali, tuan?
Mendidih tulangmu dalam perahu
Di arak oleh debu-debu
Tenang mana lagi yang harus tandus, tuan?
Sewaktu-waktu mungkin nampak tempias
Turun dari awan-awan rendah
Merajuk menengadah
Kenapa tak kembali, tuan?
Sebelum lumat jejak dibawa lorong.