Sumur Windu: Puisi Dian Riasari

8

Panawijen ijo royo-royo, bersimbah binar matahari
ketika manusia mampu terjemahkan bisikan angin
dan ranting-ranting pohon serupa jemari
merangkul hangat setiap nurani,
perempuan nirmala itu lahir
di antara rapat rapal doa
mantra ayomi keluhuran budi
dalam timang sang Mpu Purwa.

Putri Dedes, ibu raja-raja Nusantara
tumbuh dalam lingkup dengung doa
suci sunyi pertapaan
tenang batu-batu kenong
jadi saksi, yang tak lekang digilas zaman.

Jernih air Panawijen denyutkan kehidupan
Sumur Windu, sumur dalam tak berujung
serupa jiwa yang terpaut pada Sang Maha Pencipta
hingga kisah luka buahkan supata Mpu Purwa
keringlah mata air, gersanglah tanah leluhur.

Abad demi abad berkelebat
mantra kaum suci suburkan negeri
namun tangan kotor keserakahan
lagi-lagi lukai ibu bumi.

Tulisan Terkait

Pada sepotong kenang,
ada kerut kening Mpu Purwa
dan air mata Ken Dedes
mengalir sepanjang Kali Mewek.

Kini tumbuh kezaliman yang keringkan tanah,
kemegahan robohkan keluhuran
ini bukan kutukan,
melainkan lipatan zaman yang terulang.

Malang, Oktober 2026

Dian Riasari, tinggal di Kota Malang, Jatim. Pecinta puisi, juga pengelola dan pengajar di bimbel Bimba Bintang Junior Mangliawan Malang. Berkegiatan di Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia. Puisinya telah dimuat di beberapa media online dan cetak, seperti Harian Bhirawa, Ranah Riau, Riau Sastra, eneste.id, penaterbang.com, Bambang Kariyawan.com, Jurnal Puisi Cinta, Ngewiyak, Tirastimes, kabaran.id, Laman Riau, Lenggok Media, Jurnal Tinta. Berkontribusi pada 50-an buku antologi dan menulis satu buku puisi solo (Dian dalam Goresan Pena). Peraih juara 2 Anugerah COMPETER Indonesia 2024. Silakan sapa penulis di IG: dian_de_lala atau FB: Dian Riasari. Baginya, menulis adalah terapi bagi jiwa.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan