

(Dalam rangka Hari Jadi ke-63)
Oleh Musa Ismail
Bismillah,
Menjadi sastrawan tentu memiliki hujah. Ada yang menjadi sastrawan karena ingin melahirkan karya. Ada pula sastrawan yang menjadikan karya sebagai jalan untuk merawat ingatan suatu masyarakat. Taufik Ikram Jamil berada dalam ruang yang kedua. Dari Telukbelitung, Riau, ia tumbuh menjadi penyair, cerpenis, novelis, wartawan, budayawan, sekaligus penggerak kebudayaan. Nama dan kiprahnya kemudian melekat kuat dengan perkembangan sastra Melayu Riau dalam sastra Indonesia modern.
Taufik Ikram Jamil (TIJ) lahir pada 19 September 1963. Beliau pengarang yang produktif dalam berbagai genre. Puisi, cerpen, novel, dan esainya memperlihatkan perhatian yang kuat terhadap dunia Melayu, sejarah, bahasa, masyarakat, dan perubahan zaman. Ensiklopedi Sastra Riau mencatat bahwa karya-karyanya pernah dimuat dalam berbagai media penting seperti Kompas, Horison, Kalam, Republika, Merdeka, Jawa Pos, dan Riau Pos. Dengan demikian, ruang kreatif TIJ tidak hanya berakar di Riau, tetapi juga laksana sirih junjungan yang merambat hingga ke gelanggang sastra Indonesia secara nasional.
Kekuatan karyanya terletak pada kemelayuan. Namun, Melayu dalam karya-karyanya bukan sekadar ornamen budaya. Melayu menjadi sumber gagasan, cara melihat manusia, sekaligus ruang untuk bertanya tentang identitas dan perubahan. Dalam idenya, Melayu menjadi universal dan tidak dihimpit oleh ruang sempit. Hal itu sangat terasa dalam kumpulan puisinya Tersebab Haku Melayu dan Tersebab Aku Melayu. Buku Tersebab Aku Melayu merupakan kumpulan sajak yang menghimpun karya selama sekitar lima belas tahun. Sajak-sajaknya telah tersebar di sejumlah media seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos, Republika, dan Riau Pos.
Menariknya, perubahan dari kata haku menjadi aku bukan sekadar perubahan ejaan. Judul-judul tersebut memperlihatkan perjalanan pengucapan seorang penyair dalam memandang kemelayuan. Melayu tidak hanya tampil sebagai identitas geografis, tetapi berkembang menjadi ruang perenungan tentang sejarah, manusia, dan peradaban. Bahkan, deskripsi katalog Perpustakaan Jakarta terhadap Tersebab Daku Melayu menekankan kuatnya tema kemelayuan dalam puisi-puisinya. Karena itu, membaca puisi TIJ berarti memasuki dunia yang mempertemukan kata dengan ingatan. Sungai, laut, kampung, sejarah, tokoh-tokoh Melayu, dan kehidupan masyarakat menjadi bagian dari saujana batinnya.
Tij juga memiliki perhatian besar terhadap tokoh dan narasi klasik Melayu. Kumpulan cerpen Sandiwara Hang Tuah dan Membaca Hang Jebat memperlihatkan keberaniannya membawa tokoh tradisional ke dalam sastra modern. Beliau menghidupkan kembali karakter legendaris itu. Hang Tuah dan Hang Jebat bukan sekadar tokoh lama yang diulang ceritanya. Keduanya dapat menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan kesetiaan, kekuasaan, keberanian, keadilan, dan hubungan manusia dengan penguasa. Dia berhasil membawa kedua tokoh tersebut ke dalam ruang pertanyaan baru. Karya Membaca Hang Jebat memperoleh penghargaan karya sastra terbaik dari Pusat Bahasa pada 1999. Sementara itu, Sandiwara Hang Tuah memperoleh penghargaan dari Yayasan Sagang. Cerpen Pagi Jumat Bersama Amuk juga memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. Di sinilah tampak kekuatannya: tradisi bukan hanya benda museum. Tradisi justru dibawa masuk ke dalam percakapan masa kini.
TIJ tidak berhenti pada aktivitas menulis. Ia juga terlibat langsung dalam membangun ruang kebudayaan. Ensiklopedi Sastra Riau mencatat bahwa pada 1991 ia mendirikan Yayasan Membaca yang kemudian pada 1999 berkembang menjadi Yayasan Pusaka Riau. Yayasan tersebut juga pernah menerbitkan majalah sastra Menyimak. Setelah meninggalkan dunia kewartawanan, Beliau mendirikan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) pada 2002. Pada tahun yang sama, dia dipercaya menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Riau untuk periode 2002–2007. Langkah tersebut penting karena kehidupan sastra tidak hanya membutuhkan pengarang. Sastra juga membutuhkan penerbit, komunitas, ruang pertunjukan, lembaga pendidikan, pembaca, dan ekosistem kebudayaan. Dalam konteks ini, ia berperan sebagai pengarang sekaligus pembangun rumah kebudayaan.
Pengakuan terhadap kiprah TIJ tidak hanya datang dari lingkungan sastra Riau. Pada 2021 ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Pelopor dan Pembaru bidang sastrawan. Pemerintah Provinsi Riau mencatat penyerahan penghargaan tersebut di Pekanbaru pada Desember 2021. Penghargaan itu menjadi penanda penting atas dedikasinya terhadap sastra Melayu Riau. Buku profil Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 juga secara khusus menempatkannya dalam kategori Pelopor dan Pembaru serta mencatat sejumlah karyanya antara lain Tersebab Haku Melayu, Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, Hempasan Gelombang, Gelombang Sunyi, dan karya-karya lainnya. TIJ menjadikan kata sebagai jalan untuk menjaga ingatan. Ia menulis Melayu, tetapi tidak berhenti pada Melayu sebagai identitas. Ia membaca sejarah, tetapi tidak membiarkan sejarah menjadi masa lalu yang diam. Ia menulis tentang alam, kampung, tokoh, dan masyarakat, lalu mengolah semuanya menjadi pertanyaan tentang manusia. Dari Riau, TIJ membuktikan bahwa sastra daerah dapat berbicara pada tingkat nasional ketika lokalitas digarap dengan kesadaran artistik dan wawasan yang luas. Melayu menjadi akar, sastra menjadi perahu, dan Indonesia menjadi laut tempat karya-karyanya berlayar. Dalam konteks kebudayaan Riau hari ini, warisan terpenting Taufik Ikram Jamil barangkali bukan hanya buku-bukunya. Lebih jauh daripada itu, ia meninggalkan sebuah cara pandang: bahwa tamadun tidak akan hidup apabila hanya dikenang; tamadun harus terus dituliskan, dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan. Dalam perjalanan itulah, sastra menemukan tugasnya—menjaga agar kata tidak kehilangan marwah, dan agar ingatan sebuah bangsa tidak karam ditelan zaman.
Alhamdulillah.
Bengkalis, Sabtu, 07 Rabiul Awal1448 H / 19 September 2026.
Daftar Pustaka
Danardana, Agus Sri, dkk. 2011. Ensiklopedia Sastra Riau. Pekanbaru: Palagan Press.
Jamil, Taufik Ikram. 1995. Tersebab Haku Melayu. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Jamil, Taufik Ikram. 1997. Sandiwara Hang Tuah. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Jamil, Taufik Ikram. 1998. Membaca Hang Jebat. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Jamil, Taufik Ikram. 2010. Tersebab Aku Melayu. Pekanbaru: Yayasan Puisi Riau. Edisi katalog Perpustakaan Jakarta, Teras Budaya, 2018.
Jamil, Taufik Ikram. 2015. Tersebab Daku Melayu: Buku Sajak Penggal Ketiga.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. 2021. Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Pemerintah Provinsi Riau. 2021. Anugerah Kebudayaan Indonesia Diserahkan kepada TIJ.” PPID Utama Provinsi Riau, 21 Desember 2021.