Wak Wak, jarang-jarang kita kumpul serentak, apa hal ini.
Wak Wak, sedapnya cakap apa.
Sejak kapan kita bicara. Lumrahnya kita dalam pembicaraan.
Wak Maknawi menjawab pertanyaan Wak Makna seadanya.
Wak Muradun mengerling, merasa dalam keadaan aneh bin asing, lantas bertanya.
Wak Wak, kita masih di hari sabtu kan.
Hari semuanya sama, ada apa.
Begini Wak Maksudun, tidak kebetulan saya ditugaskan menanyakan hari. Bila hari semuanya sama, bagaimana dengan nama-namanya yang berbeda.
Itu hanya sesuai urutan dari hari pertama sampai hari ketujuh.
Maaf, bunyinya sampai kelima terdengar.
Maaf, saya bertanya dengan Wak Maksudun, tapi tidak masalah. Terimakasih Wak Tarjam.
Siapa yang menjawab sampai ketujuh tadi. Wak Tafsirun menimpal ihwal bual.
Kami. Wak Makna dan Wak Maknawi menjawab serentak.
Kenapa harus kompak menjawab, memangnya kembar.
Kembar tidak, cuma beda waktu hadir. Wak Maknawi menjawab.
Kami satu sebelumnya, satu raga persis menempel, tapi kami memang harus dipisahkan, bagaimanapun kami berbeda sesuai sapaan. Sambung Wak Makna.
Terimakasih, sudah menjawab sesuai kapasitas.
Mengapa Wak Takwil tidak menggubris kita semua.
Wak Wak, Wak Takwil. Apa kabar Wak.
Saya senantiasa sehat selama masih diberi kesempatan singgah.
Wak mendengar percakapan kami.
Dengar.
Wak tertarik.
Percakapan yang menarik, tapi bukan kapasitas saya menyambungkan dan menimpali positif ataupun negatif.
Mengapa demikian.
Saya ikut perintah sesuai lapangan kerja.
Di mana kerjamu sekarang Wak Takwil.
Jangan mulai lupa atau pura-pura tidak tahu. Terimakasih Wak, sudah bertanya. Sama-sama Wak.
Eh, bukan lupa, sekedar mengingatkan, semoga masih dijumpakan dengan sabtu berikutnya.
Mengapa berterimakasih kepada saya Wak Muradun.
Satu kosong. Tambah saya, dua kosong.
Oh ya, terimakasih Wak.
Sungai Pakning, 17 Februari 2024