Sudah lama jalan ini tak ia lewati. Jalan lurus terjal
Kini telah lempang, luas dan bercabang-cabang
Ke Selatan, Barat Daya dan Utara. Seperti jalan layang
Kenangan mengapung. Sebelum berlayar selalu zikir
Perahu tanpa layar. Selat. Tebing karang. Tanda cinta
Pada yang maha Kasih. Ini jiwa. Ini tubuh. Ringkih
Menyibak lautMu. Sehabis-habis runduk. Atas gelombang
Sudah lama jalan ini tak ia lewati. Kini telah lempang
Luas bercabang-cabang. Melayangkan kenangan getir
Segalanya adalah keringat. Adalah pertarungan tanpa henti
Tanpa kenal lelah. Hingga ke tanjung paling jauh, mencari
Menyelam batang terendam. Kemiskinan. Juga dendam
Pada butir pasir pantai yang sering menertawakan kekalahan
Demi kekalahan, setiap waktu, pagi ke senja, ke nyeri. Duri
dalam daging, berdenyut ngilu. Bertahun-tahun. Sakit itu
Kemiskinan yang terhinakan, karena ijazah rendah, ia ingin
Buruk laku cermin dibelah. Tak lagi ada tegur sapa, debur
Ombak dan camar yang menjerit luka. Mengurung palung
di setiap tanjung. Ia akan pergi jauh. melewati setiap jalan
yang bercabang-cabang dengan kepala tegak. Tatag!
Jaspinka, 2023
Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyei (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).