Oleh: Firdaus Herliansyah (ASN di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau)
Masihkah profesi penulis di era digitalisasi tetap menjanjikan? Ketika manusia kini lebih asyik menikmati konten digital melalui gawainya serta mulai sepinya lapak buku, mungkin ini akan jadi pertanyaan yang valid. Seketika pikiran saya melayang ke momen 5 tahun yang lalu, waktu saya masih sesekali menyempatkan diri untuk hunting buku-buku bekas di sekitaran Kwitang, dan seringkali pula saya lewat di depan Toko Buku Gunung Agung. Tidak begitu banyak orang yang berburu buku di sana, tidak seperti pada era 90-an atau awal tahun 2000-an. Meskipun kala itu pandemi Covid-19 belum lagi menghantam perekonomian dunia, entah mengapa saya merasa geliat toko buku fisik kala itu sudah lesu dan tidak lagi bergairah.
Sebelum pada akhirnya Toko Buku Gunung Agung secara resmi mengumumkan menutup seluruh tokonya di tahun 2023 ini, sejumlah toko buku fisik sudah terlebih dahulu menutup lapaknya. Bukan hal yang baru sebenarnya, sebab tak cuma di Indonesia, di sejumlah negara lain di dunia, fenomena yang serupa juga terjadi. Ambil saja contoh yang terjadi di Britania Raya, sejumlah toko buku terkenal, termasuk beberapa cabang dari Waterstones, WHSmith, dan Borders, telah ditutup dalam beberapa tahun terakhir. Faktanya telah terjadi pergeseran minat baca masyarakat di seluruh dunia sebagai dampak dari digitalisasi. Biaya operasional toko buku yang cukup tinggi, menyebabkan overhead cost membengkak, ini tentu tidak sebanding dengan jumlah pemasukan yang diterima pemilik toko dari hasil penjualan buku.
Fenomena tutupnya toko buku sebenarnya tidak berarti dikarenakan orang lebih senang membaca buku digital (e-book) dibandingkan buku cetak. Buku dan media cetak tetap masih menjadi pilihan pembaca, hanya saja kendala dan keterbatasan toko buku adalah ketersediaan rak dan jumlah buku yang bisa disimpan, menjadikan pembelian buku secara daring melalui marketplace pada akhirnya menjadi opsi yang praktis dan handal. Toko buku daring sepenuhnya menghilangkan biaya sewa properti dan mengurangi jumlah tenaga kerja yang menjadi beban operasional pada toko buku fisik. Tak terkecuali dalam menyediakan pengalaman dan petualangan mendapatkan buku-buku antik yang sebelumnya dikejar melalui proses sensasi berburu di lapak-lapak buku bekas, kini juga telah beralih ke daring.
Penyebab maraknya penutupan toko buku dalam era digital, secara umum dapat diuraikan menjadi beberapa hal seperti berikut:
Pertama, berubahnya pola konsumsi informasi masyarakat. Internet telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam hal mengakses informasi. Ada jutaan konten dan platform di dunia internet yang bisa diperoleh secara cuma-cuma. Maka tak heran, berubahnya preferensi konsumen ini membikin demand terhadap buku fisik merosot tajam, imbasnya tentu saja pada bisnis toko buku dan penerbitan buku tradisional.
Kedua, iklim marketplace daring yang kompetitif. Tak bisa dipungkiri, kehadiran marketplace daring yang menawarkan aneka ragam pilihan buku dengan harga yang kompetitif, merupakan ancaman besar bagi toko buku fisik. Kenyamanan dan kemudahan yang disediakan marketplace dalam pengalaman berbelanja bagi konsumen, membuatnya semakin digandrungi. Belum lagi aneka promo menggiurkan seperti cashback, CODdan bebas ongkos kirim membuat pasar akan makin bergerak secara massif ke internet.
Ketiga, perubahan preferensi konsumen. Digitalisasi juga telah mempengaruhi preferensi konsumen dalam mengakses informasi. Ada banyak platform digital yang bisa digunakan untuk mendapatkan informasi seperti buku elektronik, audiobook, podcast, dan media sosial. Sehingga beberapa penulis memilih untuk menerbitkan buku secara mandiri melalui platform digital yang lebih murah, praktis, dan menjangkau lebih luas.
Lalu mari kita jawab pertanyaan pembuka di awal tulisan ini, “masihkah profesi penulis buku akan jadi pilihan yang menjanjikan di masa depan?” Jawabannya tentu saja adalah bisa, dengan catatan ada sejumlah peluang sekaligus tantangan yang perlu untuk dijawab oleh penulis. Di antara hal-hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi penulis untuk bertahan di era digital adalah:
Pertama, segera beralih ke platform digital. Penjualan buku fisik mungkin memang menurun, namun penulis perlu menjadi adaptif dengan mengikuti perkembangan teknologi, misalnya dengan melakukan publikasi mandiri di platform digital, seperti blog ataupun media penulisan daring yang memungkinkan penulis pemula sekalipun untuk dapat menyebarkan karyanya demi menjangkau audiens lebih luas.
Kedua, buatlah konten kreatif. Saat ini konten kreatif senantiasa diburu di platform daring, terutamanya di media sosial. Seorang penulis buku bisa memanfaatkan peluang ini dengan membuat konten digital kreatif dan orisinal, di mana penulis memberikan edukasi seputar dunia literasi sehingga dapat mempromosikan creative writing kepada audiensnya.
Ketiga, jadilah inovatif dan mandiri. Seorang penulis buku harus memiliki imajinasi dan kreativitas yang luas. Cobalah untuk mengeksplorasi genre tulisan yang beragam, atau membuat tulisan unik yang berbeda dari kebanyakan sehingga memberikan diferensiasi dalam iklim pembaca yang selalu menuntut kebaruan. Penulis juga wajib mandiri dalam upaya memperkenalkan karyanya melalui platform yang ada tanpa menggantungkan diri dengan penerbitan.
Pada akhirnya, kesuksesan seorang penulis buku profesional akan sangat bergantung pada dedikasi, kreativitas, ketekunan, dan kerja keras masing-masing penulis itu sendiri. Dunia dan teknologi akan terus berkembang menuju ke arah yang baru dan disruptif. Sebagaimana Teori Evolusi Darwin mengajarkan kepada kita, bahwa bukan dia yang paling kuatlah yang akan bertahan, melainkan yang akan bertahan adalah yang paling adaptif terhadap perubahan.
***