Kenapa Kita Kurang Peduli Pada Palestina?: Catatan Rafif Amir

95

Ada pertanyaan yang cukup mengusik. Diajukan seseorang pada saya.

“Kenapa di luar negeri lebih berani menyuarakan Palestina? Gak seperti di Indonesia.”

Saya sudah menjawabnya panjang lebar. Tapi saya iseng melempar pertanyaan itu di grup Palestina Kita.

Dan beragam jawaban pun bersahutan.

“Karena rasa kemanusiaan mereka lebih tinggi,” kata SI A.

“Karena rakyat Indonesia terlena medsos. Sibuk mencari dunia. Persatuan umat terpecah belah,” begitu kira-kira kata Si B. Ringkasan dari komentarnya yang panjang.

“Bisa jadi karena mereka lebih ekspresif, dibiasakan berani mengutarakan pendapat dan diskusi sejak di bangku sekolah. Jadi saat melihat ada sesuatu yang salah mereka lebih terlihat tindakan perlawanannya,” kata salah seorang admin, ikut menimpali.

“Banyak dari kita yang ngerti tapi cari aman. Nurani dan intelektualitasnya akhirnya dinormalisasi,” kata yang lain lagi.

“Budaya ewuh pakewuh nampaknya berpengaruh pada keputusan untuk peduli.” Jawaban lain yang menarik untuk direnungi.

Dan masih banyak komentar lainnya. Cukup panjang, dan mungkin seru jika didiskusikan via kopdar sambil ngopi.

Namun saya ingin memulai dari satu hal. Satu kata kunci: empati. Karena ketika kita membincang genosida di Gaza, kita telah menerobos semua sekat pembatas, hingga yang tersisa hanyalah kemanusiaan!

Di Amerika dan Eropa propaganda Zionis telah berlangsung lama. Lewat Proyek Hasbara. Dengan anggaran dollar berjuta-juta. Media dibungkam, mencitrakan Israel sebagai korban, semua wajah manisnya terpampang. Misi ini sukses, berpuluh-puluh tahun.

Hingga gelombang media sosial tak terbendung. Sebagai media alternatif yang mulai mendominasi. Kebenaran tak lagi dapat disembunyikan. Fakta-fakta seputar 7 Oktober dan yang terjadi setelahnya menggulung dusta yang sekian lama dibentangkan oleh media-media Barat.

Kebenaran itu dengan cepat menyebar dari satu kampus ke kampus lainnya. Mahasiswa, dosen, dan para profesor menutup bangku kuliahnya, turun ke jalan, bermalam dan mendirikan tenda di halaman kampus hingga sepekan. Polisi mencegah mereka, bentrokan tak dapat dihindarkan, ribuan ditangkap–sebagian dengan kepala yang berdarah.

Gelombang kesadaran baru telah datang. Di Inggris, para aktivis menyegel pabrik senjata yang mengimpor produknya ke Israel. Di Amerika, Blinken dan Biden dihujat di ruang-ruang terbuka. Di Jerman, menteri pendidikan didemo habis-habisan, dituntut mundur karena mendukung genosida.

Mereka bukan para demonstran bayaran. Mereka bergerak karena panggilan kemanusiaan. Karena empati yang telah diajarkan kepada mereka bahkan semenjak bayi.

Belum lagi kalau bicara boikot. Mereka tak sekadar menyeru. Ribuan minuman terafiliasi dibuang ke jalan, resto-resto terafiliasi dikirimi kotoran, bahkan ada yang berujung pada pengrusakan.

Tapi bukan itu poinnya. Ini soal keberanian, ketika kebenaran telah tampak bagai matahari di waktu siang. Diam berarti dukungan pada kezaliman, pada kejahatan, pada penjajahan.

Padahal Indonesia adalah pengguna medsos terbesar. Itulah bumi perjuangan. Itulah yang saya sebut sebagai medan tempur kedua. Ketika para pemiliknya secara terbuka mendukung genosida, kita balas hantam dengan konten-konten dukungan untuk Palestina.

Maka itulah sebaik-baik cara, selain donasi dan doa. Di grup Palestina Kita, konten kita bagikan. Tinggal dishare di medsos masing-masing. Jika dihitung, hingga hari ke-422 sejak grup berdiri, telah ratusan ribu atau bahkan mungkin jutaan konten yang dishare para pejuang ke media sosial.

Sehingga tidak ada alasan bahwa seseorang tak tahu bahwa terjadi genosida di Gaza. Tak ada alasan tak tahu seruan boikot dan produk apa saja yang diboikot. Tak ada alasan berpangku tangan sementara saudara-saudara mereka dibantai!

Berulang kali saya menyaksikan bagaimana para aktivis nonmuslim di Barat, bersama anak-anak mereka mengibarkan bendera Palestina pada aksi-aksi demonstrasi di jalan-jalan. Sementara di Indonesia, di Sulawesi Utara bendera Israel dikibarkan. Sementara di Indonesia, remaja putri asyik makan di McD sambil mengolok-olok Gaza. Sementara di Indonesia, pemuka agama menjadi sponsor nomor satu produk-produk genosida!

Kemanusiaan yang tak diasah lama-lama akan tumpul dan lenyap. Hilanglah harga kita sebagai manusia. Lalu jika semua diam dengan alasan “cari aman“, maka saat itulah kita berkarib dengan kebatilan.

Dan memang itulah yang telah terjadi. Ketidakpedulian yang menjadi wabah di negeri ini. Ketidakpedulian pada politik, ketidakpedulian pada agama, ketidakpedulian pada isu kemanusiaan. Yang penting hidup, makan, bekerja, bersenang-senang. Kita lupa bahwa ketidakpedulian itu juga akan dipertanggungjawabkan.

Sederhana. Sederhana sebenarnya bagaimana kita melatih empati dan saling mendukung untuk Palestina. Jangan pernah skip ketika melihatnya di medsos. Tinggal like atau komentar. Agar algoritma bekerja dan lebih banyak merekomendasikannya.

Jika itu saja tak bisa dan tak mau, maka memang benar, Palestina tak pernah ada di hatimu.

Sidoarjo, 17 Januari 2025
Founder Palestina Kita
Gabung grup 👉 bit.ly/palestinakitawa

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan