Ramadan: Memuliakan Tamu Mulia Demi Kemuliaan Oleh: Hendrizon

34

Ramadan: Memuliakan Tamu Mulia Demi Kemuliaan

Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria

Kemuliaan yang dimiliki bulan Ramadan sesungguhnya sulit untuk diungkapkan. Terkadang baru bisa rasakan setelah kita berada di dalam bulan Ramadan tersebut. Sesungguhnya kemuliaan bulan Ramadan itu sudah mulai terasa sejak berada di dua bulan menjelang masuknya Ramadan atau tepatnya pada bulan Rajab dan Syaban. Lalu kemuliaan itu terus dirasakan setelah kita berada di dalamnya, sehingga kemuliaan itu berlanjut di penghujung bulan Ramadan atau memasuki Hari Raya Idul Fitri atau bulan Syawal (Peningkatan).

Atas kemuliaan Ramadan tersebut maka wajar jikalau nabi Muhammad SAW menggambarkan kemuliaannya itu dengan sabdanya

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ

Andai umatku tahu keutamaan Ramadhan, mereka akan meminta seluruh tahun menjadi Ramadhan (Lihat Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dan ad-Dailamy dalam Musnad al-Firdaus dari jalur sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu).

Lalu bagaimanakah caranya kita memuliakan Ramadan itu agar kita juga mendapatkan kemuliaannya (menjadi orang yang bertaqwa), berdasarkan (QS.Albaqorah: 183) dan (QS: Al-Hujurat, 13) bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.

Secara sederhana kita bisa membagikan Ramadan menjadi tiga bagian. Pertama sebelum memasuki Ramadan, kedua saat memasuki Ramadan dan Ketiga setelah usai Ramadan.

Nabi Muhammad SAW di dalam doanya saat berada di bulan Rajab dan Syaban, beliau bermohon agar diberkahi dan dipertemukan dengan bulan Ramadan.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya:  Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta pertemukanlah kami sampai bulan Ramadan". Doa ini diriwayatkan dari Anas bin Malik dan terdapat dalam kitab Syu'ab al-Iman karya Imam al-Baihaqi serta Al-Adzkar an-Nawawiyah karya Imam Nawawi.

Dari doa ini dapat kita lihat bahwa nabi Muhammad SAW memang telah mempersiapkan diri untuk menemui Ramadan dan memposisikan diri dengan melakukan amal sholeh terlebih setelah beliau berada dipertengahan bulan Syaban (Nisfu Syaban).

Lalu ketika memasuki bulan Ramadan, nabi Muhammad SAW lebih banyak melakukan ibadah seperti berpuasa, Qiamul lail, sholat tarawih, bersedekah, membaca Al Quran, ‘Itikaf, mengurangi tidur yang ujung-ujungnya kemuliaan itu digambarkan beliau dengan sibuk mencari malam-malam ganjil di akhir bulan Ramadan yakni malam lailatul qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan) dan adanya hanya pada bulan Ramadan.

Selanjutnya di penghujung Ramadan atau memasuki bulan Syawal, nabi Muhammad SAW lebih menganjurkan kita untuk saling bersilaturahmi dengan saling memaafkan antar sesama, antara anak kepada orang tuanya, antara istri kepada suaminya, dengan saling mengikhlaskan kesalahan dan kesilapan agar manusia itu kembali ke fitrahnya yakni suci dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan.

Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah mungkin seseorang akan mendapatkan kemuliaan Ramadan apabila sejak dari proses awal sampai proses akhir, tidak mau mengikuti dan melaksanakannya dengan yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan yang telah dikerjakan oleh orang-orang sholeh, yang sedikit berbicara lebih banyak berbuat serta terus mengintrospeksi diri dan memperbaiki diri.

Bukan sebaliknya, mereka yang lebih banyak bicara dan melakukan perbuatan tercela seperti tidak mau berpuasa di siang hari tanpa ada uzur syar’i, me-ghibah (menceritakan aib orang lain), menyebarkan fitnah, berbohong dan lain-lain. Bahkan yang lebih ngerinya lagi tak ada perubahan perilaku saat mereka berada di dalam bulan Ramadan ataupun bukan di dalam bulan Ramadan bagi kehidupannya sehari-hari.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan Ramadan 1447 H untuk lebih bersemangat dalam mengerjakan ibadah demi mengejar kemuliaan yang dimiliki Ramadan dan menularkan kemuliaannya itu kepada orang-orang yang beriman.

Bengkalis, 02 Maret 2026

Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian
Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024
resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai
Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak
tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan