

Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Al Qur’an yang setiap tahun kita peringati turunnya (Nuzulul Qur’an) setiap malam ke-17 Ramadan, disepakati ulama adalah Kalamullah yang otentik dan Keasliannya bisa dipertanggungjawabkan, karena ayat Al Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu sama dengan apa yang kita terima saat ini. Hanya saja penyempurnaan Al Qur’an itu mengalami proses untuk menjadi sebuah kitab. Intinya Al Fatihah yang dibacakan nabi Muhammad SAW sama dengan Al Fatihah yang kita bacakan sekarang dan sebagainya.
Selain tetap otentik (asli), Al Qur’an membimbing kita ke arah yang baik karena prosesnya pun melalui jalur yang sangat baik. Turunnya dari yang maha baik (Allah SWT), di tempat yang baik (Kota Mekkah) di bulan yang baik (Ramadan), melalui perantaraan yang baik (Malaikat Jibril), kepada nabi yang terbaik (Nabi Muhammad SAW) untuk membimbing manusia ke arah yang baik.
Proses ini sendiri dijelaskan dan mendapatkan jaminan dari Allah SWT melalui firman dalam QS: Al-Hijr ayat 9:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
Inna nahnu nazzalnadz-dzikra wa inna lahu lahafizun
Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”.
Ayat ini menegaskan janji Allah SWT untuk menjaga kemurnian, keaslian, dan kesucian Al-Qur’an dari penambahan, pengurangan, maupun perubahan hingga akhir zaman.
Sesungguhnya kita yang telah memperingati dan mempelajari turunnya Al Qur’an tersebut, dari keterangan di atas seharusnya kondisi kita makin hari semakin membaik.
Kenyataannya di lapangan masih banyak kita temui orang-orang yang kondisinya tidak baik-baik saja. Sebut saja angka kemiskinan yang terus meningkat, angka kejahatan yang terus bertambah, perbuatan korupsi yang menjadi-jadi, kesewenangan di sana sini, keadilan sulit terjadi dan sebagainya.
Maka sungguh ironis, walaupun Al Qur’an telah turun empat belas abad yang lalu tapi keotentikan dan kebaikan Al Qur’an itu jauh dari kondisi kita yang sesungguhnya. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim kitab sucinya Al Qur’an tapi kondisi masyarakat adalah sebaliknya.
Adapun yang perlu kita lakukan sekarang adalah segera evaluasi dan melakukan aksi nyata untuk kembali ke ajaran Al Qur’an dengan senantiasa memperbaiki diri, tidak serta merta menyalahkan orang lain, segera bertaubat sebelum Al Qur’an itu melaknat dan menyumpahi diri.
Sebagai penutup mari kita renungkan isi hadist nabi Muhammad SAW Hadits shahih riwayat Bukhari (no. 5027) dari Utsman bin ‘Affan yang berbunyi
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khairukum man ta’allamal qur’aana wa ‘allamahu.
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. Wallahu alam.
Bengkalis, 07 Maret 2026