Suara Lirih Penyelamat Hunian: Puisi Rubaida Rose

7

Keset mengerang, pundaknya lebam ditindih kaki-kaki sepi basah.Tanah kuning mengunci indra, mencekik napas. Paras memerah penuh sobekan, dihempas lagi ke tembok angkuh mengusir tanah. “Tuan, aku butuh obat,” pintanya pecah dalam lirih.

Pagi nan parah, anus Keset menyembur gas masam tepat di wajah yang lelap. Menerjang Kemoceng bermimpi dalam dekap. “Dasar jorok tak punya hati!” teriak si bulu sambil mendorongnya tersungkur

Ia mengejek penuh jumawa, sebelum takdirnya sendiri hancur. Sesaat rintihan Kemoceng terdengar lirih di sudut hampa, wajah dan tubuhnya bonyok. Dipenuhi luka dan bau kepinding yang nista. “Tuan, kenapa aku ditakdirkan menjamah sarang laba-laba itu? “isaknya membatin, saat sisa-sisa wisa merayap di tubuh kaku.

Tulisan Terkait

Wajah pengepel bosan mencium ketiak keramik yang dingin dan berbau, tubuhnya lemas, ditenggelamkan pada karbol yang membakar dada. Ia kehilangan nyawa saat isi lambungnya diperas tanpa ampun, “Tuan, izinkan aku menukar takdir, “bisiknya dalam doa tersiksa.

Kain Lap menahan napas, diemut mulut-mulut maut yang rakus, dipaksa menyeka air basi dan lemak yang membuat jiwanya hangus. Wajahnya tak lagi dikenali, kumal dan tengik di sudut yang sepi, “Tuan, kenapa aku kau buang tanpa kau mandikan dengan hati?”

Kuantan Singingi, 18022026

Rubaida Rose. Lahir di kota Tembilahan, Indragiri Hilir. Memiliki kecintaan menulis puisi, Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER) dan Asqa Imagination School (AIS) sebagai wadah dia bercumbu mesra dengan puisi. Deretan tulisan manisnya bisa dinikmati di buku buku puisi. Tulisannya termaktub di beberapa media; Riau Sastra, Riau Pos, Ranah Riau, Kompasiana. FB: Rubaidarose

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan