Langit pagi yang cerah menghiasi awan-awan tipis yang berarak pelan. Sebuah mini bus melaju di jalan berkelok, dikelilingi gunung-gunung tinggi. Di dalamnya suara tawa dan obrolan riuh memenuhi udara. Tujuh orang remaja dengan ransel di punggung, dan semangat membuncah, tak sabar ingin melakukan bakti sosial untuk mengisi liburan tengah semester di salah satu kampung. Mereka merupakan empat mahasiswa dan tiga mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi yang hendak mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sesampainya di kampung, katakanlah bernama Rantau Lilin, penglihatan mereka disuguhi dengan keindahan alam yang memesona. Perbukitan hijau yang menggoda mata, sawah bergelombang berwarna emas di bawah sinar matahari. Semuanya menyatu, membentuk pemandangan yang luar biasa indah. Tiap sudut desa Rantau Lilin menjadi lukisan alami yang memikat hati.
Mereka disambut dengan baik oleh warga desa Rantau Lilin. Mereka pun menceritakan tujuan mereka datang ke desa tersebut.
Setelah duduk di rumah kepala desa. Fawas sebagai ketua rombongan pun memulai pembicaraan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab yang hadir.
“Pak Kepala Desa serta Bapak dan Ibu yang kami hormati,” lanjut Fawas. “Senang rasanya bisa tiba di desa ini. Kami ini datang berencana untuk melakukan silaturrahmi dan bakti sosial. Kami sangat berharap bisa bekerjasama dengan Bapak dan seluruh warga untuk melakukan bakti sosial dan belajar banyak dari pengalaman di sini,” lanjut Fawas.
Lalu Fawas pun memperkenalkan temannya satu persatu.
Pak Kades pun mulai bicara, “Anak-anak sekalian. Kami pun merasa senang dapat bertemu kalian. Selamat datang di desa ini ya. Beginilah keadaan desa kami ini,” Pak Kades terdiam sejenak. Lalu ia pun melanjutkan, “Kehadiran kalian ini akan membawa semangat baru untuk kami semua. Kami berharap kalian bisa merasa seperti di tempat sendiri. Jangan sungkan untuk berbaur dan berbagi ide. Kami siap mendukung kalian dalam setiap kegiatan yang bermanfaat untuk warga,” balas kepala desa.
“Bolehkah kami menetap di sini selama tujuh hari, Pak?” tanya Fawas.
“Wah, tujuh hari ya. Alhamdulillah kami senang sekali kalian bisa tinggal lebih lama di sini. Jangan khawatir soal tempat tinggal. Kami sudah menyiapkan penginapan untuk kalian,” balas kepala desa dengan wajah senang.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak,” ucap Fawas dengan mjuka berseri.
“Baik sekarang saya akan mengantar kalian ke penginapan ya,” ucap Kepala Desa.
“Baik, Pak,” jawab Fawas dan teman-temannya serempak.
Kemudian Fawas beserta enam orang temannya mengikuti Kepala Desa menuju penginapan yang biasa digunakan jika ada tamu menginap di kampung itu. Penginapan itu merupakan dua kamar yang merupakan bagian dari kantor desa.
***
Malam tiba di kampung itu. Di sudut desa, lampu-lampu rumah warga mulai redup. Menyisakan cahaya agak temaram yang menyelimuti jalanan kecil. Sekumpulan remaja terlihat sedang mengobrol dengan kepala desa dan beberapa orang warga.
“Hari sudah malam. Kami pulang dulu ya. Kalian harus beristirahat,” ujar Kepala Desa.
“Oh iya, esok kami akan mengadakan gotong royong, Kalian akan ikut ‘kan?” tanya Kepala Desa.
“Ya, Pak. Kami mau,” balas mereka serempak.
“Itu memang bagian dari tujuan kami ke sini, Pak,” jelas Fawas, tersenyum.
Pak Kades pun tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Kemudian Pak Kades bersama beberapa warga meninggalkan penginapan.
Mereka pun menuju kamar masing-masing kecuali Fawas yang tidak bisa tidur. Setelah sekian lama membolak-balik badan namun tak dapat tidur, ia pun keluar dari dalam penginapan sambil membawa secangkir teh dan duduk di teras. Ia menghirup teh yang mulai agak dinigin sedikit demi sedikit.
Deg. Lampu mati secara tiba-tiba. Fawas terkejut dan tersedak. Semua gelap. Kawan-kawannya masih terlelap. Fawas masuk mencari lilin dan korek api dalam ransel. Ia hampir menginjak salah seorang teman lelaki yang terbaring saat mencari ranselnya.
Setelah menemukan lilin dan korek api, Fawas pun menyalakan lilin. Sebatang lilin dicacakkannya dalam dalam asbak rokok di ruang tengah. Sebatang lagi dibawanya ke luar. Ia memerhatikan api lilin yang menyala di dekatnya.
“Huh, teraaang, tenaang, dan hangaaat,” katanya seperti berbisik pada lilin itu.
Entah berapa lama kemudian, Fawas pun mulai mengantuk. Udara yang tadi sedikit terasa dingin kini agak berubah. Ia kini merasa hangat karena uap api yang melambai dari sumbu lilin. Fawas terlelap. Lilin meleleh perlahan.
***
Hari kedua.
“Fawas, bangun! Azan sudah berkumandang,” suara Icha terdengar seraya menepuk Pundak Fawas.
“Iya. Iya,” terdengar suara Fawas berat. Ia pun duduk dengan malas.
“Kenapa kamu tidur di luar lagi?”
“Tadi malam aku susah tidur. Makanya pindah keluar.”
“Besok jangan begitu lagi ya. ‘Kan jadi kasihan tubuh kamu.”
“Ya. Terima kasih karena telah mengingatkan.”
“Ya. Sama-sama,” ucap Icha tersenyum senang.
“Ya, udah. Kita sholat yuk,” ajak gadis itu.
Bersama teman-teman lain, mereka pun berjalan menuju mesjid yang terletak di kaki bukit.
Setelah sholat Subuh, Pak Kades pun mengajak mereka bergotong royong. Sesampainya di tempat yang telah ditentukan, mereka pun ikut membaur bersama masyarakat. Mereka bahu membahu membersihkan sampah, memotong rumput liar, memerbaiki fasilitas yang rusak, serta berkontribusi pikiran dan ide-ide kreatif untuk pengembangan desa, dengan semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
Sepanjang hari itu, suara riuh dan tawa gembira terdengar di sepanjang desa. Semua ikut serta dalam gotong royong tersebut, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan lanjut usia pun ikut serta dalam gotong royong tersebut walaupun mereka hanya duduk menyemangati yang hadir.
Kegiatan gotong royong ini bukan hanya membersihkan desa secara fisik tetapi juga membangun kebersamaan dan solidaritas antara warga desa Rantau Lilin dan kelompok remaja tersebut.
***
Hari keempat.
Siang itu matahari bersinar sangat terik. Terlihat warga masyarakat Rantau Lilin sedang berkumpul untuk mengikuti serangkaian acara adat Pacu Jawi atau Balapan Sapi. Tradisi ini dilakukian setelah panen sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Dalam acara ini sepasang sapi berlari di lintasan sawah berlumpur. Sementara seorang joki berdiri di belakangnya dengan memegang kedua sapi.
Tentunya acara ini sangat menarik perhatian bagi para turis dan rombongan mahasiswa kerja bakti tersebut. Mereka sangat takjub saat melihat sapi-sapi itu balapan, berlari sekencang mungkin, pacu memacu untuk mencapai garis finis. Jika salah satu sapi mulai berlari lambat, sang joki akan menggigit ekor sapi tersebut. Kemudian sapi itu akan berlari sekencang mungkin, dan mulai menyamakan pasangan balapannya.
Acara Pacu Jawi selesai. Warga desa pun mengadakan acara makan bajamba atau tradisi makan bersama yang penuh dengan makna sosial dan budaya. Acara ini untuk menjaga silaturrahmi sesama orang Minang dan sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah.
Semua warga desa Rantau Lilin ikut serta dalam acara ini, termasuk para turis dan rombongan remaja bakti sosial.
Pada malam harinya, rombongan bakti sosial pun memutuskan untuk istirahat. Tak ada akivitas malam itu. Mereka seperti kecapean karena kegiatan seharian tadi. Mereka tidur pulas kecuali Fawas.
Ketua rombongan itu belum bisa tidur. Semakin ia coba memicingkan mata sekuat-kuatnya, semakin banyak pikiran-pikiran aneh menghantuinya. Ia amat kesal dengan pikirannya. Kemudian ia melakukan hal yang sama seperti malam pertama kemarin.
Fawas keluar seraya membawa secangkir teh, kemudian duduk di depan teras dan melihat ke atas, ke langit yang bertabur Bintang. Ia menghirup tehnya sedikit demi sedikit. Angin berhembus pelan. Dingin sedikit terasa menggigit.
Deg.
Kejadian di hari pertama terjadi kembali. Lampu mati secara tiba-tiba. Fawas terkejut dan tersedak oleh tehnya. Kegelapan mulai menyelimuti penginapan mereka, ia masuk mencari lilin dan korek api.
Dalam penginapan, teman-temannya tertidur lelap. Setelah lilin dan korek api ditemukan, ia mulai menggosokkan korek api pada sumbu lilin. Terlihat api menyala. Ia menatap lilin. Kemudian berbisik, “Hu, teraaang, tenaaaang, hangaaat,” bisiknya pelan pada lilin yang menyala.
Fawas mulai mengantuk. Ia berbaring di teras. Ia merasakan kehangatan dari nyala lilin. Tak lama kemudian terlelap. Lilin pun meleh secara perlahan.
Hari kelima.
Ia dibangunkan Icha. “Fawas, bangun. Azan sudah berkumandang.”
“Ya iya,” balas Fawas.
“Kamu kenapa tidur di luar lagi?” tanya Icha.
“Tadi malam aku tak bisa tidur makanya pindah keluar.”
“Huh… Besok jangan seperti ini lagi ya. ‘Kan jadi kasihan tubuh kamu,” ucap Icha pelan.
“Ya, iya. Terima kasih telah mengingatkanku,” ujar Fawas.
“Sama-sama. Ya, udah. Ayo kita ke masjid.”
Kelompok bakti sosial itu pun sama-sama berangkat menuju masjid.
***
Seperti sore-sore sebelumnya, petang menjelang senja mereka pergi ke sungai untuk mandi sore sambil menyaksikan para nelayan yang menjaring atau menjala ikan. Sebagian mereka ada pula yang memunggah ikan-ikan dari sampan yang mereka peroleh setelah seharian menyusuri sungai. Ikan-ikan itu mereka dapatkan terkadang dengan memancing, menjala, memukat atau menjaring atau menggunakan perangkap ikan lainnya.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri tampak seorang nelayan sedang menjala ikan. Dilemparnya jala sekuat tenaga ke tengah sungai. Terlihat jala membentang di permukaan sungai kemudian mengembang di dalam air, lalu tenggelam.
Ia tunggu sebentar. Lalu diangkatnya ke atas. Banyak sekali ikan terperangkap di dalamnya. Mereka meronta-ronta seperti minta dilepaskan. Namun tetap saja tak berguna. Ikan-ikan itu tersangkut karena duri-durinya sendiri.
Setelah sekian lama, beberapa orang teman Fawas meminjam sampan dan jala kepada nelayan itu. Matahari sudah mulai agak condong ke barat.
“Hati-hati ya. Jangan sampai tergelincir. Air agak dalam sekarang. Maklum, malam tadi hujan lebat,” kata warga itu.
“Ya, kami hanya di sekitar sini saja, Pak. Sambil belajar menjala,” kata Icha tersenyum manis kepada nelayan.
Mereka menaiki sampan. Salah seorang dari mereka mengayuh sampan ke tengah sungai. Kemudian satu persatu dari mereka mencoba menebar jala. Mereka tertawa. Melempar jala sungguh tak sama dengan melukis di atas kertas atau mengetik di laptop.
Matahari merah sudah mulai tersapu awan di seberang kampung.
Icha pun tak ketinggalan. Seperti teman-teman yang lain, ia pun mencoba melemparkan jala sekuat-kuatnya, sejauh-jauhnya. Mungkin maksud hatinya untuk mencapai tempat yang luas dan dalam.
Saat jala menyentuh air, Icha pun tergelincir dan ditarik jala tersebut. Perempuan molek berlesung pipit itu terjatuh ke Sungai. Tubuh Icha dibawa arus air yang kencang. Ia coba berenang ke sampan namun gagal. Icha pun berteriak meminta pertolongan.
“Tolong, tolong!” tangannya tergapai-gapai.
“Tolong, tolong!” teriak Icha yang mulai menjauh terbawa arus. Tangannya tergapai-gapai ke udara.
Teman-temannya yang berada di dalam sampan dan di pinggir sungai melihat Icha sedang dalam bahaya, mungkin mereka tidak ada yang bisa berenang, tidak ada yang bisa menolong Icha.
Teman-teman dalam sampan pun berkayuh sekuat tenaga menuju Icha.
Tiba-tiba Fawas yang tadi berdiri di pinggir Sungai terjun dan berenang ke arah Icha. Sesampainya ke dekat Icha, ia raih tangannya, diseretnya ke pinggir sungai. Arus sungai sangat deras. Fawas dan Icha diseretnya ke hilir. Semakin jauh dari teman-teman. Mereka terdorong arus hingga lima puluh meter.
Arus air kian deras. Tangan Fawas kejang. Ia tak dapat lagi menggenggam tangan Icha. Icha dan Fawas akhirnya terpisah.
Teman-teman yang bersampan akhirnya sampai ke tempat Icha. Disusul pula oleh beberapa nelayan yang berada di sekitar tempat itu.
Melihat Icha tersangkut pada kayu mati yang tertancap dalam sungai, mereka pun membantu Icha untuk naik ke dalam sampan. Keadaannya selamat walau tubuhnya terkulai lemas.
“Di mana Fawas?” tanya salah seorang dari mereka kepada Icha.
Icha menangis. “Fawas terbawa arus…” Perempuan itu tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia pingsan.
Mereka membawa Icha ke pinggir sungai. Beberapa orang pergi lagi ke sungai dengan nelayan, mencari di mana Fawas kini berada.
Hingga suara azan maghrib terdengar dari mesjid di kaki bukit, Fawas belum juga ditemukan. Setelah melaksanakan sholat maghrib, teman-teman Fawas beserta masyarakat desa kembali ke sungai, mencari Fawas. Mereka membawa senter sebagai alat penerangan. Mereka berharap Fawas dapat ditemukan, apakah tersangkut pada batang kayu dalam sungai atau terdampar di pinggir sungai. Sampai jauh malam, Fawas tidak juga ditemukan.
***
Berita Fawas tenggelam pun beredar di desa Rantau Lilin. Berita itu pun menyebar ke kampung-kampung lain. Malam merayap perlahan. Cahaya bulan memantul ke permukaan sungai yang beriak pelan. Semua warga desa dan rombongan remaja bakti sosial mencarinya, namun sayang seribu sayang, Fawas tetap tak ditemukan. Malam itu mereka bersedih. Apalagi Icha. Airmatanya bercucuran tiada henti.
***
Hari keenam.
Masyarakat Rantau Lilin, para mahasiswa, dan beberapa dosen yang sudah tiba dari kampus, kembali mencari Fawas di sepanjang batang sungai. Mereka mencarinya dari hulu ke hilir sungai namun Fawas tak kunjung ditemukan. Bersama warga desa Rantau Lilin, mereka mencarinya sejak pagi hingga jauh malam. Mereka mencarinya dengan sampan. Sebagian berjalan menyusuri tebing sungai. Tidak ada aktivitas nelayan sejak kejadian itu kecuali mencari Fawas.
Hari ketujuh.
Petang menjelang senja. Di langit, matahari berwajah merah diselimuti awan kelabu tampak di mengambang.. Saat itu, salah seorang warga menemukan Fawas sudah menjadi mayat. Tubuhnya yang sudah bengkak terapung di hilir kampung, tersangkut pada batang kayu yang terdampar di pinggir sungai.
Masyarakat kampung Rantau Lilin benar-benar berduka. Mata mereka merah, seperti merahnya matahari yang muncul di seberang kampung saat senja akan berlabuh itu. Ya, mata mereka merah, semerah hati yang luka karena ditinggalkan Fawas yang bagaikan lilin, mampu menerangi orang lain namun dirinya meleleh, terbakar dan hancur. Pada akhirnya Fawas dapat merasakan kehidupan yang terang, tenang dan hangat. Ya, hidup menjadi lilin yang cahayanya abadi.
***