Jalan Brawijaya Menyimpan Rahasia: Puisi Mbok Nie

5

Kucoba meraba sisa-sisa jejakmu,
yang tertinggal samar di lipatan waktu,
di bawah naungan mahoni tua berbaris
sepanjang Jalan Brawijaya
Dahan-dahannya dulu mengepak laksana sayap, teduh, mengayomi langkah kita yang ringan oleh tawa,
hingga terik Surabaya pun seakan luruh,
jatuh bertekuk lutut di hadapan cinta yang kita rajut diam-diam tanpa janji,
tanpa suara hanya degub yang saling mengamini

Kala itu kita pernah menjadi sepasang arah,
tak ragu menempuh jarak,
menyusur jalan hingga Terminal Joyoboyo
dengan mimpi-mimpi dalam genggam
bak anak kecil yang percaya dunia tak akan berubah

Namun kini, angin hanya membawa namamu bagai gema,
Gema rindu menabrak sunyi di dada retak perlahan,
tercerai bagai bait kehilangan rima

Tulisan Terkait

Masihkah jejak itu bertahan di antara akar waktu
Atau telah luruh bersama daun-daun gugur diam membisu,
menjadi kenangan yang tak sempat kita selamatkan
Ah, cinta ini rupanya tak pernah benar-benar pergi,
dia masih bersembunyi di celah-celah jalan itu,
Jalan Brawijaya, Surabaya yang setia menyimpan rahasia,
Bersama lorong waktu berselindung menyebut namamu.

Yogyakarta, 22 April 2026

Namanya Henny, namun dia lebih suka disapa Mbok Nie, sebuah panggilan akrab yang dia pilih seolah merangkul usia tanpa pernah merasa kalah olehnya. Dalam kartu identitas, usia memang telah menempatkannya pada barisan “simbok-simbok”, tetapi jiwa tetap berlarian bebas, ringan bagai anak muda. Lahir di Surabaya, menjelajah berbagai kota di Indonesia, menorehkan jejak cerita di setiap persinggahan mulai Manado Sulawesi Utara, Kupang NTT, Malang Jatim, Solo Jateng, hingga hiruk-pikuk Bandung, Cimahi, dan Jakarta. Setiap kota menjadi serpihan kisah yang diam-diam dia simpan, menunggu waktu untuk dituliskan. Menjelang purna tugas, Mbok Nie memilih Yogyakarta sebagai pelabuhan terakhir bahkan mungkin justru awal yang baru. Di Yogyakarta, dia memutuskan menjalani hidup dengan irama yang lebih pelan, lebih dalam, sebuah slow living yang Mbok Nie nikmati sepenuh hati. Menariknya, dunia menulis baru benar-benar dia peluk di usia senjanya. Puisi dan novel menjadi ruang tempat dia menumpahkan kenangan, kegelisahan, sekaligus harapan. Bagi Mbok Nie, tak ada kata terlambat untuk memulai. Mbok Nie memegang teguh semboyan : “Menua itu pasti, tetapi terlihat tua adalah pilihan.” Maka jangan heran jika berjumpa dengan Mbok Nie, penampilannya segar, nyaris seperti gadis yang baru lulus SMA, dengan sorot mata yang penuh semangat hidup. Mbok Nie adalah bukti bahwa usia hanyalah angka, sementara jiwa bisa tetap muda, selama memilih untuk terus bermimpi dan berkarya. Di senjanya, Mbok Nie justru menemukan fajar, dari sanalah, untaian kata-kata mulai bermekaran.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan