Merenda Malam: Puisi Irohima

8

Salahmu yang tak menerimanya
Ucapmu padaku yang bertanya
Tapi, bukankah kau yang menjadi tokoh utama, kenapa tiba-tiba jadi dia?
Balasku sengit tak mau kalah
Kau diam, sibuk mencerna

Sedetik kemudian aku diterpa kesadaran
Selama ini kita terbelenggu kesalahpahaman
Akan rasa yang kusimpan dan akan kuhantarkan
Namun tersesat dalam keraguan dan ketidakpastian
Aku pun memutus rantai harapan

Pada akhirnya labirin itu terpecahkan
Setelah lama tersesat di dalam
Dan kini, kenyataannya hanya bisa kutertawakan
Cinta yang kugenggam dan akan kupersembahkan
Nyatanya kau alihkan pada sosok yang tak pernah aku sangkakan

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Pantun Terbaik | Rahmat Pantun

Palembang, di sudut Jalan Sudirman,
aku berjalan sambil memeluk keheningan
Jika kau memilih diam, meski hatimu juga tertawan
Aku pun akan tetap setia merenda malam, memeluk cinta yang terluka dan akan tetap kusimpan di sudut jiwa.

Palembang, 22 April 2026

Irohima, lahir dan tumbuh di Palembang, kota tertua yang mengajarinya memeluk keheningan. Suka fotografi, lukisan dan melanglang ke tempat bersejarah. Irohima seorang perempuan yang tak suka banyak bicara, ia lebih nyaman berbicara lewat tulisan dan jepretan kamera. Baginya menulis adalah cara merenda malam dan memotret adalah cara menyimpan cerita. Mimpinya sederhana, membuat otang terdekatnya bahagia, juga menjadi penulis jujur yang diam -diam mengabadikan luka dan rindu agar tak sia-sia, biar semua sepi yang dipeluk selama ini ada rumahnya di dalam kata.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan