Keluarga Hana: Cerpen Zaida Hannisa Safa

15
Sumber: Pinterest

Perempuan itu sedang membereskan ruangan di dalam rumah. Saat ia memasuki kamar belakang, ia tertegun melihat seorang gadis tanggung sedang live di Tiktok. Sebuah iPad terbaru digunakan gadis itu. iPad yang bulan lalu ia belikan dengan uang tabungannya selama satu tahun. Gadis tanggung itu bernama Hana, putri kesayangannya. Hana berharap bisa meraih banyak uang dari sering-sering live TikTok, tetapi penonton live yang ia buat sering kali sepi.

Namun, kali ini berbeda, dari belakang kursi ia terlihat lebih semangat, bisa dibilang sedikit heboh. Perempuan itu diam sejenak. Ia melihat Hana berbeda hari itu, mungkin saja pengunjung live nya kali ini lebih banyak. Pelan-pelan ia pun mendekati putrinya itu dari belakang.

“Hana, tumben hari ini kamu terlihat gembira. Apakah ada sesuatu yang membuatmu senang?” tanya perempuan itu dengan rasa penasaran.

Kepala Hana perlahan-lahan menghadap ke arah perempuan itu, “Mama lihat, aku mendapatkan satu penonton!” Sudut bibir Hana tertarik ke atas dan mata berkerut ramah. Mendengar laporan yang diberikan Hana reaksi perempuan itu malah tak begitu bahagia. Wajahnya hanya datar di hadapan putrinya yang sedang berbahagia. Ia hanya menghela napas dan mengucapkan beberapa kata kepada Hana.

“Hana, jangan terlalu berbahagia. Hanya dengan satu penonton tidak akan membuat hidupmu seketika berubah, kamu masih harus mengerjakan tugas-tugas sekolah yang belum kamu kerjakan.”

Perempuan itu akhirnya melontarkan kata-kata tersebut dengan rasa sedikit kesal. Tak lama lagi Hana akan melaksanakan ujian dan tentu saja, dia harus mendapatkan nilai sempurna untuk membanggakan keluarga. Wajah Hana yang sebelumnya ceria kini mendadak murung. Ia hanya menatap ibunya dengan tatapan yang kosong, tidak ada binar yang tadi terlihat sangat jelas. Kepalanya sedikit menunduk ke arah mejanya.

Selanjutnya perempuan itu terlihat tidak terlalu peduli lagi dengan putrinya. Ia melangkah keluar kamar dan kembali membereskan seisi rumah ini dengan alat perlengkapan pembersih. Tanpa basa-basi perempuan itu segera merapikan ruangan-ruangan sudut demi sudut, serta mencuci pakaian dengan mesin cuci.

Akhirnya semua pekerjaan rumah telah selesai. Perempuan itu mulai bersandar di sofa yang lembut dan memainkan ponsel—merelaksasikan tubuhnya sejenak di ruang tamu dengan posisi terlentang. Selang beberapa jam kemudian, matahari mulai condong ke arah barat— memancarkan sinar yang lebih lembut dan berwarna jingga kemerahan, bayangan benda-benda di muka bumi terlihat lebih panjang.

Menyadari hari sudah sore, perlahan-lahan perempuan itu mulai bangkit dari sofa tersebut untuk mengecek anaknya. Sembari melihat ke arah jendela yang masih terbuka lebar. Sejenak perempuan itu terdiam, akhirnya tubuhnya yang tadinya istirahat kini bangkit dan mulai berjalan ke arah pintu kamar Hana tadi.

Saat tiba di depan kamar, suara Hana terdengar di dalam ruangan. Samar-samar terdengar Hana sedang berbincang dan canda tawa sendirian. Perempuan itu dengan lamban kembali membuka pintu tersebut, pandangan pertama yang ia lihat adalah Hana masih saja menatap Ipad di depannya. Bukannya belajar, tetapi ia memilih mengobrol dengan orang asing di sosmed. Tangan perempuan mulai mengepal, dengan hentakkan kaki yang cepat ia bergerak mematikan live streaming tersebut. Hana ketakutan melihatnya, ia menundukkan kepala ke bawah meja.

“Hana, apa-apaan ini? Bukannya kamu belajar, tetapi kamu hanya sibuk dengan live streaming dari tadi siang!” Nada bicaranya yang tak biasa seperti sebelumnya, kini suaranya lebih tinggi. Hana yang melihat itu seketika terdiam, tubuhnya membeku di tempat, tatapannya kosong.

“Ibu, dengerin dulu, sebenarnya aku….” Saat Hana ingin membuka suaranya, perempuan itu langsung memotong pembicaran lagi.

“Nggak ada! semua yang kamu lakuin dari tadi itu percuma. Banyak waktu yang kamu sia-siakan dari tadi, emang anak kayak kamu itu susah dikasih tahu.” Dengan rasa kesal perempuan pergi dari ruangan itu.

“Ibu, Ibu lupa ya aku begini karena melihat Ibu yang sering live juga! Ibu juga kena marah Bapak kan?”

“Ya Ibu beda, ibu nggak ada tugas sekolah. Kamu itu masih anak sekolah. Ibu harus cari duit!”

“Aku juga cari duit, Bu. Ibu nggak tahu?”

“Sejak kapan kamu jadi pembantah begitu, Hana? Masuk kamar sekarang! Mandi dan kerjakan tugas sekolahmu!” suara perempuan itu terdengar dingin. Matanya menatap tajam ke arah Hana. Bocah itu ketakutan dan memilih untuk mengikuti perkataan itu. Ia takut akan ada suara-suara benda berjatuhan di dapur. Ibunya suka begitu jika sedang marah. Benda-benda bisa jatuh dan berbunyi keras. Hana tentu saja takut.

Di dalam kamar Hana menarik napas panjang. Ia ingin mengadu pada ayah, tapi ayah sama saja. Pulang ke rumah juga sibuk dengan ponselnya. Di meja makan pun masih sibuk mengurus pekerjaan kantor. Belum lagi kalau sudah di depan laptop tak bisa diganggu. Kalau sudah begitu Ibu pun akan sama saja kelakuannya. Ia menyuruh Hana tidur, sementara ia sendiri akan cekikikan di depan hp nya bersama kawan-kawan TikTok. Ayah dan ibu sama-sama sibuk dengan dunia mayanya. Mereka tidak punya waktu untuk sekadar ngobrol dengan Hana.

Hana merebahkan badannya di atas tempat tidur. Entah kenapa ia rasanya sudah bosan dengan sikap ayah dan ibu. Pelan-pelan Hana membuka beberapa akun sosmednya. Ia menuliskan semua kisahnya dalam story media sosialnya. Lalu cepat-cepat ia matikan ponselnya. Ia sudah pasrah jika esok hari namanya viral di media sosial. Ia tak peduli. Ayah dan ibunyalah yang harus bertanggung jawab.

TAMAT

Zaida Hannisa Safa adalah siswa kelas 1 SMP Annisa Islamic School Pekanbaru. Tahun 2025 karya cerpennya terpilih sebagai pemenang pertama lomba FLS3N Kota Pekanbaru.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan