Durian Mat Budin: Cerpen Hendrizon Bin (Alm) Nasruddin Zakaria

12

Susahnya kehidupan dengan semakin terhimpitnya kondisi perekonomian memaksa perilaku seseorang. Di tanah asalnya di pulau Jawa, Ahmad Budiono (Mat Budin) dari hari ke hari terus menyaksikan bagaimana kemiskinan mencekik leher penduduk desa seperti akar pohon yang kuat melilit. Tanah tumpah darahnya tak lagi ramah; cangkulnya tak lagi bisa membalikkan tanah perkebunan karena telah terjual dan beralih menjadi pabrik-pabrik perusahaan, sehingga dompetnya terus menganga mengeluarkan lembar kertas uang rupiah tanpa ada harapan akan terisi kembali.

Didorong oleh badai ekonomi yang tak kunjung reda bahkan semakin sulit (Krisis), Ahmad Budiono membulatkan tekad untuk hijrah ke daerah lain. Lelaki religius yang jemarinya akrab dengan aroma tanah basah itu melangkah jauh, mengikuti takdir yang menuntunnya ke sebuah negeri yang diselimuti rahasia hijau yakni Kecamatan Bantan.

Bantan menyambutnya dengan wajah murung belantara. Hutan di sana adalah raksasa hijau yang tertidur lelap, dengan pepohonan besar berdiri tegap begitu padat dan juga rapat, sehingga menghalangi cahaya matahari menyentuh bumi.

Namun, bagi Ahmad Budiono, hutan tersebut di olahnya menjadi tanah perkebunan seperti selembar kertas kanvas yang kosong siap untuk dilukis.

Ahmad Budiono yang begitu rajin berkerja dan taat beragama, membuat penduduk setempat kagum. Mengapresiasi sikapnya, penduduk setempat memberikan nama panggilan baru supaya lebih akrab dengan nama Mat Budin singkatan dari Ahmad Budiono.

“Kalau di tanah Jawa, namanya memang cocok Ahmad Budiono, Tapi kalau di tanah Melayu ini namanya cocok dipanggil dengan Mat Budin berasal dari kata Ahmad menjadi Mat, Budiono cukup Budin,” Ujar Syamsudin seorang tokoh masyarakat setempat.

Ahmad Budiono selanjutnya ditulis Mat Budin, bukanlah petani biasa. Ia adalah seorang sufi di atas tanah berlumpur. Di kepalanya, teks-teks suci agama bukan sekadar hafalan yang mati di tenggorokan, melainkan kompas kehidupan. Ia membaca alam sebagaimana ia membaca kitab suci.

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan…”

Ayat-ayat itu berbisik di telinganya setiap kali angin Kecamatan Bantan berdesir. Melalui mata batinnya yang tajam, ia memadukan petunjuk langit dengan kondisi bumi terkini. Ketika sains modern sibuk mengukur pH tanah dengan alat-alat canggih, Mat Budin cukup meraba kelembapan udara dan mendengarkan dzikir dedaunan untuk mengetahui “barang” apa yang paling suci untuk ditanam di sana.

“Ya Buah Durian atau Kebun Durian,” bisik Mat Budin di dalam hati.

Semenjak itu dimulailah mengasahkan parang dan menyiapkan kelengkapan perkebunan dicampuri lelehan keringat akibat teriknya panas matahari. Dimulai dari titik nol, Mat Budin menjinakkan belantara tempat tinggalnya. Tangannya yang kasar menebas semak, jemarinya yang liat menata barisan kapling tanah, matanya yang tajam mengintai seperti seorang arsitek, serta dengan penuh rasa kasih sayang layaknya seorang ayah yang menimang bayi ia membenamkan bibit durian ke rahim tanah, sambil jemarinya tak putus melafalkan sholawat.

Waktu berjalan dan awan pun yang berarak. Berkat ketekunan yang bermandikan doa-doa, pohon-pohon durian itu tumbuh raksasa, menjelma menjadi menara-menara hijau yang kokoh. Dan ketika musim bersemi tiba, pohon-pohon itu melahirkan buah yang lebat, bergelantungan seperti lampion-lampion berduri yang bersinar dengan menyembunyikan emas di dalamnya.

Tulisan Terkait

Rasa durian Mat Budin? Mak Nyos! Itulah kata yang paling tepat, meski sebenarnya lidah manusia terlalu miskin kosakata untuk menggambarkan kelezatannya. Daging buahnya selembut sutra, sewarna mentega murni, dengan rasa manis legit yang membakar tenggorokan lalu meninggalkan jejak gurih yang mengakar di ingatan. Sebuah rasa yang tak dapat dijelaskan oleh rumus kimia atau teknologi pangan paling mutakhir sekalipun.

Kelezatan itu awalnya adalah rahasia sunyi, sampai suatu hari seorang pencinta durian melintas di kebun Mat Budin. Buk! Sebuah durian jatuh, seolah memanggilnya. Atas izin Mat Budin, lelaki itu membelahnya. Begitu ulas pertama menyentuh lidah, matanya terbelalak. Dunianya seakan runtuh dan dibangun kembali dalam kelezatan yang tiada tara.

“Belum pernah aku merasakan enaknya buah durian seperti milik Mat Budin ini! Ini bukan buah bumi, ini buah surga!” serunya takjub.

Kabar itu segera terbang bagai angin puyuh, merayap dari mulut ke mulut, melompati batas desa hingga menyeberangi lautan. Setiap kontes tahunan Buah Durian, nama Durian Mat Budin selalu menjadi juara dan menjadi buah bibir yang legendaris. Orang-orang sepakat: kelezatan Durian Mat Budin telah melompati kemasyhuran Durian Thailand yang tersohor dan menumbangkan keagungan Durian Tembaga.

Melihat kesuksesan itu, riak-riak iri hati mulai bermunculan di hati sebagian orang. Tangan-tangan yang dipacu dengki mulai mencoba meniru. Mereka mengambil biji dari sisa santapan durian Mat Budin, mereka mencangkok, mereka menyetek, mencoba segala trik ilmu pertanian (agronomi) agar bisa menyamai atau jika mungkin, untuk menenggelamkan pesona buah durian milik Mat Budin. Namun, alam menolak berbohong. Pohon mereka tumbuh, tetapi buahnya hambar, tak pernah bisa meniru keajaiban yang asli.

Mereka lupa satu hal, rahasia Mat Budin tidak terletak pada pupuk atau teknik potongan batang. Rahasianya ada pada sujudnya.

Mat Budin adalah hamba yang setia. Ketika azan berkumandang membelah langit Bantan, ia akan langsung menancapkan cangkulnya ke tanah, membasuh diri, dan bersujud tanpa menunda. Ketaatannya yang sekokoh batu karang membuat langit jatuh cinta. Rasa “Mak Nyos” durian itu bukanlah sekadar hasil biologi, melainkan sebuah karomah sebagai hadiah manis dari Allah SWT untuk hamba-Nya yang saleh.

Keajaiban itu akhirnya mengundang decak kagum dunia internasional. Lembaga-lembaga penelitian asing dari seberang lautan, dengan jas laboratorium putih dan mikroskop canggih mereka, mulai berkemas. Mereka berniat menyeberangi samudra demi membedah misteri di balik kelezatan Durian Mat Budin.

Namun, takdir takdir berkata lain. Sebelum kaki-kaki para peneliti asing itu sempat menginjak tanah Bantan, tubuh tua Mat Budin mulai digerogoti penyakit tekanan darah tinggi. Tensi darahnya melonjak, seolah menjadi tanda bahwa raganya tak lagi kuat menampung jiwa besarnya. Atau itu adalah cara Allah menyimpan rahasia dan memberikannya kepada orang-orang yang teristimewa seperti Mat Budin. Dalam usia yang terbilang pendek, Mat Budin mengembuskan napas terakhirnya, kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Kematian Mat Budin membawa duka yang teramat dalam bagi warga Bantan. Namun, keajaiban tidak berhenti di situ; ia justru bertransformasi menjadi sebuah misteri.

Seiring dengan jasad Mat Budin yang menyatu dengan tanah, rasa Durian Mat Budin yang legendaris itu pun mulai memudar. Perlahan tapi pasti, kelezatan yang mak nyos itu menyusut, rasa manisnya menguap, dan keistimewaannya meredup. Hal ini seolah-olah, menunjukkan rasa lezat itu adalah ruh yang enggan menetap di bumi tanpa pemiliknya. Rasa itu dengan setia ikut berkemas, dibawa pergi bersama kepulangan jiwa Mat Budin yang saleh menuju keabadian di sisi Allah SWT, meninggalkan manusia yang hanya bisa mengenang keajaiban di atas tanah Kecamatan Bantan.

Bengkalis, 24 Juni 2026

Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan