Puisi-Puisi Marzuli Ridwan Al-bantany

5

Dalam Kepungan Sunyi
Kepada Engkau, Kepada Negeri Bernama Bengkalis

di sini, di bibir pulau yang terkulai, lumpur api-api menyimpan ribuan jejak yang terhapus oleh waktu. dulu, dermaga-dermaga tua itu bernyanyi dalam riuh komoditi dan sauh, ketika kapal-kapal dagang membelah selatnya dengan megah dan tangguh. namun kini, sejarah telah melipat layarnya rapat-rapat, menjadi dongeng purba yang lelap di ruang-ruang gelap.

anak cucumu kini melintasi jalanan berdebu tanpa lagi menoleh ke belakang, menggenggam gawai pintar, menatap layar yang menyilaukan pandang. di dadanya, bengkalis tak ubahnya sebuah titik asing di peta, tanpa tahu di tanah inilah darah dan keringat leluhur pernah tumpah. mungkin mereka telah lupa, dari empang dan selat mana nama ini disapa; bahwa martabat bangsa ini pernah dijahit dengan keringat dan kesetiaan, juga air mata.

biarlah angin utara terus menderu membawa asin lautmu, menutupi kisah-kisah luhur yang pernah subur, perlahan surut, perlahan terkubur. dan biarlah pula, meski engkau terpaksa harus menjalani sunyi, dalam dekapan zaman yang mungkin tak dikenali lagi.

di sinilah air tawar bertemu asinnya samudra, dibaringkan oleh takdir di atas hamparan lumpur purba. bengkalis: nama yang dulu digetarkan oleh angin utara—tempat para nakhoda menambatkan sauh dan cerita. sebelum semenanjung mengenal batas dan garis negara, perahu-perahu lancang kuning membelah riak dengan wibawa. ia bukan sekadar titik di ujung peta sumatra, melainkan jantung bernyawa yang memompa nadi niaga melaka.

Tulisan Terkait

dulu, di bawah naungan pohon nipah dan bakau yang perkasa, detak jantung sejarah berdenyut dalam peluh para perintis. mereka membuka hutan, meniti alur air dengan gigih dan waras, mewariskan petuah tentang hidup yang selaras. namun lihatlah hari ini, bagaimana waktu merenggut ingatan, mengganti riuh dermaga dengan keheningan yang menyesakkan dada. angin laut berbisik membawa sisa-sisa kidung lama, yang kini terhempas sendiri di atas pasir yang terkulai tak berdaya.

kepada engkau, kepada bengkalis! lihatlah tiang-tiang rumah dan bangunan lama, meriam-meriam tua peninggalan datuk laksamana di muara sungai bukitbatu, juga benda-benda bersejarah lainnya, kini seakan tak lagi punya nyawa, terdiam sunyi dalam berjuta teka-teki yang membuatnya sedemikian luka, kian dihimpit sunyi.

dan mungkin nanti di sini, engkau akan mendengar jerit tangis dari balik ombak yang pecah. dari setiap tebing pantai yang terkikis terhakis. engkau tahu? itulah suara sejarah paling lantang, yang merindukan tangan-tangan yang ramah. sebelum pulau ini benar-benar tenggelam dalam lupa yang abadi, sebelum waktu kian melaju menghapus kita dari lembar tanah ini.

Bengkalis, September 2026

Bengkalis Negeri Junjungan

negeri bengkalis negeri junjungan
negeri bersejarah warisan peradaban
semoga berkah sepanjang zaman
pemimpin adil rakyatnya aman

marwah negeri dijunjung tinggi
adat budaya penghias diri
teguh jalankan perintah ilahi
hidup rukun hormat menghormati

kepada pemimpin taat setia
titah kuasanya dijaga dibela
supaya allah tiada murka
negeri bercahaya beroleh bahagia

kepada rakyat jaga amanat
segala bakti hendaklah buat
jiwa dan raga akan selamat
sepanjang hayat dikenang diingat

marilah kita satukan langkah
bergandeng tangan menggapai tuah
supaya bengkalis dilimpahi berkah
masyarakatnya makmur rezeki melimpah

Bengkalis, 2023-2025

Rumah Laut 511-21
(kita yang singgah dalam pelbagai kisah dan pusaran sejarah)

di rumah laut, perbualan kita kian larut,
pecah bagai ombak selat bengkalis mengalun-ngalun lembut tak hendak surut
: segalanya terkalam indah, tanpa lagi dinding pemisah, sebab kita tak ingin musnah dalam seteru yang entah kapan sudah

di jantung negeri dipancangi berjuta impi,
kita tak ubahnya pengembara sepi di laman-laman sendiri berharap bersualah senyum sapa, salam paling mesra dari kilau kemilau cahaya

kita mengurai semua kisah – sejarah yang tak mungkin patah oleh tangan-tangan masa yang masih saja bergelimang titik noda dan segala sak wasangka
: kita belajar untuk selamanya setia dalam bening putih cinta dan kasih sepanjang usia (sejarah)

di rumah laut, dalam pelbagai rentak kisah,
pada pusaran sejarah paling purba
kita ditakdirkan bersua bagai saudara kandung yang terpisah berkurun lama sudah

Bengkalis, 2021-2026

 

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penyair, sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia tidak hanya menulis puisi, namun juga menulis cerpen, novel dan esai/artikel. Beberapa buku puisi tunggalnya telah terbit, antara lain Menakar Cahaya (FAM Publishing, 2016), Di Luar Jendela (TareBooks, 2019), Cinta Hingga ke Surga (Aden Jaya, 2020), dan Perjalanan Sebuah Puisi (Dotplus Publisher, 2022).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan