

PEKANBARU – SMP Negeri 50 Pekanbaru menggelar kegiatan Literasi Konservasi bekerja sama dengan Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini menggabungkan literasi baca-tulis dengan edukasi pelestarian lingkungan melalui penulisan puisi bertema alam dan aksi penanaman 50 pohon buah-buahan di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di lapangan dan aula SMPN 50 Pekanbaru tersebut dimulai pukul 07.15 WIB dengan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan lokakarya literasi konservasi yang menghadirkan sastrawan Riau sekaligus pendiri Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, bersama tim.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMPN 50 Pekanbaru, Pamula Trisna Suri, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya nyata sekolah dalam memperkuat Gerakan Literasi Sekolah sekaligus menumbuhkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan hidup.
“Semangat Sumpah Pemuda harus kita wujudkan dalam aksi nyata. Melalui literasi konservasi, kami ingin menanamkan jiwa kepemimpinan dan kecintaan terhadap lingkungan kepada para siswa sejak dini. Membaca dan menulis bukan sekadar dilakukan di atas kertas, tetapi juga belajar membaca alam dan merawat bumi demi masa depan yang lebih hijau,” ujar Pamula.
Dalam sesi lokakarya, Kunni Masrohanti bersama tim Rumah Sunting memberikan materi dan motivasi kepada para siswa mengenai cara menuangkan gagasan serta kepedulian terhadap lingkungan melalui karya sastra, khususnya puisi bertema alam. Kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias mengajukan pertanyaan dan berani membacakan puisi karya mereka di hadapan teman-teman dan guru.

Kunni Masrohanti mengapresiasi kepekaan dan kreativitas siswa SMPN 50 Pekanbaru dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sastra dapat menjadi media untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Sastra dan konservasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika anak-anak menulis tentang pohon, sungai, atau udara segar, mereka sedang menyuarakan kehidupan. Saya sangat bangga melihat daya imajinasi dan kepekaan adik-adik di sini. Lewat pena dan kata-kata, mereka telah menjadi pejuang lingkungan masa depan,” ungkap Kunni.
Antusiasme juga terlihat dari partisipasi para siswa selama kegiatan berlangsung. Salah seorang siswa mengaku memperoleh pengalaman baru dalam memahami puisi sekaligus melihat alam sebagai sumber inspirasi untuk berkarya.
“Cara Kak Kunni menyampaikan materi sangat seru dan tidak membosankan. Kami jadi sadar bahwa belajar puisi tidak sulit. Alam di sekitar kita bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan tulisan yang indah. Saya semakin semangat untuk terus menulis dan ikut menjaga tanaman di sekolah,” ujar siswa tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi aktif dan kreativitas peserta, tim Rumah Sunting memberikan cendera mata berupa buku antologi karya anak bangsa dan buku karya tim Rumah Sunting kepada siswa yang dinilai aktif dan kreatif selama kegiatan.
Rangkaian acara ditutup dengan penanaman 50 pohon buah-buahan secara bersama-sama di lingkungan sekolah. Aksi tersebut menjadi wujud komitmen SMPN 50 Pekanbaru dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan visi Menuju Sekolah Hijau.
Melalui kolaborasi antara sekolah dan komunitas sastra ini, SMPN 50 Pekanbaru berharap dapat memperkuat budaya literasi, mengembangkan kreativitas peserta didik, serta menanamkan karakter peduli lingkungan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan sekolah yang literat, berkarakter, dan berwawasan lingkungan di Kota Pekanbaru.