Alifa: Cerpen Sofia Nur Ilmi

182

Banyak insan menanti kehadirannya
Tapi banyak pula yang tak menginginkannya
Menyesal takkan menghapus segalanya
Meski kehadirannya bukan di saat yang tepat
Yakinlah pasti ada hikmah yang tersemat
Bukankah Allah tak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya?.
Yang bisa kita lakukan hanya ikhtiar maksimal
Lantas menyerahkan sepenuhnya pada kehendakNya..
Alifa ………….

Setiap wanita tentu merasakan kebahagiaan yang tak terkira saat menyadari bahwa ada kehidupan di dalam rahim kecilnya, begitu pula yang dirasakan Mery. Sudah satu bulan ia tak lagi mendapatkan menstruasi. Padahal baru seminggu yang lalu ia menertawakan kakak iparnya yang telah hamil anak ketiga. Kehamilan ini memang bukan yang pertama bagi Mery, ini buah cinta ketiganya dengan sang suami tercinta. Hanya saja dibalik kebahagiaan yang hadir, ada kekhawatiran bergelayut dalam dirinya. Bagaimana tidak kehamilan anak ketiganya ini hadir disaat usianya telah mencapai 40 tahun. Usia yang cukup rawan akan kehamilan, ditambah lagi ia hadir di saat virus korona menyebar di seantero negeri. Berita meninggalnya sejumlah ibu hamil dan kelahiran anak yang cacat karena sang ibu menderita korona cukup menjadi momok bagi si Mery.
Kehadiran janin itu kini sudah tak bisa dihindari, yang bisa dilakukan Mery hanya menerima dan menghadapi. Bagaimanapun anugerah ini telah hadir padanya, itu artinya Allah telah memberikan amanah baginya untuk menjadi seorang ibu. Jika teringat bahwa adik iparnya yang sudah sepuluh tahun menikah tak kunjung juga hadir buah hati diantara mereka, Mery segera menepis jauh-jauh kekecewaan atas hadirnya baby di saat-saat yang tak menguntungkan itu.
Sore itu Mery tampil anggun dengan gamis polkadotnya. Dengan diantar sang suami ia menuju rumah sakit Harapan Bunda untuk memeriksakan kandungannya. Meski sudah berangkat pagi kali ini ia mendapat antrian ke lima.
“Nomor 5. Ibu Mery….. sekali lagi nomor 5 Ibu Mery, adakah?” panggilan perawat membangunkan Mery dari lamunannya. Tak seperti kehamilan sebelumnya. Biasanya pemeriksaan selalu didampingi suami, tapi kali ini karena pandemi yang diperbolehkan masuk hanya pasien saja. Saat antri harus berjarak pula, sehingga menunggu antrian menjadi sangat menjemukan bagi Mery.
“Beratnya 68 kg Bu. Tensi Ibu masih normal 120/90. Cuma dibanding bulan sebelumnya naik ya Bu,” ucap sang perawat sambil menggulung alat tensi yang barusan ia gunakan.
“Ada keluhankah Bu selama kehamilan yang memasuki delapan bulan ini?”
“Makan saya normal Mbak. Sudah tidak morning sickness lagi. Kaki saja yang semakin bengkak Mbak.”
“Baik saya catat, nanti ibu konsultasikan lagi ya ke dokter. Mari Ibu masuk ruang pemeriksaan,” perawat membukakan sebuah pintu. Seorang perempuan berjilbab dengan label nama di dadanya Dr. Maria menyambut dengan senyuman. Sebuah layar menampilkan hasil USG dengan sangat jelas. Seorang bayi mungil bergerak-gerak sembari kadang menendangkan kakinya, mungkin tak nyaman dengan alat yang sedang bergerak di atasnya.
“Alhamdulillah bayinya perempuan Bu. ini kepalanya, bayinya aktif, jari-jari juga terlihat lengkap.” Mery tersenyum, momen ini selalu membuat Mery terpesona rasanya tak ingin berkedip agar tak terlewat untuk melihat setiap momen gerakan bayinya.
“Selama ini Bu Mery sering mualkah? Makannya bermasalah? Ini berat bayinya masih kurang dari normal Bu Mery,” lanjut sang dokter melihat ada sedikit kejanggalan dalam pemeriksaannya.
“Setelah tiga bulan kehamilan makan saya normal dokter. Bulan kemarin saat dokter menyampaikan kalo berat bayi saya kurang, saya sudah makan lebih dokter. Saya perbanyak yang manis dan es krim juga. Tapi kenapa berat saya saja yang naik, sementara bayi saya juga tidak signifikan?” sambil membetulkan kacamatanya Dr. Maria membaca kembali hasil pemeriksaan bulan sebelumnya lalu berkata, “Saya khawatir Ibu mengalami pre-eklamsia. Kaki Ibu semakin bengkak, usia Ibu juga 40 tahun ya dan berat bayi yang perkembangannya lambat, tensi Ibu juga terus naik. Gejala ini memang mengarah ke gangguan kehamilan ini Ibu. Untuk memastikan Ibu besok cek lab ya. Hasil pemeriksaannya nanti dibawa ke saya nggeh.”
Mendengar istilah baru yang tak pernah dikenalnya. Mery mulai tak tenang. Justru di bulan menjelang kelahiran ia mendapati kehamilannya bermasalah. Sembari menangis Mery meminta penjelasan.
“Dokter, apakah bayi saya akan selamat? Gangguan ini berbahayakah dokter? Apa yang harus saya lakukan?”
“Ibu Mery tenang nggeh, nanti kita akan beri obat penurun tekanan darah. Mulai sekarang kurangi konsumsi garam ya, Bu. Kita semua ikhtiar yang terbaik. Insyaallah akan ada jalan keluar. Yang terpenting ibu Mery tidak panik dan tidak stres karena itu akan mempengaruhi pada perkembangan bayi.” Penjelasan sang dokter sedikit melegakan hati Mery.
Mery keluar tempat pemeriksaan, segera ditebusnya obat yang telah diresepkan. Tiga lembar pil dan sebuah obat kapsul didapatinya. Biasanya ia hanya periksa kandungan tanpa menebus obat. Maklumlah biaya obat selama hamil memang cukup mahal, sekitar 200-400 ribu harus ia keluarkan. Pekerjaannya yang hanya guru honor, angka sebesar itu tentu bisa dipakai untuk kebutuhan hidup sebulan. Tapi kali ini ia tak punya pilihan, demi mengobati gangguan kehamilan yang sedang dialaminya Mery harus menebusnya.
Mengobati penasaran Mery, ia bergegas ke klinik untuk melakukan cek lab. Setelah menunggu empat jam hasilnya Mery positif preeklamsia dengan hasil lab yang menunjukkan jumlah protein dalam urine Mery lebih dari 300 miligram dalam satu hari. Dunia serasa berputar saat Mery mendengar hasil pemeriksaan tersebut. Ia hanya bisa tertunduk lemas, lamunannya kosong tak satupun penjelasan dokter bisa ia dengarkan dengan baik saat itu.
Sesampainya di rumah Mery seperti orang gila, ia langsung browsing tentang apakah itu pre-eklamsia. Sebuah artikel tentang pre-eklamsia menarik perhatiannya. Pre-eklamsia adalah peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine yang terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Bila tidak segera ditangani, pre-eklamsia bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu dan janin. Penyebab pre-eklamsia masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.
Kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan muncul reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, terjadi gangguan pada ibu hamil dan janin.
Tak cukup sampai situ Mery juga masuk di grup Whatsapp, group Facebook dan grup Instagram yang berisi para ibu penderita pre-eklamsia, berbagai cerita yang disampaikan menjadikan Mery semakin paham dengan pre eklamsia serta penyebabnya.
Tanpa sadar Mery justru disibukkan dengan mencari berbagai gejala, penyebab pre-eklamsia dan dia melupakan cara mengatasinya. Saat ia bergabung dengan berbagai grup tersebut, Mery justru semakin stress. Bagaimana tidak kisah ibu-ibu yang bayinya meninggal saat melahirkan. Juga kisah ibu yang justru meregang nyawa pasca melahirkan menjadikan Mery seperti orang linglung. Beruntung ia memiliki suami yang segera menyadari ada langkah yang salah dari istrinya.
“Dipeluknya Mery yang sedari tadi duduk dengan tatapan kosong, sementara HP yang memutar youtube tentang pre-eklamsia masih terus menyala sedari tadi,” tangis Mery pecah seketika. Dibiarkannya Mery menumpahkan kegelisahannya dalam dekapan suami tercinta. Dengan setia ia menunggu sampai Mery siap diajak bicara.
“Allah itu tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuannya dek. Percayalah, ujian ini pasti bisa kita lewati bersama. Apapun yang terjadi nanti aku akan tetap berada disisimu. Yang terjadi pada orang lain belum tentu juga akan terjadi pada diri kita. Kita hanya bisa berikhtiar maksimal Dek, selebihnya kita serahkan pada sang Khaliq yang menentukan hidup kita.”
Kata-kata sang suami menyadarkan Mery, mencari informasi saja tak akan merubah kenyataan bahwa ia mengalami pre-eklamsia. Segera ia keluar dari semua grup yang justru selama ini menghantuinya. Ditatapnya suami dan anak-anaknya lekat-lekat.
”Ya Allah Engkau telah memilih hamba, maka aku ridha Ya Allah. Berilah aku kekuatan untuk menghadapi semua,” ucapnya lirih di dalam sujud panjangnya.
Waktu berjalan begitu cepat, kandungan Mery sudah memasuki bulan kesembilan. Ia akan melakukan pemeriksaan terakhir, menjelang kelahirannya. Jika mengikuti kalender kehamilan, seharusnya 10 hari lagi memasuki HPL, tak sabar Mery menantinya. Kali ini Mery masuk dengan tenang ke ruang pemeriksaan. Seperti biasa Dr. Maria selalu menyambut dengan senyumannya. Ini sangat menenangkan baginya.
“Bu Dokter, selama satu bulan terakhir saya mencatat perkembangan tensi saya dokter. Dan saya mendapati tensi saya naik 10 setiap minggunya. Kaki saya kian bengkak meski saya sudah mengurangi konsumsi garam.”
Dokter Maria mendengarkan dengan fokus setiap
perkataan Mery, diceknya lagi rekam medis dan kondisi bayi terakhir, untuk kemudian beliau memutuskan.
“Operasi ceasarnya kita percepat ya. Besok Bu Mery segera check in, bawa surat rujukan dari saya ini untuk masuk lewat IGD. Kondisi bayi ibu sudah cukup bulan meski berat bayi memang kurang berat tapi kondisi tensi ibu yang sudah mencapai 160/110 tidak bisa lama kita tunda.”
Meski sedikit syok, tapi Mery mengingat kata suaminya untuk menghadapinya dengan tenang. Kumat kamit bibirnya melafalkan berbagai ayat yang ia ingat untuk meneguhkan hatinya.
“Baik Dokter. Bismillah saya segera pulang untuk mempersiapkan berbagai perlengkapan operasi. Besok saya check in.”
Meski sudah dua kali Mery mengalami operasi ceasar, Mery masih sedikit gugup dibuatnya. Kelahiran di masa pandemi mengharuskan setiap ibu melakukan tes SWAB. Jika tesnya positif maka sang ibu harus ridho melahirkan di RSUD rujukan tanpa didampingi suami. Bayinya juga harus dijauhkan selama karantina. Beruntung hasil SWAB Mery saat itu negatif.
Dibalut baju hijau operasi Mery telah bersiap untuk operasi ceasar ketiganya. Seorang dokter anestesi memintanya membungkuk dan rileks, sedetik kemudian sebuah cairan mengalir diantara sumsum tulang belakang miliknya. Tak berselang lama kaki Mery menebal dan kemudian mulai tak merasakan apa-apa. Beruntung setelah meminum obat penurun tensi yang diletakan dibawah lidah, tensi Mery saat itu berangsur-angsur turun hingga 130. Operasi berjalan lancar. Tangisan bayi pecah tepat saat jam menunjukkan angka 10:00. Air mata Mery mengalir seolah tak menyangka ia bisa melihat perempuan mungil yang lahir dengan penuh perjuangan.
Mery bahagia melihat suaminya telah menyambutnya pasca operasi. Dengan setia ia menjaga Mery yang mulai mengerang kesakitan karena bius sudah mulai berangsur hilang. Meski sakit, Mery harus belajar membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar luka sesarnya lebih cepat mengering. Haus yang menjalarpun harus ia tahan sampai ia bisa kentut sekali saja, untuk memastikan saluran pencernaannya tidak bermasalah pasca operasi.
Kondisi Mery pasca operasi kian membaik, tensinya berangsur-angsur kembali normal. Terlihat sekali Mery ingin segera pulih dan pulang untuk mendekap bayi mungilnya. Karena menggunakan BPJS kelas 3, Mery memang tidak bisa satu ruangan dengan putrinya. Tak ingin merusak semangat sang istri, suami Mery terus memberikan semangat agar kondisi Mery segera pulih.
Tak terasa, hari ini Mery sudah diizinkan untuk pulang. Digenggamnya tangan Mery dengan hangat, sang suami berkata, “Dek, Abang bangga dengan Adik yang melalui semua dengan kuat. Masih ingat kan bahwa Allah tak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya. Kali ini kita berdua harus mendoakan pula agar putri kita juga dapat berjuang sekuat ibunya.”
“Ada apa Bang dengan bayi kita?”tanya Mery sambil lemas mendengarnya
“Kali ini yang diijinkan pulang oleh dokter kita berdua saja ya. Dedek karena beratnya di bawah 2,5 harus dirawat di NICU dulu hingga perkembangannya maksimal”.
“Robbana … ya Allah kuatkanlah anak hamba.” Air mata Mery mengalir. Tak kuasa mendengar bahwa sang putri harus menanggung beban perjuangan diawal kehadirannya di dunia.
Alifa Nisa Salsabila, nama yang akhirnya disematkan pada sang putri tercinta. Mery harus bolak balik ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI agar sang buah hati bisa segera tumbuh maksimal. Ia masih ingat perkataan suaminya, libatkan selalu RabbMu dalam menghadapi segala masalah. Maka engkau akan menemukan ketenangan dalam menghadapinya.
Setiap kali memompa ASI, Mery selalu melantunkan ayat-ayat quran ke dalamnya. Tak lupa ia selalu menyempatkan sedekah sambil meminta didoakan untuk kesehatan putrinya. Memasuki pekan keempat, dokter Novi yang selama ini memantau perkembangan Alifa menyampaikan bahwa kini Alifa sudah bisa dibawa pulang.
Tetapi kondisi Alifa yang beratnya masih dibawah 3 kg, mengharuskan Mery menjaga lebih ketat. Sebelum mencapai 3 kg, sang bayi tidak disarankan mandi lama karena ia akan cepat biru jika terkena udara yang dingin, kemampuan menyesuaikan suhu dengan ruangannya belum maksimal. Rajin mendekap sang bayi agar merasakan kehangatan. Kini bayi kecil yang hanya berukuran 50 cm itu telah didekapan Mery. Sambil melangkah keluar Rumah sakit Mery berucap lirih, “Alifa solihah…anak bunda.”
Sekarang kita akan berjuang bersama ya menghadapi takdir-Nya. Percayalah Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Sang suami pun tersenyum mendengarnya. Alifa kecil menggenggam erat jemari Mery, seolah berkata, ”Ya Bun, kita akan berjuang bersama.”

Berita Lainnya

Kala ujian hadir menerpa
Terimalah lalu hadapilah
Karena…
Bersama kesulitan selalu ada kemudahan

Sofia Nur Ilmi, S.Si. Cerpen pertamanya berjudul “Antology emak kantoran” diterbitkan di tahun 2021. Karyanya ini dipersembahkan untuk ketiga putra putrinya yaitu Fajri, Ayni dan Alifa. WA: 085336480321;
e-mail: cophie.lala@gmail.com; Fb dan Instagram: sofia nur ilmi

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan