

Dalam beberapa hari ini publik dibuat lebih sensitive dengan satu diksi panggilan ‘Gus’. Kasus besar yang melibatkan pejabat utusan khusus presiden itu bukan hanya menghebohkan rakyat Indonesia di setiap level, sampai-sampai Anwar Ibrahim dari seberang ikut berkomentar dan menyatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang mengejutkan dan tidak pantas.
Pengaruh media dalam menyebarkan informasi yang begitu cepat. Di jam-jam pertama kasus ini viral di media sosial saya sudah tersentak. Beberapa media secara serentak mengunggah video viral tersebut.
Demikian juga warganet di berbagai media sosial, tersentak dan seketika ikut memviralkan video tersebut.
Baiklah, dalam kasus ini kita akan melihatnya dalam perspektik komunikasi. Apa yang terjadi dan mengapa video dalam durasi beberapa menit itu membuat Indonesia seketika viral menjadi perbincangan dunia.
Teori Agenda Setting
Dalam sebuah diskusi bersama dosen komunikasi di kelas, saya bertanya apakah ada kondisi di mana keberadaan media bisa mengubah satu kondisi negatif menjadi lebih baik di khalayak publik, sementara kecenderungan hal yang terjadi hari ini media menjadi alat penguasa untuk menyampaikan kepentingannya.
Kaitannya dalam lingkaran politik, ekonomi, dan media sehingga sulit sekali memisahkan hal tersebut.
Jawaban dari perbincangan itu adalah bisa, yakni melalui teori agenda setting. Melalui teori ini, media bisa memberikan tekanan kepada penguasa, kepada publik untuk mengubah kondisi yang tidak diharapkan menjadi kondisi yang lebih sesuai dengan harapan publik.
Teori agenda setting yang digagas oleh Maxwell McComb dan Donald L Shaw ini berasumsi bahwa media dan masyarakat pers tidak memberikan fakta yang asli, melainkan memilih dan membentuk isu. Media massa hanya fokus pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting.
Agenda setting sendiri mencakup agenda setting publik dan media. Agenda setting publik terjadi ketika masyarakat menentukan agenda cerita yang dianggap penting dan agenda setting media mencakup kondisi ketika media menentukan agenda cerita yang dianggap penting.
Teori ini terimplementasi pula dalam media baru saat ini. Media sosial menjadi ruang agenda setting bagi publik dan media.
Video Viral Gus Miftah
Dalam kasus Gus Miftah terjadi pertemuan agenda setting publik dan agenda setting media sehingga terjadilah efek dahsyat dalam hitungan hari. Ketika seorang pimpinan negara asing hingga presiden di republik ini berkomentar langsung terhadap satu video yang diunggah di media sosial, hal tersebut menandakan bahwa itu bukan kejadian biasa.
Video yang menayangkan pernyataan merendahkan dari seorang tokoh agama sekaligus pejabat negara kepada masyarakat menyebabkan kemarahan publik yang tidak terbendung.
Diksi ‘goblok’ menjadi benang merah di mana tidak ada satu orang pun yang bisa membela apa yang dilakukan Miftah dalam video tersebut.
Pernyataan ‘goblok’ dipadukan dengan tertawanya para penceramah di panggung secara bersama-sama menyebabkan video tersebut sudah sangat kontekstual, tidak bisa lagi dimaknai sebagai potongan video yang harus dilihat konteksnya.
Publik dan media bersepakat dalam hal itu. Agenda setting media dan publik pun menyatu dalam hal ini. Baik media maupun publik menganggap kejadian dalam video tersebut adalah kasus penting yang harus dipublikasikan dan didorong penanganannya langsung oleh pemerintah.
Dorongan ini menjadi sangat kuat dengan adanya pengaruh distribusi informasi melalui media sosial yang begitu cepat. Konvergensi media juga ikut memengaruhi percepatan arus informasi bukan hanya secara nasional, tetapi juga dunia internasional.
Akibat dahsyatnya agenda setting ini, tidak bisa tidak, Miftah pun takluk dengan mundur dari jabatannya dan dengan ekspresi menangis ia menunjukkan penyesalannya di hadapan publik.
Seni Eksistensi di Media
Catatan akhirnya, jika ingin eksis di media sosial ya perlu mengkaji teori-teori komunikasi media dan komunikasi massa. Apalagi jika kita adalah pejabat, tokoh, atau orang-orang dengan jumlah pengikut yang banyak.
Hal itu tentu saja menjadi keharusan. Tak hanya itu, masyarakat biasa pun penting memahami ini. Media mungkin bisa jadi tempat eksis hingga menghasilkan uang, tetapi media juga bisa membunuh seseorang jika ia tidak mengerti bagaimana seni berkomunikasi di media. Menjadi pembelajar setiap waktu untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan media. Mari terus belajar.
De Daikos, 7 Desember 2024