
Jebakan Branding : Catatan Nafi’ah al-Ma’rab
Jebakan Branding : Catatan Nafi’ah al-Ma’rab
Catatan Nafi’ah al-Ma’rab
Era media baru seperti media sosial memungkinkan orang membangun branding mereka di dunia maya dengan cara yang mudah. Membangun panggung depan yang berbeda kontras dengan panggung belakang untuk tujuan tertentu, sebagaimana uraian teori dramaturgi dalam komunikasi.
Di satu kelas pelatihan saya ditanya, “Mbak, saya takut jika melakukan branding di media sosial itu akan membuat saya riya dalam beramal. Jadi bagaimana, Mbak?”
Betul, jebakan branding memang riya, obsesi pribadi, merasa sakit hati jika tidak diposisikan di depan, merasa ingin selalu tampil terdepan, ya sangat rentan dengan NPD pada akhirnya.
Namun, ada hal yang perlu diingat soal meluruskan tujuan branding. Apakah orang-orang yang bertakwa tidak boleh membangun branding? Tentu saja boleh, dengan memahami tujuan dan caranya yang arif dan bijak.
Dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 158 Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Navi dan ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”
Ayat di atas adalah perintah Allah SWT agar Rasulullah mengumumkan dirinya sebagai seorang rasul dengan tugasnya di muka bumi. Mengumumkan adanya kebaikan dalam diri Rasul sesuatu yang bisa diikuti dan bermanfaat bagi ummat manusia.
Maka dalam konteks yang hampir sama, seseorang boleh saja mengumumkan dirinya kepada khalayak memiliki sesuatu kebaikan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Misal Anda seorang penulis, maka umumkanlah diri Anda sebagai penulis kepada khalayak, agar orang-orang yang ingin belajar menulis untuk kebaikan itu bisa datang kepada Anda untuk belajar.
Namun, tujuan dari semua itu semata-mata untuk melayani masyarakat, mengajak kepada kebaikan, menjauhkan diri dari tujuan-tujuan individu yang pragmatis.
Pada posisi itu betapa mulianya proses mengumumkan atau mensyiarkan kebaikan. Proses branding untuk memberikan petunjuk kepada masyarakat yang membutuhkan kebaikan yang Anda miliki. Jika tidak disyiarkan tentang kebaikan yang Anda miliki, mungkin saja orang tidak tahu, orang akan terhambat untuk mendapatkan kebaikan.
Menjaga keikhlasan dalam menjalankan branding memang tidak mudah. Senantiasa sadar bahwa potensi apapun yang Allah SWT berikan kepada kita, semua itu amanah dari Allah yang harus kita pertanggung jawabkan nantinya. Semakin kita mengumumkan siapa diri kita, maka sebagai besar tanggung jawab kebaikan yang harus kita sampaikan kepada orang lain. Semakin kita harus intensif menjaga niat semata-mata hanya karena Allah SWT.
Wallahu a’lam
De Daikos, 9 Mei 2025